Sosok - Greeners.Co https://www.greeners.co/sosok-komunitas/category/sosok/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 11 Jul 2025 05:11:09 +0000 id hourly 1 Noer Chanief Menerangi Jalan Desa dengan Angin dan Surya https://www.greeners.co/sosok-komunitas/noer-chanief-menerangi-jalan-desa-dengan-angin-dan-surya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=noer-chanief-menerangi-jalan-desa-dengan-angin-dan-surya https://www.greeners.co/sosok-komunitas/noer-chanief-menerangi-jalan-desa-dengan-angin-dan-surya/#respond Sun, 13 Jul 2025 03:00:36 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=46950 Jakarta (Greeners) – Di tengah kelangkaan listrik yang masih menjadi persoalan di daerah-daerah terpencil, penerangan jalan di desa-desa pun seringkali sulit terwujud. Dari kondisi inilah, Noer Chanief (60) hadir di […]]]>

Jakarta (Greeners) – Di tengah kelangkaan listrik yang masih menjadi persoalan di daerah-daerah terpencil, penerangan jalan di desa-desa pun seringkali sulit terwujud. Dari kondisi inilah, Noer Chanief (60) hadir di tengah kegelapan dengan menciptakan inovasi yang memanfaatkan kekuatan angin dan matahari, untuk menerangkan gelapnya jalan desa-desa di Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Sejak 2015, Chanief menciptakan sebuah teknologi pembangkit energi terbarukan hibrida bernama Omset Pintar (Omah Setrum Pintar). Dengan menggabungkan energi angin dan surya, teknologi ini bisa menghasilkan listrik dari sumber energi terbarukan.

Beberapa desa seperti Sukorejo, Tutup, dan Kalisangku, serta beberapa desa lain di Kecamatan Ngawen, telah merasakan manfaat dari inovasi ini. Total ada sekitar sepuluh desa yang menjadi tahap awal pemasangan Omset Pintar, dengan pembangunan pertama di Blora.

BACA JUGA: BRIN dan UI Kembangkan Sistem Inovatif untuk Keselamatan Reaktor Nuklir

“Listrik ini bisa membantu masyarakat di desa-desa yang ada di Blora, karena desa-desa di Blora itu kebanyakan di tengah hutan. Jangkauan listrik dari PLN juga tidak ada. Dengan inovasi pemanfaatan angin dan matahari ini, warga yang ada di kawasan merasa terbantu dengan hadirnya listrik yang tanah lingkungan ini,” ujar Chanief dalam wawancaranya bersama Greeners.

Seiring waktu, inovasi Omset Pintar mulai masyarakat kenal luas. Alat ini ada di berbagai lokasi wisata di Kabupaten Blora, yang juga belum terjangkau jaringan listrik PLN. Mulai dari tahun 2017, teknologi ini semakin berkembang untuk digunakan di daerah terpencil.

Noer Chanief menerangi jalan desa dengan angin dan surya. Foto: Dini Jembar Wardani

Noer Chanief menerangi jalan desa dengan angin dan surya. Foto: Dini Jembar Wardani

Rancang Omset Pintar Mudah Dirakit

Berkat keberhasilan ini, pada tahun 2018 Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengundang Chanief untuk mempresentasikan inovasinya. Tahun itu, ia mencoba memproduksi 10 unit, kemudian bertambah lagi 16 unit di tahun berikutnya. Selebihnya, masyarakat dari berbagai daerah secara mandiri semakin banyak memesan teknologi ini.

Dalam proses pengembangannya, Omset Pintar dirancang agar mudah dirakit dan tidak memerlukan teknologi canggih atau material yang sulit diperoleh. Chanief memang tidak mematenkan atau memproteksi teknologi ini untuk dirinya sendiri.

Sebaliknya, ia justru ingin agar masyarakat bisa meniru dan memproduksi sendiri, sehingga desa-desa lain bisa mandiri dalam menghadirkan listrik. Dalam satu paket Omset Pintar, terdiri atas satu unit kincir angin dan 20 tiang lampu penerangan desa, dengan kisaran biaya antara 40 hingga 45 juta rupiah tergantung medan lokasi.

Hingga kini, pemanfaatan Omset Pintar masih didominasi untuk penerangan desa, dan belum digunakan secara luas untuk kebutuhan rumah tangga. Namun, sudah mulai ada rencana pengembangan, seperti pemasangan di lima rumah di daerah Garut.

Sosok Guru dan Inovator

Menariknya, sosok Chanief ini bukan berasal dari latar belakang elektro, melainkan dari jurusan teknik kendaraan ringan (otomotif). Ia juga merupakan pensiunan guru SMK Negeri 1 Blora, yang mengembangkan inovasi ini secara otodidak berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya di bidang teknik.

Perjuangan Chanief membuat teknologi ini tak sia-sia. Manfaatnya begitu berdampak untuk masyarakat sekaligus mendorong energi bersih sebagai sumber listrik. Kini, sudah ada 57 unit kincir Omset Pintar yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

BACA JUGA: Yeti Can Crusher, Alat Penghancur Kaleng untuk Mudahkan Daur Ulang

“Karena dulu masih berstatus pegawai negeri, mobilitasnya terbatas. Namun, setelah pensiun pada 1 Mei 2025, saya lebih leluasa mengembangkan dan menyebarluaskan inovasi ini,” ungkapnya.

Chanief berharap teknologi ini bisa terus berkembang dan diwariskan kepada generasi muda. Oleh karena itu, ia selalu menggandeng siswa-siswa sekolah untuk ikut dalam melakukan proses pengembangan teknologi.

“Saya ingin menunjukkan bahwa energi baru terbarukan tidaklah sesulit yang mereka bayangkan. Bahkan, generator pun bisa kita rakit sendiri dengan biaya murah. Dengan kesabaran dan ketekunan, teknologi ini bisa kita buat dalam waktu 3 minggu hingga 1 bulan,” ungkapnya.

Atas inovasinya, Chanief juga berhasil menerima penghargaan nasional sebagai inovator dari negara pada 30 Januari 2020. Penghargaan tersebut diberikan oleh Presiden Joko Widodo melalui BRIN.

Selain itu, pada tahun 2020 Chanief juga membimbing tiga orang siswa dari SMK Negeri 1 Blora dengan menciptakan inovasi Dakasyagi (Sepeda Bekas Kaya Energi). Inovasi ini memadukan sepeda bekas dengan motor dinamo listrik. Sehingga bisa menghasilkan energi listrik ketika dikayuh.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/noer-chanief-menerangi-jalan-desa-dengan-angin-dan-surya/feed/ 0
Dua Dekade Petani Perempuan Perjuangkan Hak Atas Tanahnya https://www.greeners.co/sosok-komunitas/dua-dekade-petani-perempuan-perjuangkan-hak-atas-tanahnya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dua-dekade-petani-perempuan-perjuangkan-hak-atas-tanahnya https://www.greeners.co/sosok-komunitas/dua-dekade-petani-perempuan-perjuangkan-hak-atas-tanahnya/#respond Mon, 21 Apr 2025 10:47:38 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=46409 Jakarta (Greeners) – Pembangunan masif seperti jalan tol dan perumahan skala besar memang memberi kenyamanan bagi masyarakat urban. Namun, pembangunan ini menuntut lahan luas yang sering kali merampas hak hidup […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pembangunan masif seperti jalan tol dan perumahan skala besar memang memberi kenyamanan bagi masyarakat urban. Namun, pembangunan ini menuntut lahan luas yang sering kali merampas hak hidup masyarakat. Di tengah ketidakadilan itu, perempuan tampil di garis depan, bersuara dan berjuang mempertahankan tanah yang telah lama mereka garap dan tinggali.

Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Dewi Sartika menyatakan jika proses-proses pembangunan itu tidak menjalankan prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan, banyak pihak akan mengalami krisis. Di antaranya adalah petani, masyarakat adat, nelayan, perempuan, dan kelompok marjinal. Dalam sistem agraria di Indonesia, mereka masih menjadi kelompok yang terdiskriminasi, khususnya dalam hal perlindungan dan pemulihan hak.

Peringatan Hari Kartini setiap 21 April menjadi momen penting untuk mengingat bahwa perempuan berperan besar dalam memperjuangkan hak-haknya, termasuk hak atas lingkungan hidup yang adil dan berkelanjutan. Hal ini tercermin dari perjuangan tiga perempuan luar biasa, yaitu Tiomerli Sitinjak dari Pematangsiantar, Wati dari Ciamis, dan Luh Sumantri dari Buleleng.

BACA JUGA: Perempuan Gigih Berjuang Gaungkan Revolusi Guna Ulang

Selama lebih dari dua dekade, ketiganya berdiri teguh di garis depan, memperjuangkan hak atas tanah yang telah mereka garap dan tinggali secara turun-temurun. Perjalanan mereka bukan tanpa hambatan. Ada fase kritis harus mereka hadapi, mulai dari ketimpangan penguasaan tanah, perampasan lahan, hingga konflik agraria yang kian meningkat.

Lantas, seperti apa sebenarnya perjuangan mereka selama lebih dari dua dekade ini?

Tiomerli Sitinjak, Tak Gentar Hadang Ekskavator demi Lindungi Tanahnya

Lahir di tengah keluarga petani, bertani telah menjadi bagian dari kehidupan Tiomerli sejak kecil. Baginya, kegiatan bertani sungguh menyenangkan, karena ada harapan tanaman itu akan tumbuh dengan baik. Itulah mengapa hatinya begitu hancur ketika tanah yang selama lebih dari 20 tahun menjadi tempatnya bergantung hidup terancam diambil untuk area perkebunan.

“Lebih dari 700 orang datang untuk menghancurkan tanaman dan rumah, 16 unit ekskavator diturunkan pula. Tanpa ingat rasa takut, kami berlari mencegat dan memanjat ekskavator, mencegah mereka menghancurkan semua. Tanah ini adalah kehidupan kami, hasil tani ini untuk menyekolahkan anak-anak kami,” kata Tiomerli.

Ia bercerita, Kota Pematangsiantar di Sumatra Utara, dulunya merupakan perkampungan orang tuanya. Pada 1969, lahan mereka diambil dan dijadikan perkebunan, hingga kemudian pada 2004 Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan tersebut habis masa berlakunya.

“Karena HGU perkebunan tidak diperpanjang, masyarakat bersama-sama mengklaim lahan ini untuk menjadi tempat tinggal dan lahan pertanian. Jalan sudah dibangun, begitu juga dengan masjid dan gereja,” ujarnya.

Saat itu, akhirnya kehidupan mereka aman dan tenteram. Namun, pada 2022 perusahaan perkebunan yang sama, kembali mendapatkan HGU. Tanpa bertanya pada rakyat, perusahaan tersebut mengerahkan orang untuk merusak semua. Padahal, tidak semua keluarga yang rumah dan tanamannya dirusak tersebut menerima tali asih (semacam penggantian dalam bentuk uang).

Dua setengah tahun terakhir ini, Tiomerli dan teman-teman sekampungnya hidup dengan sangat tidak nyaman. Ia mengatakan, “Bahkan, bertani di pekarangan rumah saja tidak aman. Malam hari bisa dirusak orang. Begitu juga kalau kami pergi meninggalkan rumah. Ketika pulang, tanaman sudah dirusak juga.”

Masyarakat di sana kini hanya berstatus petani, tapi tak bisa bertani lagi, hanya bekerja serabutan. Apa pun pekerjaan yang ada, akan mereka kerjakan, termasuk bongkar muat bahan bangunan dan menenun. Padahal, sebelumnya masyarakat di sana hidup dengan guyub dalam bertani. Ketika Tiomerli menanam jagung, ia mengajak teman-temannya untuk bantu menanam. Begitu juga ketika temannya menanam, Tiomerli ikut membantu.

Perjuangan Berlanjut

Perjuangan untuk mendapatkan hak tanah masih terus berlanjut. Tiomerli menjadi Ketua Sepasi (Serikat Petani Sejahtera Indonesia). Tugasnya sebagai Ketua Sepasi adalah merangkul teman-temannya supaya kuat berjuang.

“Tanah ini memang tanah negara. Namun, kami juga berhak atas tanah negara. Itulah semangat yang selalu saya berikan kepada kawan-kawan untuk bertahan hidup di sini. Hidup kami memang agak sulit. Tapi, kalau pindah, akan pindah ke mana? Kalau dapat tali asih 30 juta rupiah, bisa pindah ke mana, mau bekerja apa?” ujarnya.

Berbagai jalan telah Sepasi tempuh. Mereka mendatangi berbagai pihak, mulai dari Walikota Pematangsiantar, Polres, Kanwil Medan, Komisi II DPR RI, juga Komnas HAM. Bahkan, Komnas HAM turun ke lapangan, mengevaluasi situasi, dan sudah mengeluarkan surat agar perusahaan perkebunan itu menghentikan dahulu kegiatannya. Sebab, dinilai telah melakukan pelanggaran HAM.

Namun, surat tersebut diabaikan oleh mereka. Sepasi juga sempat mengadakan pertemuan di Jakarta, tapi hasil musyawarah di sana tidak terlaksana. Apalagi, ketika keluar peraturan menteri pada 2024 yang menyatakan bahwa tidak ada peruntukan perkebunan di wilayah Pemantangsiantar.

“Kami sungguh berharap kehidupan kami tidak diganggu, kami tidak diusir dari tanah yang sudah kami tempati lebih dari 20 tahun. Jangan miskinkan kami. Dengan hidup selama 21 tahun di sini, kami sudah berhak memohon kepada negara untuk mengakui kami menempati tanah ini,” kata Tiomerli, yang siap untuk terus berjuang.

Wati, Berjuang untuk Hak Tanah Tanpa Kenal Lelah

Bagi masyarakat Banjaranyar, Ciamis, Jawa Barat, bertani adalah kehidupan. Mayoritas warga di sana bertani sebagai mata pencaharian. Bahkan, warga desa yang punya usaha toko pun bertani.

Menurut Wati, hasil bertani mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menambah penghasilan keluarga. Misalnya, sebagian singkong mereka konsumsi, sebagian lainnya mereka jual. Hasil penjualannya untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga.

“Kalau tidak ada tempat pertanian, kami mau makan apa? Bagaimana kami mau membangun rumah? Semua bisa kami lakukan dari hasil pertanian,” katanya.

Sayangnya, belum semua warga Banjaranyar mendapatkan hak tanah yang mereka garap. Sebagian sudah mendapatkan sertifikat, sebagian lagi masih terus berjuang.

“Sudah 24 tahun kami berjuang. Prosesnya memang sangat lama. Memperjuangkan hak tanah tidak bisa sebentar. Tidak seperti main hompimpa, tidak seperti membalikkan telapak tangan, dan perjuangan itu tidak pernah berhenti. Jika berhenti, ‘musuh’ akan ‘menyergap’ tanah kami,” kata Wati.

