Tim Peneliti Temukan Spesies-Spesies Baru Di Pegunungan Foja Papua

Reading time: 3 menit
Tim ekspedisi menemukan spesies-spesies baru di pegunungan Foja, "the lost world", di provinsi Papua. Inilah bagian dari peringatan tahun keanekaragaman hayati ...

(greenersmagz.com)Conservation International (CI) dan the National Geographic Society mengumumkan sebuah ekspedisi ilmiah ke alam bebas yang masih terisolir, yang pernah dijuluki sebagai “the lost world”oleh media massa barat, berhasil mengungkapkan keanekaan ragam yang menakjubkan dari spesies-spesies yang spektakuler. Banyak pula dari penemuan hasil ekspedisi itu diakui sebagai sesuatu yang baru bagi ilmu pengetahuan.

Berbagai penemuan spesies baru diungkapkan oleh tim kolaborasi ilmuwan, yang berasal dari dalam dan luar negeri, yang berperan-serta dalam Conservation International’s Rapid Assessment Program (RAP), yang mengeksplorasi Pegunungan Foja yang terpencil di Pulau Guinea Baru pada akhir tahun 2008.

Pegunungan Foja terletak di Provinsi Papua, Indonesia, Luasnya lebih dari 300,000 hektar dengan hutan hujan yang masih perawan. Kesehatan dan biodiversitas dari bentang alam bebas ini menyediakan simpanan karbon kritis bagi planet bumi, sama pentingnya dengan jasa-jasa ekosistem bagi berbagai masyarakat yang hidupnya bergantung dari hutan karena sumber daya alamnya.

Dalam ekspedisi, para ahli biologi  bertahan menghadapi hujan badai dan banjir bandang yang mengancam hidup mereka sambil terus melacak spesies-spesies, mulai dari bukit rendah di Desa Kwerba sampai ke puncaknya pada kisaran 2.200 meter (7.200 kaki).

Tim ekspedisi ini melaporkan penemuan-penemuan dengan tercatat yang meliputi katak aneh berhidung duri; seekor tikus berbulu yang ukurannya terlalu besar tetapi jinak; seekor tokek bermata kuning berjari bengkok seperti gargoyle, mahluk angker;seekor merpati kaisar; seekor walabi hutan yang mungil – anggota kangguru paling kecil dari keluarga kangguru  yang pernah didokumentasikan di dunia.

Jatna Supriatna PhD,Wakil Presiden Regional CI-Indonesia mengatakan:  “Sekarang kita dapat menunjukkan berapa banyak bentuk spesies unik yang hanya hidup di hutan-hutan pegunungan ini, yang memudahkan kita untuk membuat contoh kasus, bahwa di dunia sana perlu mencatat dan harus betul-betul pasti sehingga hutan-hutan yang luar biasa ini dilestarikan demi kesejahteraan masyarakat setempat di dalam dan sekitar hutan serta bagi mereka di luar sana”.

Seekor katak (Litoria sp. nov.), yang diamati memiliki benjolan panjang pada hidung seperti Pinokio yang menunjuk ke atas bila ada ajakan dari jenis jantan dan mengempis dan mengarah ke bawah bila aktifitasnya berkurang, mewakili temuan dengan kecirikhasan yang khusus yang membuat para ilmuwan tertarik mendokumentasikannya dan selanjutnya mempelajarinya.

Penemuan ini merupakan suatu kebetulan yang menyenangkan, setelah seorang herpetologis, Paulus Oliver, melihatnya duduk di kantong beras di tempat perkemahan.

Temuan-temuan lainnya antara lain: seekor kelelawar kembang baru (Syconycteris sp. nov) yang memakan sari bunga dari hutan hujan, seekor tikus pohon kecil (Pogonomys sp. nov.), seekor kupu-kupu hitam dan putih (Ideopsis fojana), dan semak belukar berbunga yang baru (Ardisia hymenandroides).

Kejutan besar dari ekspedisi itu adalah saat seorang ornitologis, Neville Kemp, melihat sepasang merpati kaisar yang baru (Ducula sp. nov.) dengan bulu-bulu yang terlihat berkarat, agak putih, dan abu-abu. Burung Merpati Kaisar yang menjadi primadona itu terlihat setidaknya empat kali oleh para ilmuwan, namun selama ini diabaikan pada survei-survei sebelumnya, yang dapt diartikan bahwa populasinya sangat rendah.

“Para peneliti LIPI merasa sangat bersyukur turut terlibat dalam pengungkapan keanekaan ragam hayati kawasan Pegunungan Foja, Mamberamo. Adanya kerjasama penelitian dengan Conservation International, Smithsonian Institution dan The National Geographic Society ini jelas mendukung program-program konservasi pada kawasan yang memiliki biodiversitas sangat tinggi. Bahkan beberapa fauna, di antaranya mamalia dan burung masuk dalam daftar perlindungan Undang-Undang RI,” ungkap Hari Sutrisno, atas nama Ketua Tim Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI.

CI berharap dokumentasi keanekaragaman hayati tersebut akan mendorong pemerintah Indonesia untuk meningkatkan perlindungan jangka panjang atas spesies langka dan endemik.

Gubernur Papua, Barnabas Suebu SH, mengingatkan, “Kami sepakat dan sangat mendukung agar wilayah-wilayah ber-biodiversitas sangat tinggi di Provinsi Papua perlu dipertahankan. Banyak spesies endemik di wilayah kami yang sulit diakses dan masih terisolasi, yang tidak terdapat di belahan dunia lain yang perlu dikonservasi”, tambahnya mengacu pada konverensi Biodiversitas Internasional yang diselenggarakan enam bulan yang lalu di Jayapura.

Laporan terakhir menunjukkan bahwa pemerintah-pemerintah di dunia gagal memenuhi sasaran yang disepakati untuk tahun 2002 dalam mengurangi laju kepunahan biodiversitas pada tahun 2010, yang telah dideklarasikan PBB sebagai Tahun Biodiversitas se-Dunia. Pada Oktober mendatang, masyarakat internasional akan berkumpul di Jepang membicarakan target baru untuk empat puluh tahun mendatang.(ri)

Top
You cannot copy content of this page