La Nina Sebabkan Musim Kemarau 2022 Mundur

Reading time: 2 menit
Hujan yang masih turun karena fenomena La Nina membuat musim kemarau mundur di tahun 2022. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Fenomena La Nina yang terjadi di Indonesia menjawab alasan hujan masih turun meski telah memasuki musim kemarau. Dari kondisi itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau tahun 2022 akan mundur.

Fenomena La Nina bisa menjadi salah satu sebab peningkatan curah hujan di Indonesia akhir-akhir ini. BMKG memprakirakan kondisi ENSO dari La Nina lemah berangsur meluruh menuju netral pada Juli hingga September 2022.

Meski La Nina tak menyebabkan kejadian single extreme event secara langsung, tapi BMKG mengingatkan potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Urip Haryoko mengatakan, La Nina sebagai fenomena iklim akan menyediakan background atmosfer yang lebih banyak mengandung uap air karena meningkatnya sirkulasi angin pasat.

“Bila kejadian-kejadian ekstrem tunggal seperti hujan lebat harian ditambah La Nina maka dapat menyebabkan hujan ekstrem. Kondisi ini bisa memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor,” katanya kepada Greeners, Senin (13/6).

Ia juga mengingatkan potensi Madden Julian Oscillation (MJO) dan gelombang atmosfer ekuator (equatorial atmospheric waves). Jika terjadi bersamaan menjadi pemicu hujan-hujan ekstrem terutama pada periode transisi peralihan musim.

Berdasarkan monitoring BMKG hingga awal Juni ini, Indeks ENSO bulan Juni 2022 sebesar -0.85 yang menunjukkan kondisi fenomena La Nina Lemah. “Sesuai prakiraan BMKG, adanya La Nina akan mengakibatkan awal musim kemarau tahun 2022 terlambat atau mundur dari biasanya,” imbuhnya.

28,9 % Wilayah Indonesia Memasuki Musim Kemarau

Lebih jauh Urip menyebut, hingga awal dasarian I Juni ini (sepuluh hari pertama bulan Juni) baru 28,9 % wilayah Indonesia yang memasuki musim kemarau. Beberapa wilayah itu yaitu Aceh bagian dan timur, Sumatera bagian utara, sebagian Riau. Lalu pesisir utara Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur dan Bali.

Selanjutnya sebagian besar NTB, sebagian besar NTT, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah bagian barat dan Sulawesi Utara bagian selatan, Papua Barat bagian utara, serta sebagian Papua.

“Sementara untuk prakiraan curah hujan bulanan dari Juli hingga September 2022 umumnya berada pada kategori rendah – menengah (< 300 mm/bulan). Meski ada beberapa wilayah mengalami hujan dengan intensitas tinggi,” ungkapnya.

Beberapa wilayah dengan intensitas sangat tinggi (> 500 mm/bulan) di antaranya sebagian Banten, sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah dan sebagian Kalimantan Selatan, serta sebagian Papua bagian barat dan tengah.

Sejatinya pada bulan yang sama sifat hujan atas normal (lebih tinggi dari biasanya) akan terjadi pada hampir di seluruh wilayah Indonesia. Kecuali di sebagian Aceh, sebagian Sumatera Utara, sebagian Kalimantan Utara, sebagian Papua Barat dan sebagian Papua.

Usai La Nina Tak Selalu Diikuti El Nino

Urip juga menegaskan, dengan adanya fenomena La Nina tahun ini tak selalu diikuti El Nino pada tahun berikutnya. Begitu juga sebaliknya, El Nino tidak selalu berlanjut dengan adanya La Nina.

Secara statistik, sambung dia perulangan terjadinya El Nino atau La Nina pada periode 1981-2018 mempunyai kecenderungan berulang semakin cepat daripada periode 1950-1980.

“Persentase kejadian La Nina yang diikuti El Nino sebesar 16,7 %. Khusus kejadian El Nino – La Nina -El Nino hanya sebesar 1,5% (pernah terjadi tahun 1963-64-65),” tuturnya.

BMKG terus berupaya melakukan pemutakhiran secara berkala informasi iklim, setiap dasarian. Tujuannya untuk memperbarui perkembangan cuaca terkini maupun peringatan dini cuaca ekstrem.

“Dengan mengetahui perkembangan kondisi dinamika atmosfer-laut terkini, harapannya paling tidak kita memiliki kesiapsiagaan lebih baik. Mengantisipasi kondisi iklim lebih kering dari biasanya yang berasosiasi dengan El Nino. Maupun kondisi lebih banyak hujan daripada biasanya yang berasosiasi dengan kejadian La Nina,” paparnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page