Dalam perjalanannya berjuang atas hak tanah, Wati mendapat pendampingan dari sebagian besar mahasiswa. Aktif di berbagai organisasi membuat Wati belajar banyak hal tentang hak perempuan atas tanah. Kehadiran KPA sebagai pendamping yang terus melakukan edukasi juga menambah ilmunya.

Ia menegaskan, perjuangan tersebut membutuhkan keberanian besar. Rumah Wati pernah didatangi aparat yang mencari-cari suaminya, yang memang seorang aktivis tentang hak tanah. Wati tidak gentar. Dengan suara lantang, ia menantang balik para aparat tersebut.

“Sejujurnya saya lebih takut kalau mereka menemukan suami saya. Dia bisa dipenjara dengan tuduhan penjarahan tanah,” kisahnya.

Manggandeng Perempuan di Kampung

Melihat keberanian Wati, perempuan di kampungnya seperti tertular semangatnya. Wati pun mulai mengumpulkan mereka setiap kali ada kesempatan. Berbekal pengetahuan yang ia miliki, Wati memberi pemahaman soal hak tanah bagi perempuan dan selalu mengingatkan tentang pentingnya memperjuangkan hak tanah.

“Supaya mudah mengumpulkan mereka, saya membuat pengajian, seperti yasinan keliling. Jadi, sebelum yasinan, saya bicara dahulu dengan ibu-ibu. Bahwa perjuangan ini bukan perjuangan laki-laki, perempuan harus terlibat. Tapi, ketika mengadakan aksi di bawah terik matahari, perempuan di rumah saja. Kasihan, kan, kalau ada anak yang ikut,” cerita Wati.

Tak hanya dapat pemahaman, ibu-ibu tersebut juga belajar berpikir, berpidato, berbicara di depan umum, belajar tentang ilmu-ilmu tanah, tentang mengapa harus mempertahankan tanahnya. Wati sendiri belajar tentang hak dasar atas tanah dari suami yang kerap mendapatkan pelatihan dan pendidikan dari pendamping seperti KPA.

Wati berjuang bersama dalam wadah bernama Serikat Petani Pasundan (SPP). Menariknya, sejak awal berdiri, SPP menempatkan perempuan dengan hak dan tanggung jawab yang sama dengan laki-laki. Wati mencontohkan, ketika proses reclaiming tanah, sudah langsung tertera nama suami dan istri. Dalam reclaiming itu diatur batasan bidang tanahnya.

“Semisal, ada seorang istri mendaftar dan memohon dua persil (sebidang tanah dengan batasan tertentu). Nama istri dan nama suami sama-sama terdaftar. Ada juga ibu-ibu yang mendaftar dua persil dengan namanya sendiri, sementara suaminya tidak mau terdaftar, karena takut didatangi polisi,” tambahnya.

Perjuangkan Kebenaran

Sejauh ini, wilayah Banjaranyar 2 dan area persawahan 2 sudah mendapatkan sertifikat tanah. “Karena musuhnya sudah tidak ada,” kata Wati. Sementara itu, Banjaranyar 1 dan persawahan 1 masih berjuang untuk mendapatkan sertifikat tersebut. Di Banjaranyar 2, SPP sudah membangun sekolah tingkat PAUD, SMP, SMK, dan pesantren.

“Karena ada sekolah, pemerintah jadi ikut membantu, misalnya dalam hal bangunan. Awalnya, dana pembangunan sekolah berasal dari iuran warga,” kata Wati, yang bercita-cita membangun perguruan tinggi di sana.

Bagi yang masih berjuang untuk mendapatkan hak tanah, Wati berpesan, “Jangan takut akan kebenaran”. Menurutnya, walaupun perjuangannya memang tidak segampang itu, tetapi hasilnya indah.

Luh Sumantri Dua Dekade Menanti Keadilan

Cerita perjuangan perempuan dalam mempertahankan tanahnya tidak berhenti di Wati dan Tiomerli. Perempuan dari Bali, Luh Sumantri juga masih berjuang dan menanti keadilan selama dua dekade lamanya.

Diminta kembali pulang ke Bali setelah bertahun-tahun hidup sebagai transmigran di Timor Timur (kini Timor Leste), Sumantri dan teman-temannya tidak memiliki hak tanah di negerinya sendiri. Selama 21 tahun tinggal lagi di Desa Sumberklampok, Buleleng, selama itu pula eks transmigran Timor Timur mengajukan permohonan untuk mendapatkan hak tanah. Hingga kini, permohonan itu belum terkabul.

“Berbeda sekali ketika kami masih tinggal di Timor Timur. Di sana tanah garapan kami lebih luas, dan mudah sekali mencari pekerjaan di ladang. Proses kepemilikan lahan juga mudah. Seiring berjalannya waktu kami tinggal di sana, pemerintah Timor Timur langsung menerbitkan sertifikat tanah, tanpa perlu kami ajukan permohonan,” kata Sumantri.

Sementara itu, di tanah kelahirannya sendiri, Sumantri sudah memohon sangat lama, tapi belum juga mendapatkan sertifikat. Ia bercerita, sejauh ini baru lahan pekarangan saja yang mendapatkan sertifikat, lahan garapannya belum.

Berita baiknya, perjuangan untuk mendapatkan hak tanah di Bali berbeda dari teman-teman mereka di luar Bali. Sebab, di Bali tidak pernah ada larangan untuk menggarap lahan. Tidak pernah ada kasus menggusur tanaman atau rumah.

“Tidak ada yang merusak tanaman kami. Hanya saja, hak kepemilikan tanah itu belum juga kami dapatkan,” tuturnya.

Unjuk Rasa dengan Damai

Dengan pendampingan KPA, Sumantri dan teman-teman eks transmigran Timor Timur, melakukan pemetaan partisipatif. Mereka harus mengulang lagi pengajuan permohonan untuk lahan garapan, padahal sebelumnya sudah diajukan bersamaan dengan lahan pekarangan. Tak hanya itu, mereka juga melakukan unjuk rasa secara damai. Sepulang dari Timor Timur, suami Sumantri, I Nengah Kisid, sempat mendatangi DPRD provinsi untuk meminta keadilan.

Selama ini pemerintah menempatkan mereka di kawasan hutan produksi, yang lahannya bisa digarap untuk pertanian. Selain itu, untuk menambah penghasilan, mereka juga beternak sapi, sebagian juga yang beternak babi. Masing-masing kepala keluarga menggarap 50 are (sekitar 5.000 meter persegi). Sedangkan permohonan atas kepemilikan tanah yang mereka ajukan adalah seluas 136,94 hektare untuk 107 kepala keluarga.

Lahan garapan yang mereka kelola terletak tidak jauh dari permukiman. Di sana, mereka menanam tanaman musiman seperti cabai, kacang, dan jagung. Hasil panen tidak mereka jual langsung ke pasar, melainkan ke tengkulak dengan harga yang cukup adil. Sementara itu, lahan pekarangan seluas 4 are mereka tanami berbagai tanaman untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari keluarga.

Kembali Memimpin Perjuangan

Sumantri tak berhenti mendampingi suaminya, Kisid, sejak kembali dari Timor Timur terus memimpin perjuangan tersebut. Setiap kali menghadap pemerintah, ia tidak mau berhadapan pada peraturan pemerintah yang menurutnya tidak terkait dengan masalah yang mereka hadapi.

