Marjinal dan Perlawanan Terhadap Kapitalis Perusak Alam

Reading time: 2 menit
Band punk Marjinal. Foto: greeners.co/Danny Kosasih.

Lihatlah negeri kita
Yang subur dan kaya raya
Sawah ladang terhampar luas
Tapi lihatlah negeri kita
Alamnya kelam tiada berbintang
Dari derita dan derita menderita…(derita terus)
Sampai kapankah derita ini (au-ah)
Yang kaya darah dan air mata
Yang senantiasa mewarnai bumi pertiwi

Jakarta (Greeners) – Bait diatas merupakan penggalan dari lagu berjudul “Negeri Ngeri” yang menggambarkan keadaan Indonesia, alam dan penguasa yang bertindak seenaknya. Merampas hak atas udara bersih, air dan tanah yang seharusnya membuat rakyat hidup makmur karena kekayaan alam yang dimiliki.

Lagu yang dipopulerkan oleh band punk Marjinal ini seperti memperlihatkan bahwa alam Indonesia telah dikuasai oleh mereka yang berkepentingan, memiliki modal dan uang untuk membeli hak-hak asasi manusia.

Mikail Israfil lebih suka dipanggil Mike Marjinal, karena begitulah dirinya dikenal oleh banyak pengikut Marjinal. Dengan tubuh penuh tato dan gaya rambut eksentrik, dia melawan segala bentuk ketidak adilan yang dilakukan oleh pemerintah dan pemodal kapitalis melalui karya musik bersama komunitas taring babinya.

“Indonesia ini sudah sangat nyaris tidak di perhatikan,” kata Mike saat berbincang ringan bersama Greeners pada pawai iklim massal di Bundaran Hotel Indonesia, pada 21 September lalu.

Mikail Israfil atau akrab disapa Mike Marjinal, saat tampil dalam aksi pawai iklim massal di Bunderan Hotel Indonesia, Minggu (21/09) lalu. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Menurutnya, banyak penduduk bangsa ini telah melupakan hal yang sangat penting akan keselamatan bumi dan itu telah mencapai tahap yang kronis. Jika hal ini terus berlanjut dan tidak diselesaikan, maka bumi tidak akan bertahan.

Mike menyatakan bahwa memang perlu adanya sosialisasi dan kegiatan-kegiatan seperti yang dilakukan oleh Wahana Lingkungan Hidup, Jaringan Advokasi Tambang, dan 350.org untuk mengingatkan kepada semua orang bahwa bumi ini harus diselamatkan.

“Kalau terus begini, pertanyaan besarnya adalah, bisakah bangsa Indonesia terus eksis untuk kedepan lagi?” ujar gitaris yang telah meniti band punk Marjinal sejak tahun 1997.

Menurut Mike, jika bicara tentang alam, khususnya di Indonesia, adalah bicara tentang alam milik para penguasa dan pemodal besar yang tidak pernah puas mengeruk kekayaan alam bumi pertiwi.

“Gila kan? 250 juta atau bahkan lebih orang bangsa ini dikuasai oleh orang kaya dan beberapa puluh orang kaya tersebut mengambil habis kekayaan alam kita,” kata gitaris yang menyukai konsep DIY atau Do it Your self untuk kemandirian punk.

Komunitas Taring Babi. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Marjinal sendiri bernaung dalam komunitas taring babi. Komunitas ini fokus pada pelestarian lingkungan dengan membuat karya sablon berkonsep cukilan kayu. Sedangkan Marjinal merupakan nama dari kegiatan bermusik mereka. Nama ini lahir dari lagu dan syair tentang masyarakat terpinggirkan yang mereka usung.

“Belajar dari babi, mahluk yang rakus. Artinya sama dengan simbol kapitalisme, rakus, dan taringnya itu senjatanya. Dan, senjatanya udah kita gantungin di sini,” Kata Mike sambil memainkan gitar yang saat itu dia pegang.

“Sekaligus mengingatkan kita juga, jangan rakus seperti babi,” katanya.

(G09)

Top
You cannot copy content of this page