Meniti Kisah Konservasi di Jalur Trans Papua

Reading time: 5 menit
jalur trans papua

Juzak Johanis Sundoy, pemerhati lingkungan di Sausapor. Foto: greeners.co/Hermitianta Prasetya Putra

Membangun Keselarasan

Usai pertemuan dengan Paul, saya melanjutkan perjalanan. Lima hari saya memulihkan tenaga di Sausapor. Tiga hari saya habiskan waktu untuk mengikuti aktivitas Juzak Johanis Sundoy (49), pemerhati lingkungan di Sausapor. Sebagai Sekretaris bakal Klasis Abun, Anis, begitu ia kerap disapa, memberikan sudut pandang baru tentang pendekatan pengenalan ekowisata kepada masyarakat pedalaman. Keselarasan antara kepentingan, kewajiban, dan kebutuhan adalah sesuatu yang mungkin dilakukan.

Di saat bersamaan beribadah kepada Tuhan, menjaga lingkungan, juga sekaligus menjamin bergulirnya roda perekonomian kerakyatan. “Jangan cari uang besar. Cari uang kecil saja tapi manfaatnya besar,” tegasnya padaku di sela-sela bincang santai di kediamannya di Kampung Sauoryan, Sausapor.

Sebagai perwakilan institusi keagamaan, ia menyempatkan berbicara di Gereja Kristen Injili (GKI) Immanuel Syukwes Distrik Tobouw dalam ibadah Jumat Agung (30/3). “Satwa di sekitar kampung adalah sahabat. Burung-burung adalah para pemberi kabar tentang aktivitas lingkungan. Ko bantu mereka, besok mereka akan selalu bantu ko. Para ‘sniper-sniper’ itu jang ko tembak burung-burung. Kitorang harus mencintai sesama ciptaan Tuhan,” katanya.

Pada awalnya saya tidak berharap akan bertemu orang-orang dengan pemikiran-pemikiran yang mengesankan. Namun, satu kiriman seorang aktivis perubahan iklim dari Malaysia mengingatkan saya bahwa masing-masing kita selalu mengundang hal-hal yang siap kita hadapi. Law of attraction, orang bilang begitu.

Minggu (1/4) sore saya tiba di Kota Sorong setelah menempuh perjalanan 145 km dari Sausapor dalam 5 jam. Total panjang jalan yang saya lalui dengan rute Teminabuan – Kumurkek – Manokwari – Fef – Sausapor – Kota Sorong menjadi 968 km.

Perjalanan 1.000 km Trans Papua saya mulai tanpa ekspektasi, dan semesta memberi kejutan tanpa henti. Beberapa kali Anis Sundoy meyakinkan saya, “kamu beruntung dapat kesempatan begini.” Lalu saya tersenyum, jiwa ini segar kembali.

*) Para-para : sebutan orang Papua untuk gubuk kayu kecil di atas pohon.

Penulis: Hermitianta Prasetya Putra

Komentar ditutup.

Top