“Suami saya meminta pemerintah agar bijak dalam menyelesaikan kasus pengungsi eks Timor Timur. Kalau mengacu pada peraturan, pasti tidak ada yang nyantel,” katanya.

Hidup Sumantri saat ini cukup sejahtera, tetapi hatinya resah karena tidak punya sertifikat kepemilikan tanah. Ia khawatir akan status tanah yang mereka tempati, karena ada keturunan yang tinggal di sana juga.

“Kami tidak pernah tahu kebijakan pemerintah nanti. Beda pemimpin, beda kebijakan. Kami berharap, melalui program-programnya, pemerintah sekarang bisa berpihak pada rakyat. Semoga mereka berkomitmen untuk menyelesaikan kasus eks transmigran Timor Timur,” imbuhnya.

Ketiga perempuan Indonesia yang sedang berjuang mempertahankan tanahnya ini mencerminkan bahwa perempuan memiliki kemampuan untuk terus berjuang demi mendapatkan haknya. Perempuan bisa bersuara, dan perempuan tak mengenal batas lelah dalam memperjuangkan keadilan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/dua-dekade-petani-perempuan-perjuangkan-hak-atas-tanahnya/feed/ 0
Berkarier Tak Menghalangi Patricia Lisia untuk Menekuni Hobi Bersepeda https://www.greeners.co/sosok-komunitas/berkarier-tak-menghalangi-patricia-lisia-untuk-menekuni-hobi-bersepeda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=berkarier-tak-menghalangi-patricia-lisia-untuk-menekuni-hobi-bersepeda https://www.greeners.co/sosok-komunitas/berkarier-tak-menghalangi-patricia-lisia-untuk-menekuni-hobi-bersepeda/#respond Wed, 12 Feb 2025 06:55:40 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=45900 Jakarta (Greeners) – Bagi Patricia Lisia, menjadi wanita karier tidak menghalanginya untuk menekuni hobi bersepeda. Ribuan kilometer (km) telah ia tempuh, menghadapi berbagai tantangan, dan menjelajahi setiap sudut alam. Bersepeda […]]]>

Jakarta (Greeners) – Bagi Patricia Lisia, menjadi wanita karier tidak menghalanginya untuk menekuni hobi bersepeda. Ribuan kilometer (km) telah ia tempuh, menghadapi berbagai tantangan, dan menjelajahi setiap sudut alam. Bersepeda kini telah menjadi pelengkap dalam perjalanan hidupnya yang tak mengenal batas jarak dan waktu.

Kebiasaan bersepeda Patricia Lisia dimulai pada tahun 2007, saat ia memutuskan untuk menggowes sepeda menuju kantornya di Jakarta. Setiap hari, ia menempuh jarak tiga kilometer untuk pergi dan pulang kerja, yang totalnya menjadi enam kilometer. Pada saat itu, jarak yang ia tempuh masih terbilang sedikit, belum sebanyak yang ia capai sekarang.

“Di Jakarta, jalanan selalu macet, terutama di pagi hari. Jadi, saya pikir mengendarai sepeda lebih efisien daripada berjalan kaki atau terjebak di kemacetan,” ujarnya dalam wawancara dengan Greeners pada Jumat (7/2).

Seiring waktu, bersepeda menjadi kebiasaan yang terus Patricia pertahankan, bahkan ketika melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Meskipun berangkat dengan kendaraan umum, ia tak pernah lupa membawa sepedanya.

BACA JUGA: Tiga Pemuda Indonesia Boyong Pelajaran Berharga dari Cali

Sepulang dari perjalanan dinas, Patricia bisa melanjutkan kebiasaannya dengan bersepeda menuju rumah, terlepas dari jarak yang harus ia tempuh, selama ia masih mampu. Baginya, ini adalah kesempatan untuk melatih fisiknya.

Contohnya, baru-baru ini, Patricia melakukan perjalanan dinas ke Kota Bandung. Ia membawa sepedanya dengan kendaraan umum. Setelah tugas selesai, ia bersepeda kembali ke Jakarta. Dalam perjalanan tersebut, ia berhasil menempuh ratusan kilometer di atas aspal dan tiba di Jakarta dalam waktu 11 jam.

Perempuan yang akrab disapa Ci Pat di kalangan komunitas pesepeda ini juga memiliki pengalaman serupa saat melakukan perjalanan dinas ke Palembang dan Makassar. Meskipun jaraknya cukup jauh, sepedanya tetap ia bawa.

Justru, bagi Patricia, perjalanan ke luar kota bukanlah penghalang, melainkan waktu yang berharga untuk bersepeda. Ia juga menjelajahi alam dan menikmati suasana kota baru yang ia kunjungi. Begitulan kecintaan Patricia terhadap hobinya.

Patricia Lisia. Foto: Instagram @patricia_lisia

Patricia Lisia. Foto: Instagram @patricia_lisia

Bentang Jawa Jadi Ajang Pertama

Setelah belasan tahun menekuni hobi ini, keseriusan Patricia untuk bersepeda semakin terlihat pada tahun 2022. Ia mendaftarkan diri untuk mengikuti ajang Bentang Jawa. Lomba balap sepeda ultra ini mengharuskannya bernavigasi secara mandiri melintasi Pulau Jawa.

Rutenya tak main-main, mencapai 1.500 km. Sebelumnya, Patricia belum pernah menempuh jarak sejauh itu, dan tentunya ini menjadi tantangan pertama yang ia coba. Meskipun baru pertama kali, ia berhasil menaklukannya.

“Saat pertama kali bersepeda jarak jauh, saya benar-benar merasa new bie. Belum pernah saya mencoba perjalanan sepanjang itu. Saya ikut Bentang Jawa yang menempuh 1.500 km, padahal saya juga belum pernah mengikuti event 300 km atau 500 km. Tapi begitu saya menetapkan mindset untuk 1.500 km, otak saya akan fokus pada target tersebut.”

Patricia juga terinspirasi oleh sosok suaminya, seorang pelari jarak jauh. Dari suaminya, ia banyak belajar, salah satunya adalah mindset bahwa lomba itu merupakan perayaan. Namun, di baliknya ada persiapan luar biasa yang harus dilalui.

Untuk persiapan fisik ajang besar pertamanya, Patricia yang sebelumnya hanya bersepeda kurang dari 50 km per minggu, harus meningkatkan intensitas latihannya. Ia pun akhirnya berlatih dengan minimal 50 km setiap hari.

Dalam sesi latihan, Patricia sering melatih dirinya di daerah Sentul atau Bogor. Ia berfokus pada tanjakan-tanjakan yang menantang. Bagi dirinya, tantangan terbesar bukan hanya melawan jarak, tetapi juga bagaimana menyeimbangkan latihan dengan kegiatan lain dalam kehidupan sehari-harinya.

Patricia Lisia. Foto: Instagram @patricia_lisia

Patricia Lisia. Foto: Instagram @patricia_lisia

Kembali Menantang Diri

Puas dengan ajang pertamanya, Patricia kembali menantang dirinya di tahun 2023 dengan mengikuti ajang sepeda bergengsi Trans Nusantara Race. Perlombaan yang dimulai dari Sabang hingga Golo Mori di Labuan Bajo ini menuntutnya menempuh jarak 4.800 km dalam waktu 20 hari.

