Yuk, Kurangi Sampah Elektronik dengan Tips Berikut!

Reading time: 2 menit
Sampah elektronik melaju pesat seiring perkembangan teknologi. Foto: Shutterstock

Saat ini teknologi menjadi bagian yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Bagaimana tidak, semua perangkat teknologi terutama yang terhubung dengan internet, memiliki peran vital bagi kegiatan sehari-hari kita, seperti bekerja, menghubungi orang, hingga hiburan.

Namun ternyata, semua elektronik ataupun gawai yang kita miliki mempunyai tingkat ancaman yang besar bagi lingkungan. Sebagian besar elektronik mengandung bahan seperti plastik yang berasal dari bahan bakar fosil, besi, alumunium, seng, timah, tembaga, dan timah.

Untuk menghasilkan bahan tersebut, perlu dilakukan penambangan yang menyebabkan dampak buruk bagi lingkungan. Pertambangan sendiri merupakan kegiatan yang mengarah pada deforestasi serta polusi air, tanah, dan udara. Sehingga hal ini berkontribusi besar terhadap pemanasan global.

Selain itu, menurut PBB, sampah elektronik merupakan aliran sampah domestik yang tumbuh paling cepat. Pada tahun 2019 sebanyak 53,6 juta ton sampah elektronik dibuang dari seluruh dunia. Diperkirakan apabila konsumsi teknologi masih tinggi, hal ini akan terus bertambah mencapai 74 juta ton pada tahun 2030.

Karena sifatnya yang berbahaya, sampah elektronik juga tidak boleh kamu buang sembarangan Sobat Greeners! Mereka mengandung zat beracun termasuk logam berat, yang dapat membuat tanah terkontaminasi.

Sebagai konsumen, terdapat beberapa hal yang bisa kita lakukan pada kegiatan sehari-hari untuk mengurangi sampah dan dampak lingkungan dari elektronik, sebagai berikut.

1. Perpanjang Masa Pakai

Hal pertama yang bisa Sobat Greeners lakukan yakni menggunakan satu gawai sampai rusak atau hingga tidak bisa diperbaiki kembali. Agar gawai tersebut dapat memiliki masa pakai yang lama, cobalah untuk merawatnya dengan baik. Seperti memakai gawai dengan disiplin ataupun memberikan casing dan kaca anti gores yang kokoh untuk melindungi ponsel genggam yang kamu miliki.

2. Perbaiki Sebelum Mengganti yang Baru

Perangkat teknologi seringkali mengalami beberapa kendala dalam pemakaian. Jika Sobat Greeners mengalami hal ini, maka jangan terlalu buru-buru untuk menggantinya. Pastikan untuk memperbaikinya terlebih dahulu. Namun apabila perangkat tersebut sudah tidak bisa digunakan, maka kamu bisa mencari tempat daur ulang elektronik.

3. Menjual Kembali atau Menyumbangkan Perangkat yang Tidak Terpakai

Sudah menjadi rahasia umum bahwa produsen teknologi memiliki strategi untuk meningkatkan konsumerisme konsumen dengan meluncurkan model baru yang lebih baik setiap tahun. Hal tersebut sebagai jaminan bahwa konsumen akan terus membeli pengganti baru untuk produk mereka.

Ketika Sobat Greeners membutuhkan produk baru secara mendesak, maka kamu bisa menjual kembali perangkat yang lebih dulu kamu gunakan. Seperti transaksi tukar tambah, menghibahkannya kepada keluarga, atau menjualnya dengan sistem preloved. Agar perangkat yang kamu gunakan sebelumnya tidak menjadi sampah dan tetap berguna.

4. Coba untuk Tidak Mengikuti Trend

Ketika produk teknologi terbaru rilis, maka pasti terdapat keinginan untuk membelinya. Namun, melihat kondisi bumi yang sedang memerangi dampak krisis iklim pada saat ini, ada baiknya kamu menahan hasrat tersebut. Selain dapat mengurangi sikap konsumerisme, kamu juga bisa menyelamatkan lingkungan dengan mengurangi penggunaan teknologi.

5. Membeli Produk Elektronik yang Ramah Lingkungan

Selain beberapa tips di atas, Sobat Greeners juga bisa membeli produk elektronik yang ramah lingkungan. Perangkat ramah lingkungan ini bisa kamu temukan dengan menggunakan label Energy Star atau sertifikasi oleh Electronic Product Environmental Assessment Tool (EPEAT).

Jangan khawatir, produk yang memiliki sertifikasi EPEAT telah memiliki semua kriteria yang bertanggung jawab pada lingkungan juga sosial. Dari pemilihan bahan, visi mengurangi emisi gas rumah kaca, desain sirkularitas dan umur panjang produk, konservasi energi, dan manajemen akhir masa pakai.

Penulis: Zahra Shafira

Sumber:

Sustainably Chic

Top

You cannot copy content of this page