calendar
Selasa, 18 Desember 2018
Pencarian
threadapeutic
Foto: threadapeutic.wordpress.com

Threadapeutic Angkat Mode Berkonsep Upcycling

Mode

Jakarta (Greeners) – Menggunakan ulang (reuse) barang bekas adalah salah satu solusi untuk mengurangi masalah timbulan sampah. Dalam proses yang lebih kreatif, barang bekas dapat menjadi kerajinan tangan yang memiliki nilai estetika, bahkan nilai jual. Konsep yang dikenal dengan istilah upcycling ini diterapkan oleh Nagawati Surya, atau akrab disapa Hana, untuk menciptakan berbagai tas cantik, unik sekaligus memberikan dampak positif bagi lingkungan.

“Awalnya saya disuruh membuat suvenir untuk goodie bag orang-orang media. Bahan yang boleh dipakai cuma dari perca kain dan spanduk. Dari bahan-bahan tersebut kita mulai eksperimen. Suvenir yang kami buat untuk acara Indonesia Fashion Week 2015 itu mendapat respon positif dari publik. Berawal dari acara itu bisnis ini terus dilanjutkan, ditambah lagi tujuannya buat lingkungan,” ungkap Hana saat dihubungi Greeners melalui telepon.

Tidak hanya memanfaatkan perca kain dan spanduk bekas, karung kopi pun turut ia manfaatkan. Pemanfaatan material sisa tersebut merupakan salah satu upayanya untuk menyelamatkan lingkungan sekaligus mengubah pola pikir masyarakat agar ikut mendaur ulang sebagai upaya tanggung jawab bersama.

“Bahan karung kopi bekas kami ambil dari karung biji kopi roaster asli yang masih ada capnya sedangkan spanduk diambil dari bekas event yang ada di Jakarta Convention Center (JCC). Untuk kain percanya kami olah lagi hingga tampilannya berubah dari aslinya, bukan sekadar kain perca yang cuma ditambal-tambal saja. Kami juga mengombinasikan perca dengan bahan polos. Biasanya bahan kain polos berasal dari sisa toko-toko konveksi jadi kami enggak beli yang baru,” jelas Hana.

threadapeutic

Koleksi Threadapeutic tampil simpel namun unik dengan teknik jahit “quilting” dan “faux chenille”. Foto: Threadapeutic

Hana mengungkapkan bahwa dirinya tidak menganggap bahan bekas sebagai sampah. “Sisa bahan bekas justru saya anggap semacam material umum. Saya suka untuk mengubah sesuatu yang enggak dipandang orang menjadi sesuatu yang ada nilai ekonomi, branding, dan estetiknya. Dari dulu saya sudah suka hal-hal kayak furnitur bekas, jadi enggak aneh kenapa saya akhirnya benar-benar menekuni bidang ini. Soal dampak lingkungannya yah itu bonus dari apa yang kita kerjakan,” katanya.

Hana sendiri menciptakan merek “Threadapeutic” bukan tanpa alasan. Merek ini menggabungkan kata thread dan therapeutic yang secara bebas dapat diartikan sebagai terapi benang.

Produk Threadapeutic dijahit menggunakan teknik quilting: kain disusun berlapis dan bertumpuk, kemudian dijahit rapat dan digores untuk memperlihatkan gradasi warna dari kain tersebut. Ada juga teknik faux chenille, yaitu menyikat kain sehingga tampak berbulu dan bertekstur. Kedua teknik tersebut lebih banyak dilakukan menggunakan tangan. “Segi desain dan kualitas harus bagus agar bisa menyaingi produk-produk yang ada dipasaran,” kata Hana menambahkan.

Threadapeutic hadir dalam berbagai produk tas, seperti tas tangan, tas selempang, pouch, hingga tas laptop. Modelnya dibuat klasik dan simpel.

Hana mengaku mendapatkan material untuk membuat produk Threadapeutic dari toko konveksi, toko material, kafe dan tempat penyelenggaraan acara. Ia juga mendapat donasi berupa baju dan kain bekas. “Banyak yang memberikan donasi bahan mentah kepada kami seperti baju dan kain. Namun saat ini kami akan membatasi pengiriman donasi tersebut karena kami belum sanggup untuk pegang semuanya,” ujar Hana.

Tidak salah jika berharap Threadapeutic kedepannya dapat menumbuhkan minat penggemar mode Indonesia ke arah mode yang berkelanjutan dan menjadi bagian dari circular economy.

Penulis: Sarah R. Megumi

Top