Namun, dari sekian banyak ajang yang telah ia jalani, ada satu yang sangat berkesan di hatinya, yaitu Silk Road Mountain Race di Kirgistan pada tahun 2023 dengan rute 1.880 km. Perlombaan ini melewati Pegunungan Tian Shan di Kirgistan. Menurutnya, ajang ini sangat melelahkan karena ia harus bersepeda di jalur gunung dengan mountain bike.

BACA JUGA: Sekar Kawung Merawat Biodiversitas dan Budaya Lewat Sandang

“Setiap hari, saya melewati rute naik-turun gunung, dengan jalur yang berbatu dan banyak kerikil. Naik gunung bisa mencapai 100 km, dan turunnya sangat menantang. Untung saya selamat tanpa cedera. Meski sangat melelahkan, pengalaman ini menyenangkan dan sangat prestisius bagi para pesepeda dunia,” imbuhnya.

Patricia telah menaklukkan berbagai ajang bergengsi. Ia tak menyangka bahwa berawal dari kebiasaan bersepeda ke kantor, hal ini membuka jalan baginya untuk menjadi pesepeda perempuan yang berhasil menembus berbagai tantangan. Ia juga meraih prestasi di ajang-ajang bergengsi.

Mengandung Banyak Makna

Bagi Patricia, bersepeda jarak jauh telah memberikan makna yang begitu besar dalam hidupnya. Ia merasakan kenikmatan perjalanan dengan cara yang berbeda. Ajang besar ini baginya lebih dari sekadar pencapaian olahraga.

Saat mengikuti ajang Bentang Jawa, Patricia berkesempatan singgah di warung-warung atau restoran 24 jam. Di sela perjalanan, ia bertemu dengan warga lokal yang ramah menyambutnya. Momen ini sangat berkesan, karena sebelumnya ia lebih sering melintasi Pulau Jawa menggunakan mobil atau bus lewat jalan tol, tanpa berinteraksi langsung dengan penduduk setempat.

Salah satu kenangan tak terlupakan bagi Patricia terjadi saat ia bersepeda jarak jauh dan berhenti di sebuah warung malam hari untuk beristirahat. Awalnya, ia merasa ragu karena tempat itu sepi dan gelap. Namun, pemilik warung justru menyambutnya dengan ramah dan memberikan selimut untuknya beristirahat.

“Itu membuat saya menyadari betapa baiknya orang-orang yang saya temui sepanjang perjalanan. Kebaikan-kebaikan kecil itu mengubah perspektif saya.”

Melepas Stres

Bersepeda telah memberikan banyak manfaat kesehatan bagi Patricia. Perubahan positif terjadi pada dirinya, baik dari segi fisik maupun mental.

“Dari sisi pekerjaan, saya merasa selalu fresh berkat aktivitas bersepeda. Bersepeda memberi saya waktu quality me-time yang sangat berharga. Ini membantu menghilangkan kepenatan, sehingga saya merasa lebih produktif,” ujar Patricia.

Tak hanya itu, ide-ide segar juga sering muncul saat dirinya bersepeda. Menurutnya, aktivitas ini memungkinkan otak untuk berpikir lebih jernih dan melepaskan semua stres.

Bagi Patricia, bersepeda adalah energi yang menggerakkan hidupnya. Sebagai pesepeda perempuan, ia mengakui bahwa bersepeda membutuhkan konsistensi, pengorbanan, dan keberanian untuk terus mencintai hobi ini. Melalui bersepeda, Patricia berhasil mendobrak rasa takutnya, membangun keberanian, dan mengembangkan kecintaannya terhadap olahraga ini.

Hobi yang dilakukan oleh Patricia ini bukan sekadar memberi manfaat pribadi, tetapi setiap kayuhan juga begitu berarti untuk bumi. Melalui bersepeda, ia telah meninggalkan jejak-jejak baik tanpa mengeluarkan emisi dan menebarkan semangat budaya ramah lingkungan ini kepada banyak orang.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/berkarier-tak-menghalangi-patricia-lisia-untuk-menekuni-hobi-bersepeda/feed/ 0
Tiga Pemuda Indonesia Boyong Pelajaran Berharga dari Cali https://www.greeners.co/sosok-komunitas/tiga-pemuda-indonesia-boyong-pelajaran-berharga-dari-cali-untuk-tanah-air/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tiga-pemuda-indonesia-boyong-pelajaran-berharga-dari-cali-untuk-tanah-air https://www.greeners.co/sosok-komunitas/tiga-pemuda-indonesia-boyong-pelajaran-berharga-dari-cali-untuk-tanah-air/#respond Wed, 15 Jan 2025 06:52:13 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=45691 Pada ajang Conference of the Parties to the Convention on Biological Diversity (COP16 CBD) di Cali, Kolombia, pada November tahun lalu, sekelompok pemuda Indonesia berkesempatan untuk hadir dan terlibat dalam […]]]>

Pada ajang Conference of the Parties to the Convention on Biological Diversity (COP16 CBD) di Cali, Kolombia, pada November tahun lalu, sekelompok pemuda Indonesia berkesempatan untuk hadir dan terlibat dalam perhelatan penting ini. Bagi mereka, pertemuan internasional ini menjadi ladang pengetahuan yang tak ternilai, sebuah wacana baru yang kaya akan pemahaman tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dunia.

Setelah kembali ke tanah air, para pemuda ini membawa pulang beragam pelajaran berharga yang kini siap untuk mereka aplikasikan dalam komunitas lokal mereka. Mereka bertekad untuk menerjemahkan ilmu dan semangat yang mereka peroleh di ajang tersebut dalam bentuk tindakan nyata. Hal itu guna memberi kontribusi dalam mengatasi permasalahan lingkungan yang semakin kompleks.

Dari enam pemuda yang berpartisipasi, tiga di antaranya—Naomi Waisimon, Novita Ayu Matoneng Oilsana, dan Andi Reza Zulkarnain—berkenan berbagi pengalaman dan refleksi mereka, setelah turut serta dalam pertemuan dengan delegasi dari berbagai penjuru dunia itu.

Beragam pengetahuan dan perspektif baru mereka serap selama konferensi keanekaragaman hayati dunia tersebut. Kini, dengan penuh semangat dan tekad, mereka siap membawa wawasan untuk memberi dampak positif di tengah masyarakat.

Mereka tidak hanya membawa pulang pengetahuan, tetapi juga komitmen untuk menjadi agen perubahan. Mereka bertekad menjaga kelestarian alam dan menghidupkan kembali kesadaran akan pentingnya keberagaman hayati sebagai kunci keberlanjutan kehidupan di bumi ini.

Tiga pemuda Indonesia membawa pelajaran berharga dari Cali. Foto: Istimewa

Tiga pemuda Indonesia membawa pelajaran berharga dari Cali. Foto: Istimewa

Suntikan Energi dan Semangat

Naomi, seorang perempuan asal Papua yang kini berkiprah sebagai social entrepreneur, mengungkapkan kegembiraannya. Ia dapat bertemu dengan banyak teman dari kelompok masyarakat adat di berbagai negara di Amerika Latin. Pertemuan itu menjadi saksi bahwa mereka, meskipun terpisah jarak dan budaya, memperjuangkan isu yang sama—pelestarian dan pemberdayaan masyarakat adat.

“Hal itu membuat saya merasa memiliki teman, terkait hal yang kami perjuangkan di Papua.”

Dalam ajang tersebut, ia mengikuti sebuah sesi Net Positive Commitments in Tourism – The Catalytic Function of One of the Largest Economic Sectors in the World yang sangat berkesan. Sesi itu telah membuka wawasan baru tentang pengelolaan di sektor pariwisata.

