Menilik Ketimpangan di Balik Fenomena Upwelling saat El Nino

Reading time: 2 menit
Menilik ketimpangan di balik fenomena upwelling saat El Nino. Foto: Dini J. Wardani
Menilik ketimpangan di balik fenomena upwelling saat El Nino. Foto: Dini J. Wardani

Jakarta (Greeners) – Berdasarkan kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), El Nino dapat memicu upwelling yang berpotensi meningkatkan produktivitas perikanan. Namun, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengingatkan bahwa kondisi tersebut juga berkaitan dengan krisis sosial dan ekologis di wilayah pesisir serta kepulauan.

Pengkampanye Perlindungan Pesisir dan Laut Walhi, Mida Saragih mengatakan bahwa dalam perspektif keadilan kelautan (blue justice), yang perlu diperhatikan bukan sekadar meningkatnya jumlah ikan, tetapi juga siapa yang dapat mengakses sumber daya tersebut, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang justru tersingkir.

“Kita tidak boleh terjebak pada anggapan bahwa laut akan otomatis menjadi penyelamat krisis pangan akibat El Nino. Tanpa tata kelola yang adil, fenomena ini justru berpotensi mendorong perampasan ruang hidup,” kata Mida dalam keterangan tertulisnya, Senin (18/5).

El Nino dapat memperkuat fenomena upwelling di wilayah selatan Jawa hingga barat Sumatra, yaitu penguatan upwelling berdampak pada meningkatnya suplai nutrien ke permukaan laut, dan mendorong pertumbuhan fitoplankton sebagai dasar rantai makanan laut. Hal ini dapat meningkatkan produktivitas perairan dan potensi sumber daya ikan.

Namun, kata Mida, masyarakat pesisir tidak otomatis menikmati peningkatan ini. Dalam praktiknya, armada industri yang memiliki teknologi, modal, dan izin lebih mudah mengakses wilayah penangkapan ikan. Sementara itu, ruang hidup masyarakat pesisir semakin tertekan akibat ekspansi berbagai industri berbasis sumber daya alam.

Mida meminta pemerintah untuk menerbitkan rencana tapak untuk penyelamatan wilayah kepulauan. Sebab, secara pesisir dan pulau kecil memiliki kerentanan ditandai dengan pasokan air dan bahan pangan terbatas.

“Kerentanan ini sering diperparah oleh solusi semu, seperti proyek geotermal di kawasan konservasi atau revitalisasi perikanan yang justru merusak mangrove,” kata Mida.

Cuaca Lebih Panas

Sementara itu, berdasarkan pantauan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan BRIN, El Nino juga bisa menyebabkan cuaca menjadi lebih panas dan kering. Namun, menurut Mida akar utama bencana ekologis ini juga tidak terlepas dari eksploitasi sumber daya alam yang terus berlangsung atas nama pembangunan. Dampaknya dapat memperburuk kondisi yang sudah rentan tersebut.

Prakiraan terbaru menunjukkan bahwa El Nino berpotensi memperparah kekeringan, sehingga meningkatkan risiko gagal panen dan krisis air. Hal ini memicu kekhawatiran akan kenaikan suhu global hingga mencapai rekor baru, dengan dampak kemanusiaan yang signifikan.

Saat ini, suhu permukaan laut di Pasifik sudah naik sekitar 0,5°C di atas normal, ini menjadi tanda awal El Nino. Dalam beberapa bulan ke depan, fenomena ini akan menguat dan berpotensi menjadi “super El Nino”.

NOAA memperkirakan peluang kemunculannya mencapai 82% pada Mei–Juli 2026 dan 96% untuk berlanjut hingga awal 2027. Sejumlah model iklim global (NOAA, BoM, ECMWF) menunjukkan tren yang sama, dengan potensi kenaikan suhu lebih dari 1,5°C (kategori kuat), bahkan bisa melampaui 2–3°C. Jika ini terjadi, El Nino dapat mendorong tahun 2027 menjadi tahun terpanas dalam sejarah.

Dampak dari El Nino kuat yakni potensi pemanasan tambahan di Pasifik Timur akan meningkatkan suhu rata-rata global. Kemungkinan besar dunia akan mengalami suhu global tertinggi tahun depan. Di Indonesia, telah diidentifikasi peluang kekeringan yang dapat menurunkan produksi pertanian dan cadangan pangan.

“Kini, konsensus dari lembaga-lembaga iklim mengarah pada urgensi kesiapan menghadapi Super El Niño. Penghentian laju kerusakan, termasuk di kawasan rentan bencana, adalah syarat kesiapsiagaan.

Ia menegaskan bahwa strategi tingkat tapak seperti penyelamatan ekosistem mencakup mangrove, lamun, dan terumbu karang perlu digarap serius. Hal ini jga harus diintegrasikan dan dijamin implementasinya lewat aturan daerah.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top