Kenaikan Suhu Laut Ancam Kematian Massal Ikan

Reading time: 2 menit
Ilustrasi kematian massal ikan di perairan. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Kematian ribuan ikan mati dan terdampar di Pantai Bryan dekat muara Sungai Brazos, Texas, Amerika Serikat mengingatkan dunia ada yang tidak beres dengan kondisi lautan. Beragam spekulasi muncul, salah satunya kenaikan suhu dampak pemanasan global.

Dari temuan sementara, ribuan ikan mati karena kekurangan oksigen saat mereka berenang di perairan dangkal di musim panas.

Pemerhati Lingkungan dari Universitas Indonesia Mahawan Karuniasa mengungkapkan, otoritas setempat menyampaikan penyebab utama kematian ribuan ikan karena oksigen terlarut. Hal ini bagian dari suhu laut yang meningkat dan lebih panas.

“Yang perlu kita cermati, oksigen terlarut tidak hanya dibutuhkan ikan, tetapi juga organisme lain di laut,” katanya kepada Greeners, di Jakarta, Senin (19/6).

Sementara itu, perubahan kondisi ekosistem laut bisa terjadi karena aktivitas manusia seperti pencemaran atau faktor perubahan iklim. Ia menambahkan, perubahan kondisi ekosistem laut juga akan mengubah perilaku hewan, dan habitatnya.

“Ikan-ikan akan bermigrasi, jalurnya pun berubah. Akhirnya ikan akan mati akibat keracunan dan kekurangan oksigen,” ucap Mahawan.

Kematian Massal Ikan juga Terjadi di Indonesia

Banyak ilmuwan khawatir suhu laut meningkat lebih cepat dari biasanya. Implikasinya banyak. Pemanasan global dengan ditandai kenaikan permukaan air laut berdampak pada seluruh kehidupan masyarakat seluruh dunia yang dekat dengan wilayah pantai. Ini terjadi juga di Indonesia.

“Terjadinya penurunan permukaan tanahjuga memperburuk dampak kenaikan air laut,” imbuhnya.

Belum lagi keasaman laut juga mengalami peningkatan. Hal ini membuat pH laut rendah dan berdampak pada rantai dasar makanan di laut.

Banyak kejadian yang telah terjadi di Indonesia pada ekosistem laut maupun perairan air tawar. Misalnya pada tahun 2021 di Teluk Jakarta terjadi keracunan ikan. Tahun 2022 di Sungai Brantas, Jawa Timur. Lalu tahun 2023 terjadi di Danau Maninjau, ikan diduga kekurangan oksigen dan ada perubahan arus air.

Badan Meteorologi Dunia menyebut, tahun 2023-2027 kenaikan suhu menembus 1,5 derajat Celcius. Bahkan ilmuwan memperkirakan lebih dari kisaran itu. Kondisi tersebut akan berdampak ke dalam kehidupan manusia.

“Air, pangan dan produktivitas pertanian akan menurun. Perilaku alam juga akan berubah dan berdampak serius,” tandasnya.

Mahawan menegaskan perlunya mitigasi dari sektor energi dengan mengurangi penggunaan energi fosil karena masih menyumbang emisi.

Sementara itu untuk adaptasi, perlu penyiapan dana bagi petani dan nelayan untuk memperkuat resiliensi atau ketahanan masyarakat menghadapi kondisi yang buruk.

Gelombang panas mengancam ekosistem laut. Foto: Freepik

Ancaman Kenaikan Suhu

Menurut laporan National Aeronautics and Space Administration (NASA), pada tahun 2022 suhu permukaan bumi naik 0,89 derajat Celcius dibanding suhu rata-rata tahunan periode 1951-1980.

International Union for Conservation of Nature (IUCN) sejak November 2017 juga menyatakan, dengan adanya kenaikan suhu akan berisiko terhadap ekosistem laut. Termasuk pada kematian yang tinggi, hilangnya tempat berkembang biak, dan migrasi massal spesies untuk mencari kondisi lingkungan yang menguntungkan.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Top