Ia belajar bahwa jika sektor pariwisata dikelola dengan bijaksana, sektor ini dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah ekonomi, perubahan iklim, dan pelestarian keanekaragaman hayati.

“Topik ini sangat sejalan dengan apa yang kami lakukan di Papua. Rasanya seperti mendapatkan penguatan energi dan semangat.”

Pertemuan dengan teman-teman baru dari kalangan muda juga memberikan dampak yang mendalam. Bagi Naomi, kesempatan untuk berdiskusi dan belajar bersama delegasi dari berbagai belahan dunia membuka matanya tentang berbagai solusi dan strategi yang sudah diterapkan di negara-negara lain.

BACA JUGA: Sekar Kawung Merawat Biodiversitas dan Budaya Lewat Sandang

Ia melihat bahwa Kolombia dan secara umum Amerika Latin, telah mampu menerapkan pengelolaan yang lebih terencana melalui berbagai lembaga yang membantu komunitas adat di sana.

Hal itu membuatnya semakin yakin bahwa Indonesia, khususnya Papua, juga dapat mewujudkan hal yang sama. Semua itu dapat terwujud jika ada kerja sama yang solid antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait. Naomi juga merasakan bahwa pengalaman ini membantunya lebih memahami titik-titik kritis dalam upaya penyelamatan keanekaragaman hayati global.

Tiga pemuda Indonesia membawa pelajaran berharga dari Cali. Foto: Istimewa

Tiga pemuda Indonesia membawa pelajaran berharga dari Cali. Foto: Istimewa

Saksikan Perjuangan di Cali

Cerita dari Cali juga datang dari Novita, pendiri komunitas BALENTA, yang merasakan begitu banyak pengetahuan dan konsep baru yang menarik selama mengikuti COP16. Salah satu yang paling berkesan baginya adalah pengalaman di Green Zone, yang dikemas sebagai bentuk kedaulatan dan perlawanan masyarakat adat.

Di Green Zone, Novita menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat adat dan komunitas lokal yang hadir di sana dengan tegas memperjuangkan hak mereka atas tanah dan kekayaan alam. Mereka berada di tenda-tenda atau di sepanjang pinggir Sungai Cali, menunjukkan komitmen kuat dalam mempertahankan hak-hak tersebut.

Mereka melawan dengan cara yang damai namun penuh kekuatan, yakni dengan membawa kekayaan alam dan pengetahuan lokal yang sangat berharga untuk dunia.

“Ini adalah cara mereka agar suara-suara mereka terdengar lebih keras, hingga ke pelosok dunia. Agar dunia tahu bahwa mereka juga ada di ruang-ruang kolaboratif, dan masyarakat adat dan komunitas lokal berdaulat penuh atas tanah dan kekayaan alamnya. Tidak ada yang berhak merusak atau merampasnya, apa pun iming-imingnya.”

Selama mengikuti konferensi, Novita menyadari bahwa para pemuda lokal memiliki pengetahuan yang sangat luas tentang kedaulatan hidup masyarakat adat mereka. Mereka berjuang bersama dalam ruang-ruang diskusi dengan membawa pengetahuan lokal yang tak ternilai, serta kesadaran tentang pentingnya menjaga biodiversitas dan mengatasi perubahan iklim. Novita pun terkesan dengan kemampuan mereka dalam berbicara di depan umum.

Anak-anak tersebut berbagi pengalaman tentang konservasi frailejon, tanaman endemik yang tumbuh melalui proses panjang dan menjadi penjaga mata air. Novita juga bercerita tentang teman-teman dari Life of Pachamama, sebuah organisasi yang digagas oleh orang muda di Kolombia. Mereka memiliki jejaring komunitas yang sangat kuat, dan hampir semua anggotanya menjadi pembicara dalam sesi-sesi, bahkan sering diliput oleh media.

“Potensi dan pengetahuan lokal serta dukungan seperti inilah yang belum banyak Indonesia miliki, apalagi di Nusa Tenggara Timur (NTT).”

Tiga pemuda Indonesia membawa pelajaran berharga dari Cali. Foto: Istimewa

Tiga pemuda Indonesia membawa pelajaran berharga dari Cali. Foto: Istimewa

Ilmu Baru dari Cali

Bagi Novita, pengalaman pada ajang COP16 di Cali memberikan banyak ilmu baru. Mulai dari cara acara besar seperti itu dikemas dengan sangat menarik, hingga keterlibatan berbagai pihak dalam mengumpulkan dan merayakan kekayaan alam dan intelektual yang masyarakat adat miliki.

Salah satu keuntungan besar yang ia rasakan adalah semakin luasnya jejaring yang dapat ia bangun. Novita bertemu dengan banyak orang dari seluruh dunia, berbagi pengetahuan, dan saling belajar. Ini adalah impian yang akhirnya bisa terwujud baginya di COP16.

Kini, Novita berniat untuk membagikan pengalamannya di lingkup komunitas dan wilayahnya, khususnya di Alor. Menurutnya, ilmu tentang pemetaan isu dan pemberdayaan komunitas sangat penting untuk diterapkan di komunitas lokalnya. Hal ini agar mereka bisa lebih mandiri dalam menjaga dan mengelola kekayaan alam mereka.

Memperkaya Wawasan

Bagi Reza, yang menjabat sebagai Co-chair Young People Action Team (YPAT) UNICEF East Asia and Pacific (EAPRO), salah satu pengalaman paling berharga selama COP16 adalah kesempatan untuk bertemu dengan pemuda-pemuda luar biasa dari seluruh dunia.

Mereka datang membawa pengalaman, perspektif, dan praktik baik yang berasal dari komunitas mereka masing-masing. Salah satu sesi yang sangat mempengaruhi dirinya adalah LAB of Youth Engagement and Participation oleh CAF.

“Dalam sesi ini, saya bekerja sama dengan kelompok yang berfokus pada perlindungan komunitas terdampak proyek tambang. Bersama-sama, kami merancang pendekatan yang melibatkan pelatihan, dukungan langsung, dan penciptaan peluang kerja. Proses ini mengajarkan saya bagaimana memadukan strategi berbasis komunitas dengan advokasi kebijakan.”

Reza juga sangat terinspirasi oleh proyek-proyek yang telah pemuda laksanakan di berbagai negara. Seperti upaya pemuda Kolombia dalam menciptakan ruang publik ramah lingkungan, yang berhasil didorong oleh kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta. Pengalaman-pengalaman ini memberinya wawasan baru tentang bagaimana anak muda bisa berperan besar dalam menciptakan perubahan positif di komunitas mereka.

BACA JUGA: Monika Maritjie Kailey, Perempuan Penjaga Kekayaan Alam Kepulauan Aru

Namun, salah satu pengalaman yang paling mengesankan baginya adalah kesempatan untuk menyaksikan secara langsung proses negosiasi global yang sedang berlangsung. Terutama yang berkaitan dengan pembentukan kesepakatan mengenai keanekaragaman hayati.

“Momen ini benar-benar mengubah cara pandang saya tentang kompleksitas politik internasional. Setiap kata dalam rancangan perjanjian memiliki dampak yang sangat luas. Sebagai seorang pemuda dari wilayah pedesaan Indonesia, duduk di ruangan yang sama dengan delegasi dari seluruh dunia adalah pencapaian yang luar biasa.”

Ada pengalaman yang begitu istimewa baginya. Reza berkesempatan berbicara di berbagai forum internasional. Selain itu, ia diwawancarai oleh media lokal maupun internasional, termasuk oleh Cali Tourism Office.

