Emisi Metana di TPA Naik 20 Kali Lipat saat Musim Kemarau

Reading time: 3 menit
Emisi Metana di TPA Naik 20 Kali Lipat saat Musim Kemarau. / Foto : Dietplastik Indonesia

Jakarta (Greeners) – Ketika musim kemarau datang, emisi gas metana dari timbunan sampah di tempat pemrosesan akhir (TPA) cenderung meningkat. Kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko kebakaran di TPA.

Temuan itu terlihat dari pengukuran emisi metana di tiga tempat pemrosesan akhir (TPA) di Indonesia melalui proyek Methane Emission Reduction Initiative for Transparency (MERIT).

Metana merupakan gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan global jauh lebih besar daripada karbon dioksida dalam periode 100 tahun. Secara global, sektor sampah menjadi salah satu sumber emisi metana antropogenik, dengan kontribusi sekitar 18 persen.

Dalam proyek MERIT, peneliti mengukur emisi metana di TPST Bantar Gebang, TPA Suwung, dan TPPAS Sarimukti. Pengukuran menggunakan sejumlah pendekatan, mulai dari data satelit, data komposisi sampah, hingga sensor Closed Flux Chamber (CFC). Tujuan pengukuran tersebut untuk melihat perbedaan emisi pada kondisi musim yang berbeda.

Tenaga Ahli Proyek MERIT, Didin Agustian Permadi, mengatakan proses anaerobik di dalam timbunan sampah pada musim kemarau menghasilkan fluks metana yang lebih tinggi berdasarkan hasil pengukuran.

“Namun, data ini perlu dikembangkan oleh pemerintah daerah dengan pemetaan risiko agar tidak terjadi kebakaran TPA yang berulang,” kata Didin dalam MERIT Conference 2026, Selasa (22/9).

Di TPPAS Sarimukti, misalnya, pengukuran menunjukkan fluks metana cukup tinggi pada zona baru. Sementara itu, di TPA Suwung, fluks metana yang tinggi terukur pada zona aktif B dan C.

Temuan lain muncul ketika hasil pengukuran dibandingkan berdasarkan musim. Pengukuran pada 2024 berlangsung saat musim basah, sedangkan pengukuran pada 2026 berlangsung ketika kondisi lebih kering akibat El Nino. Hasil sementara menunjukkan peningkatan fluks metana lebih dari 20 kali lipat.

Didin mengatakan temuan tersebut diperoleh melalui pengukuran menggunakan flux chamber. Penelitian dan pengukuran emisi tersebut masih terus berlanjut.

Verifikasi Emisi Metana

Besarnya fluks metana yang terukur di sejumlah zona TPA membuat proses verifikasi menjadi penting. Menurut Didin, hasil pengukuran di lapangan perlu dipastikan valid sebelum digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan.

“Jika kami fokus pada tingkat TPA, diperlukan metode verifikasi untuk memastikan bahwa hasil pengukuran yang dilakukan valid dan didukung oleh data-data yang bersifat site-specific,” ujarnya.

Ia mengatakan proses tersebut membutuhkan quality assurance atau penjaminan mutu dari pihak yang tidak terlibat langsung dalam pengukuran emisi metana. Dengan begitu, data hasil pengukuran langsung dapat memperkuat kredibilitas proses pengukuran dan pelaporan.

“Hal ini penting untuk mendorong pembangunan sistem MRV (Measurement, Reporting, and Verification) yang kredibel secara nasional, terutama untuk pengukuran emisi gas metana dari TPA,” ujarnya.

Kurangi Metana dari Sumber

Mengkur emisi di TPA saja belum cukup. Sebab, sumber persoalan sebenarnya telah muncul jauh sebelum sampah mencapai lokasi pembuangan akhir.

Project Lead MERIT Zakiyus Shadicky mengatakan, pengelolaan sampah organik sejak sumber menjadi langkah penting untuk mengurangi emisi metana sektor sampah. Sebab, sampah organik yang masuk ke TPA yang mengalami proses penguraian dalam kondisi tanpa oksigen atau anaerobik akan menghasilkan gas metana.

Karena itu, semakin banyak sampah organik yang dapat terkelola sebelum masuk TPA, semakin besar pula peluang untuk mengurangi pembentukan metana di lokasi pembuangan akhir.

“Persoalan di TPA tidak akan bisa selesai tanpa kita menyelesaikan persoalan sebelumnya. Kalau kita bisa mengurangi atau bahkan menghentikan masuknya sampah organik ke TPA, kita bisa mencegah terjadinya produksi metana di TPA,” ujar Zakiyus.

Namun, persoalannya pemerintah masih menghadapi keterbatasan data mengenai jumlah dan komposisi sampah dari masyarakat. Zakiyus mengatakan sistem informasi pengelolaan sampah di daerah masih kerap bergantung pada faktor konversi. Kondisi tersebut membuat pemerintah belum mengetahui secara akurat jumlah sampah yang masyarakat hasilkan setiap hari.

Begitu pula dengan komposisi sampah organik. Pengukuran yang belum rutin membuat pemerintah belum dapat menghitung potensi emisi metana dari sampah organik secara presisi.

Karena itu, pemerintah perlu mengetahui jumlah dan karakter sampah organik yang dihasilkan masyarakat. Pemerintah juga perlu memantau ke mana sampah tersebut dibawa dan bagaimana sampah itu dikelola.

Berbagai metode pengelolaan, seperti komposting, windrow composting, dan pengolahan menggunakan black soldier fly (BSF), juga perlu memiliki metode pengukuran yang dapat menunjukkan kinerjanya dalam mengurangi emisi.

Teliti Metode Pengolahan

Pendekatan dari hulu tersebut akan menjadi salah satu fokus proyek MERIT pada 2027. Tim akan mengembangkan sistem informasi yang mengintegrasikan data pengelolaan sampah di tingkat sumber dengan sistem informasi kinerja pengelolaan sampah nasional.

Mereka juga akan mengevaluasi berbagai pilihan pengelolaan sampah organik di tingkat rumah tangga maupun komunal, mulai dari home composting, windrow composting, hingga pengolahan dalam skala komunal.

Para peneliti juga ingin mengetahui bagaimana metode pengolahan tersebut memengaruhi produksi metana. Sebab, pengelolaan sampah organik di luar TPA pun tidak serta-merta bebas dari emisi metana.

Tenaga Ahli MERIT, Siti Ainun, mengatakan hasil pengukuran menunjukkan adanya emisi metana pada sejumlah sistem pengolahan sampah organik. Dalam studi kasus yang telah tim MERIT lakukan, lubang kompos menunjukkan fluks metana tertinggi daripada sistem pengolahan organik skala komunal lainnya.

“Banyak faktor yang memengaruhi produksi metana dari pengolahan, mulai dari konstruksi hingga operasionalisasi. Data seperti ini penting agar kebijakan pengurangan emisi tidak hanya berfokus pada lokasi pembuangan akhir, tetapi juga mempertimbangkan kinerja pengolahan sampah di sepanjang rantai pengelolaan,” kata Ainun.

Artinya, praktik pengomposan yang masyarakat lakukan juga bukan berarti sama sekali tidak menghasilkan metana. Jenis metode, konstruksi, hingga cara pengelolaannya dapat memengaruhi besarnya emisi metana dari proses pengomposan.

Karena itu, MERIT akan meneliti lebih lanjut seperti apa praktik pengolahan sampah organik di tingkat rumah tangga maupun komunal yang mampu mengurangi emisi secara optimal.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Top