Kecoak Laut Raksasa Pertama Ditemukan di Laut Dalam Indonesia

Reading time: 3 menit
Kecoak Laut
Kecoak Laut. Foto: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Jakarta (Greeners) – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan biota laut berjenis kecoak raksasa pertama dari laut Indonesia. Lokasi penemuan berada di Selat Sunda dan selatan Pulau Jawa di kedalaman 957 hingga 1.259 meter di bawah permukaan laut. Penemuan jenis baru krustase ini dinilai menjadi capaian penting di bidang ilmu taksonomi.

Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Conni Margaretha Sidabalok mengatakan istilah raksasa karena mengacu pada ukuran tubuh yang termasuk dalam kategori besar (giant) dan sangat besar (super giant). Ukurannya dapat mencapai di atas 15 sentimeter pada saat usia dewasa.

Baca juga: KIARA: Reklamasi Ancol Bukan untuk Mencegah Banjir

Conni mengatakan penelitian terdahulu telah menemukan lima jenis Bathynomus berkategori super giant di Samudera Hindia dan Pasifik. Penemuan pertama dari laut dalam Indonesia ini sangat penting bagi riset taksonomi krustasea laut dalam, sebab, riset sejenis langka di Indonesia. Bathynomus sendiri merupakan salah satu ikon krustasea laut dalam dengan ukuran relatif besar dan bentuk tubuh yang khas.

“Untuk jenis kecoak raksasa biasanya dia menghuni laut dalam di Samudera Atlantik, Pasifik, dan India. Beberapa spesies mencapai ukuran besar lebih dari 30 sentimeter. Jadi, yang kita temukan ini ukurannya memang sangat besar dan menduduki posisi kedua terbesar dari genus Bathynomus,” ujar Conni pada rilis resmi, Selasa, (14/07/2020).

Kecoak Laut

Foto: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Ia menjelaskan spesies ini memiliki tubuh pipih dan keras walaupun tidak memiliki cangkang keras yang melindungi organ dalam tubuh. Matanya berukuran besar, pipih, dan memiliki jarak cukup lebar di antara keduanya. Organ di bagian kepala adalah sepasang antena panjang, antena pendek di ujung kepala, serta mulut dan anggota tubuh yang bermodifikasi untuk alat makan di segmen bagian bawah kepala. Bathynomus memiliki tujuh pasang kaki jalan dan lima pasang kaki renang.

Identifikasi Bathynomus raksasa dilakukan dari holotype jantan berukuran 363 milimeter dan paratype betina berukuran 298 milimeter. “Secara umum, Bathynomus raksasa paling mirip dengan Bathynomus giganteus dan Bathynomus lowryi dalam rentang ukuran dan karakter di bagian ekor atau pleotelson. Perbedaan dengan dua jenis tersebut terdapat pada karakter antena, organ ujung kepala, tekstur permukaan, duri ekor, dan beberapa karakter lain.

Baca juga: Polusi Udara Akibatkan Kerugian Ekonomi Hingga Puluhan Triliun Per Tahun

Spesimen kecoak raksasa ini merupakan koleksi dari kegiatan ekspedisi South Java Deep Sea Biodiversity Expedition (SJADES) antara LIPI dan National University of Singapore pada 2018 dengan koordinator penelitian Dwi Listyo Rahayu dan Peter Ng. Penemuan jenis baru Bathynomus raksasa ini telah dipublikasikan pada jurnal ZooKeys tanggal 8 Juli 2020.

Conni menuturkan ekspedisi SJADES juga memperoleh empat spesimen Bathynomus pra-dewasa dan muda dari perairan Selat Sunda dan selatan Jawa. Namun, spesimen tersebut tidak dapat didentifikasi ke tingkat jenis karena karakter diagnostiknya belum berkembang pada tahap pra-dewasa atau lebih muda. Kecoak tersebut juga bukan Bathynomus raksasa karena ada perbedaan bentuk ekor, ekor samping, dan duri ekor.

Penemuan Penting di Bidang Ilmu Taksonomi

Pelaksana Tugas Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cahyo Rahmadi mengatakan penemuan jenis baru Bathynomus raksasa ini menjadi capaian penting dalam bidang ilmu taksonomi yang relatif sepi peminat. Menurutnya penemuan suatu jenis baru merupakan capaian besar seorang taksonomis apalagi jenisnya spektakuler dari sisi ukuran bahkan ekosistem.

“Penemuan jenis baru ini mengingatkan kita betapa besar potensi keanekaragaman hayati Indonesia yang belum terungkap. Masa depan pengungkapan keanekaragaman hayati Indonesia berkejaran dengan laju kepunahan jenis dan mungkin juga taksonom sebagai garda terdepan,” ujarnya.

Penulis: Dewi Purningsih

Top