Ia mengatakan, mengenakan pakaian adat Indonesia dalam setiap wawancara memberi rasa kebanggaan tersendiri baginya. Reza merasa bahwa melalui kesempatan ini, ia tidak hanya mewakili suara anak muda Indonesia, tetapi juga merasa bangga dapat memperkenalkan kekayaan budaya tanah air di panggung global.

Bertemu Tokoh Penting

Reza juga menyadari bahwa jaringan yang ia bangun selama COP16 sangat berharga untuk masa depannya. Reza merasa bersyukur bisa bertemu dengan tokoh-tokoh penting selama COP16. Di antaranya Grant Wilson dari Earth Law Centre dan Juan David Amaya dari Life of Pachamama.

“Diskusi dengan mereka memberi saya wawasan baru tentang advokasi berbasis komunitas dan strategi kebijakan. Semua ini menjadi sumber inspirasi untuk langkah-langkah saya ke depan, baik untuk organisasi yang saya pimpin, maupun untuk kolaborasi yang lebih besar.”

Reza juga mendapatkan banyak wawasan yang sangat relevan untuk ia terapkan dalam pekerjaannya. Salah satunya adalah peluncuran Modul Perjanjian Escazú oleh Life of Pachamama. Modul ini memberikan panduan praktis mengenai bagaimana anak muda dapat berpartisipasi dalam advokasi lingkungan. Salah satunya adalah cara mengakses informasi publik dan melindungi hak-hak lingkungan.

Pelajaran lain yang sangat berguna ia peroleh saat mengikuti sesi Forest Mapping and Monitoring Tools for IPLC. Di sesi ini, Reza belajar bagaimana komunitas adat dapat memanfaatkan teknologi untuk memetakan hutan dan melindungi keanekaragaman hayati. Pengetahuan ini sangat berguna bagi program pelestarian hutan bakau yang sedang ia jalankan bersama tim di Sulawesi Selatan.

Dengan berbagai pengetahuan baru tersebut, Reza menyatakan bahwa langkah berikutnya adalah mengintegrasikan hasil pembelajaran dari COP16 ke dalam proyek-proyek yang dijalankan oleh organisasinya. Ia berencana melakukannya melalui beberapa pendekatan. Seperti edukasi kepada anak muda dan masyarakat, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta advokasi kebijakan berbasis bukti.

Bagi Reza, pengalaman di COP16 semakin memperkuat komitmennya untuk terus mendorong aksi nyata. Ia bertekad untuk menghadapi tantangan perubahan iklim dan pelestarian keanekaragaman hayati dengan langkah-langkah yang konkret.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/tiga-pemuda-indonesia-boyong-pelajaran-berharga-dari-cali-untuk-tanah-air/feed/ 0
Merangkul Lintas Agama Merawat Bumi, Hening Parlan Raih ‘Planet Award’ https://www.greeners.co/sosok-komunitas/merangkul-lintas-agama-merawat-bumi-hening-parlan-raih-planet-award/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=merangkul-lintas-agama-merawat-bumi-hening-parlan-raih-planet-award https://www.greeners.co/sosok-komunitas/merangkul-lintas-agama-merawat-bumi-hening-parlan-raih-planet-award/#respond Tue, 24 Dec 2024 06:25:01 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=45516 Jakarta (Greeners) – Hening Parlan, sosok perempuan yang tekun merangkul persatuan lintas agama untuk merawat bumi, meraih penghargaan Planet Award dari Kedutaan Inggris di Jakarta. Penghargaan ini menjadi buah dari […]]]>

Jakarta (Greeners)Hening Parlan, sosok perempuan yang tekun merangkul persatuan lintas agama untuk merawat bumi, meraih penghargaan Planet Award dari Kedutaan Inggris di Jakarta. Penghargaan ini menjadi buah dari inisiatif-inisiatifnya dalam mendorong keberlanjutan planet ini.

Pemberian penghargaan oleh Kedutaan Inggris ini dalam rangka merayakan 75 tahun hubungan diplomatik antara Inggris dan Indonesia. Penghargaan untuk Hening Parlan sekaligus mewakili kerja sama terbaik antara Inggris dan Indonesia dalam bidang lingkungan.

Atas penghargaan Planet Award tersebut, Hening merasa sangat bersyukur. Bagi Hening, penghargaan ini bukan sekadar pengakuan pribadi, melainkan pengakuan atas kerja keras dan dedikasi banyak pihak. 

Ia mengungkapkan bahwa dedikasi itu tidak terlepas dari dukungan pegiat lingkungan dari Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, dan Green Faith Indonesia. Ketiga organisasi itu yang telah berjuang bersama dengannya dalam menciptakan kerukunan antarumat beragama dan keberlanjutan lingkungan. 

BACA JUGA: Monika Maritjie Kailey, Perempuan Penjaga Kekayaan Alam Kepulauan Aru

“Peran serta kita semua sangat penting. Tidak ada satu pihak pun yang dapat bekerja sendiri dalam menghadapi tantangan besar dampak perubahan iklim dan kerusakan lingkungan,” ungkap Hening lewat keterangan tertulisnya. 

Hening juga mengajak semua pihak untuk bergandeng tangan. Mulai dari lintas agama, budaya, dan sektor harus ikut menjaga serta melestarikan bumi ini demi generasi yang akan datang. Baginya, hanya dengan kebersamaan dan komitmen yang tulus dapat tercipta masa depan yang lebih baik bagi bumi dan masa depan. 

Hening Parlan meraih 'Planet Award' dari Kedutaan Inggris. Foto: PP Muhammadiyah

Hening Parlan meraih ‘Planet Award’ dari Kedutaan Inggris. Foto: PP Muhammadiyah

Pemimpin Inspiratif

Sepanjang perjalanannya sebagai aktivis lingkungan, Hening dikenal luas atas kepemimpinannya yang menginspirasi dalam berbagai inisiatif lingkungan. Mulai dari menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kemudian, ia juga menjabat Wakil Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. 

Sebagai seorang pemimpin, Hening telah berkontribusi besar dalam mendorong aksi-aksi keberlanjutan serta pengelolaan lingkungan yang menghargai keberagaman bersama organisasinya. 

Ia juga menjadi penggagas berbagai gerakan penting, seperti Eco Jihad, Green ‘Aisyiyah, Membangun Kepentingan  Keluarga dan Komunitas Menghadapi Pandemi Covid-19, serta Eco Bhinneka Muhammadiyah. Gerakan itu merupakan bagian dari Joint Initiative for Strategic Religious Action (JISRA). 

BACA JUGA: Laudato Si’ Indonesia Hidupkan Gerakan Lingkungan untuk Umat Katolik

Hening juga turut berkontribusi dalam Global Forum for Climate Movement yang membentuk Muhammadiyah Climate Center (MCC), serta inisiatif 1000 Cahaya bersama ViriyaENB.

Selain itu, ia saat ini juga sedang menjabat sebagai Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, sebuah gerakan lintas agama yang berkomitmen mengurangi dampak perubahan iklim sejak 2023. Sebelumnya, Hening sudah aktif menjadi anggota GreenFaith Internasional sejak 2018.

Bangun Perdamaian Lewat Lingkungan 

Sebagai seorang perempuan yang memimpin berbagai program pelestarian lingkungan lintas agama, Hening telah menciptakan berbagai pendekatan baru dalam merawat bumi. Salah satunya adalah program Eco Bhinneka. Program tersebut mengusung konsep inovatif dalam membangun perdamaian melalui pengelolaan lingkungan dan keberagaman. 

