Riset: 130kg Sampah Medis Bocor ke Teluk Jakarta Setiap Hari

Reading time: 2 menit
sampah medis bocor di sungai cilincing
Riset: 130kg Sampah Medis Bocor ke Teluk Jakarta Setiap Hari. Foto: Sungai Cilincing, Jakarta. Shutterstock.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Oseanografi merilis hasil monitoring sampah APD semasa pandemi. Riset ini terbit dalam jurnal Chemosphere berjudul “Unprecedented plastic-made Personal Protective Equipment (PPE) debris in river outlets into Jakarta Bay during COVID-19 pandemic”. Hasil riset menyimpulkan sampah medis di muara sungai menuju Teluk Jakarta semasa pandemi Covid-19 mengalami peningkatan.

Jakarta (Greeners) – Riset oleh Muhammad Reza Cordova, Intan Suci Nurhati, Marindah Yulia Iswari dengan Prof. Etty Riani (Institut Pertanian Bogor) dan Dr. Nurhasanah (Universitas Terbuka) ini berhasil mengidentifikasi 7 tipe dan 19 kategori sampah. Sampah tersebut menuju Teluk Jakarta melalui Sungai Marunda dan Cilincing di bulan Maret dan April 2020.

Reza yang juga Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, menjelaskan plastik mendominasi sampah di muara sungai sebanyak 46-57 persen dari total sampah yang mereka temukan.

Jumlah sampah, lanjut Reza, secara umum sedikit meningkat, tepatnya sebesar lima persen. Namun, para periset menemukan sampah yang terkumpul mengalami penurunan berat sebesar 23-28 persen.

Hal ini, tutur Reza, menguatkan indikasi perubahan komposisi sampah semasa pandemi, yaitu meningkatnya sampah berbahan plastik yang relatif lebih ringan.

Selama Pandemi, Temuan Sampah Medis Semakin Beragam

Lebih jauh, Reza menyebut riset monitoring sampah di muara sungai ini mencatat kehadiran sampah Alat Pelindung Diri (APD). APD yang mereka temukan termasuk sampah masker medis, sarung tangan, pakaian hazmat, pelindung wajah, dan jas hujan. Jenis sampah ini sangat mencolok ketimbang sebelum pandemi.

“Sampah APD tersebut menyumbang 15-16 persen dari sampah di kedua muara sungai, yaitu sebanyak 780 item atau 0,13 ton atau 130 kg per harinya,” terangnya kepada Greeners, Kamis, (31/12/2020).

Dengan penemuan ini, sambung Reza, menunjukkan sampah medis di outlet sungai lebih beragam selama pandemi. Sampah medis yang biasa masuk sungai sebelum pandemi, lanjutnya, seperti pembungkus medis dan alat kontrasepsi.

sungai cilincing

Temuan sampah medis berupa APD sangat mencolok ketimbang sebelum masa pandemi. Foto: Sungai Cilincing, Jakarta. Shutterstock.

Baca juga: Pemerintah Tempuh Lima Jalur untuk Amankan Kebutuhan Vaksin Covid-19

Periset Imbau Masyarakat Jaga Kesehatan Lingkungan

Reza dan tim berharap, temuan peningkatan sampah APD di lingkungan menjadi sebuah peringatan keras. Temuan ini, lanjutnya, harus mendorong perbaikan pengelolaan sampah medis yang bersumber dari rumah tangga.

“Sampah APD meningkatkan beban pencemaran. Tidak menutup kemungkinan sampah tersebut menjadi tempat ‘penempelan’ mikroorganisme patogen dan bahan berbahaya bagi ekosistem perairan, serta melepas bahan aditif lainnya” jelas Reza.

Menggema Reza, periset lainnya dalam studi ini, Intan Suci Nurhati, menjelaskan hasil riset ini bertujuan mengajak masyarakat berperan dalam menjaga kesehatan lingkungan. Hal ini mengingat kondisi pandemi Covid-19 yang berkepanjangan.

“Menjaga kesehatan lingkungan, diri, dan keluarga sangat baik untuk dijadikan salah satu resolusi kita di tahun 2021,” ujarnya.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Ixora Devi

Top
You cannot copy content of this page