KLHK Teliti 350 Spesies Baru di Pulau Pejantan

Reading time: 2 menit
pulau pejantan
Ilustrasi: U.S. Departement of Agriculture/ flickr.com

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meneliti ekosistem esensial baru bernama Pulau Pejantan. Kawasan yang belum banyak terjamah oleh manusia ini, diteliti sebagai tindak lanjut arahan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) terkait penemuan sebuah pulau oleh lembaga penelitian asal Jepang yaitu Institute of Critical Zoologist (ICZ) pada tahun 2005-2009.

Kepala Badan Penelitian dan Inovasi, Dr. Henri Bastaman, mengatakan, berdasarkan hasil temuan Tim ICZ, Pulau Pejantan diduga memiliki 350 spesies baru yang belum teridentifikasi. Atas dasar ini, KLHK menurunkan tim ekspedisi untuk meneliti lebih lanjut temuan tersebut. Pulau yang diketahui memiliki luas 927,34 hektare ini terletak di Desa Mantebung, Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini dihuni oleh 12 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah penduduk 40 orang suku Melayu yang berprofesi sebagai nelayan.

“Fasilitas umum di pulau ini masih sangat terbatas, sehingga memerlukan sentuhan pembangunan yang intensif,” ujar Henri seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Sabtu (11/03).

BACA JUGA: Koridor RIMBA Dibutuhkan untuk Penyelamatan Ekosistem Pulau Sumatera

Ketua Tim Ekspedisi Dr. Hendra Gunawan menuturkan bahwa salah satu keunikan kawasan ini adalah ditemukannya ekosistem vegetasi di atas batu granit yang cukup luas dan memiliki mata air yang mengalir. Di sana, katanya, terdapat enam jenis ekosistem khas di Pulau Pejantan, yaitu ekosistem mangrove, hutan pantai, hutan hujan dataran rendah, vegetasi yang tumbuh di batu granit, ekosistem goa batu granit, dan ekosistem terumbu karang.

“Pada masing-masing ekosistem juga ditemukan flora dan fauna endemik yang belum dapat teridentifikasi seluruhnya dan diduga merupakan spesies baru, seperti biawak, tupai tiga warna, burung kuau kerdil, kalong, kantong semar, anggrek, dan masih banyak lagi. Hal menarik lainnya adalah pulau ini juga merupakan habitat bertelurnya dari satwa langka penyu sisik dan penyu pipih, sehingga kawasan ini bernilai penting untuk dilakukan konservasi,” kata Hendra.

BACA JUGA: Keanekaragaman Hayati Indonesia Masih Rentan Pembajakan

Direktur Bina Pengelolaan Eksosistem Esensial, Ir. Antung Deddy R., MP,menyatakan, peluang Pulau Pejantan sangat besar untuk ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Pulau Pejantan, lanjutnya, dapat diusulkan untuk menjadi kawasan Suaka Margasatwa (SM) atau Kawasan Ekosistem Esensial (KEE). Untuk itu diperlukan koordinasi lebih lanjut dengan Pemerintah Daerah dan verifikasi data ilmiah dalam bentuk time series.

“Selain itu, beberapa potensi wisata alam juga dapat dikembangkan di Pulau Pejantan antara lain wisata selam (diving), pemandangan pantai pasir putih, wisata goa dan panjat dinding (rock climbing), wisata susur hutan (jungle tracking), dan pelepasan tukik untuk konservasi satwa penyu,” kata Antung.

Penulis: Danny Kosasih

Top