Kata “Eco” merujuk pada ekologi, yaitu interaksi makhluk hidup dengan sesamanya dan lingkungan sekitar. Sementara, “Bhinneka” mengandung makna dari semboyan nasional Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu.

Program ini telah sukses membangun kerukunan antar umat beragama di Indonesia dengan pendekatan berbasis lingkungan di empat provinsi yang memiliki latar belakang dan keyakinan yang berbeda. Mulai dari Pontianak (Kalimantan Barat), Ternate (Maluku Utara), Surakarta (Jawa Tengah), dan Banyuwangi (Jawa Timur). 

Dedikasinya tak berhenti di situ. Sebagai Koordinator Program 1000 Cahaya, inisiatif Muhammadiyah untuk mendukung transisi energi, Hening telah mendorong penggunaan energi terbarukan di tempat-tempat pendidikan, ibadah, dan sosial, memperkuat gerakan menuju masa depan yang lebih ramah lingkungan.

Dengan semangat dan dedikasi yang tak tergoyahkan, Hening Parlan telah menjadi sosok perempuan yang menginspirasi banyak pihak dalam perjuangan menjaga keberlanjutan bumi. Ia telah membuktikan bahwa kolaborasi lintas agama dalam pelestarian lingkungan mampu menciptakan dunia yang lebih baik dan harmonis bagi generasi mendatang.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani 

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/merangkul-lintas-agama-merawat-bumi-hening-parlan-raih-planet-award/feed/ 0
Monika Maritjie Kailey, Perempuan Penjaga Kekayaan Alam Kepulauan Aru https://www.greeners.co/sosok-komunitas/monika-maritjie-kailey-perempuan-penjaga-kekayaan-alam-kepulauan-aru/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=monika-maritjie-kailey-perempuan-penjaga-kekayaan-alam-kepulauan-aru https://www.greeners.co/sosok-komunitas/monika-maritjie-kailey-perempuan-penjaga-kekayaan-alam-kepulauan-aru/#respond Fri, 01 Nov 2024 07:42:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=45115 Jakarta (Greeners) – Kepulauan Aru yang terletak di Provinsi Maluku kaya akan keindahan alam dan biodiversitas yang unik. Namun, hak masyarakat adat sering terancam oleh oknum yang mengeksploitasi sumber daya […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kepulauan Aru yang terletak di Provinsi Maluku kaya akan keindahan alam dan biodiversitas yang unik. Namun, hak masyarakat adat sering terancam oleh oknum yang mengeksploitasi sumber daya alam. Di tengah tantangan ini, Monika Maritjie Kailey atau Monik, muncul sebagai sosok perempuan tangguh yang berjuang untuk melindungi lingkungan dan hak-hak masyarakatnya.

Monik dibesarkan di kampung kecil Fatlabata. Orang tuanya mengajarkan nilai-nilai adat yang telah ada jauh sebelum manusia memiliki agama dan negara terbentuk. Meskipun hidup di era modern, Monik tetap berpegang pada warisan budaya yang membentuk identitasnya. Ia bertekad agar generasi mendatang tidak hanya mendengar cerita, tetapi juga melihat dan merasakan realitasnya.

Partisipasinya dalam konferensi keanekaragaman hayati tingkat dunia, Conference of the Parties to the Convention on Biological Diversity (COP 16 CBD), di Cali, Kolombia, menjadi langkah besar. Di forum tersebut, Monik menyampaikan pesan bahwa selama berabad-abad, masyarakat adatlah yang menjaga hutan, laut, dan biodiversitas.

BACA JUGA: Menanti Penguatan Hukum untuk Cegah Kerusakan di Kepulauan Aru

Monik bercerita, Sekitar 65-70 persen masyarakat adat Aru bergantung pada hasil laut, dengan sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Hasil laut yang melimpah, seperti rumput laut, teripang, ikan, udang lobster, dan kepiting bakau, menjadi sumber kehidupan mereka. Monik menjelaskan bahwa masyarakat Aru memiliki aturan adat yang ketat. Misalnya, sebelum menebang pohon untuk membangun rumah, mereka harus menanam bibit pohon terlebih dahulu.

“Alam telah menyediakan apa yang kita butuhkan setiap hari. Karena itu, banyak hal yang masyarakat Aru lakukan untuk menjaga alam,” kata Monik.

Bagi Monik, memperjuangkan hak masyarakat adat bukan sekadar tindakan, melainkan tanggung jawab yang melekat pada jiwanya. Ia menyadari perjuangan ini bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk kehidupan banyak orang yang bergantung pada tanah dan laut yang mereka cinta.

Monika Maritjie Kailey Termotivasi Sosok Ayah

Motivasi Monik menjadi sosok terdepan untuk membela masyarakat adat Kepulauan Aru juga berasal dari sosok ayahnya. Ayahnya pernah berjuang bersama 117 kepala kampung lainnya dalam gerakan #SaveAru untuk melindungi hutan dan tanah masyarakat adat dari eksploitasi.

Menurut Monik, meskipun ayahnya tidak berpendidikan tinggi, tetapi pemikirannya yang tajam tentang alam sebagai penyedia utama kehidupan sangat menginspirasi dirinya. Dia memahami bahwa tanggung jawab untuk menyadarkan generasi muda adalah misi penting yang harus ia lanjutkan.

Ayahnya selalu menekankan, “Ketika kau berbicara tentang Aru dan memperjuangkan hak-hak masyarakat adat, kau tidak akan pernah mati sia-sia di tanah ini.” Kalimat tersebut membakar semangat Monik untuk terus berjuang, memastikan bahwa suara masyarakat adat tetap terdengar, dan keindahan Kepulauan Aru bisa dinikmati oleh generasi mendatang.

Dengan tekad yang kuat, Monik terus melangkah maju, mengingatkan kita semua tentang pentingnya melestarikan keanekaragaman hayati dan menjaga warisan budaya yang sangat berharga.

Monika Maritjie Kailey. sosok perempuan tangguh yang berjuang untuk melindungi lingkungan dan hak-hak masyarakat Kepulauan Aru. Foto: Contentro

Monika Maritjie Kailey, sosok perempuan tangguh yang berjuang untuk melindungi lingkungan dan hak-hak masyarakat Kepulauan Aru. Foto: Contentro

Bukan Anak Perempuan Biasa di Kepulauan Aru

Saat tumbuh dewasa, Monik telah menjadi sosok perempuan inspiratif yang berani berdiri dan menyuarakan hak masyarakat adat Aru. Pencapaiannya pada saat ini tentu tak lepas dari kebiasaan yang ia jalani sejak kecil. Monik bukanlah sosok anak perempuan biasa.

Ketika rata-rata anak perempuan di kampungnya belajar memasak di dapur, Monik lebih suka mengikuti ayahnya berpetualang ke hutan dan laut. Ia masih ingat saat berusia sekitar tujuh tahun, ketika diajak ayahnya memasuki hutan dan tidur di gua beralaskan tempat tidur militer yang ditinggali kakak dari kakeknya. Di dalam gua-gua itu, ayahnya mengumpulkan sarang burung walet untuk dijual.

BACA JUGA: Enam Pemuda Indonesia Suarakan Isu Biodiversitas di COP16 CBD

“Dalam perjalanan dari satu gua ke gua lain, Papa mengajari kami membaca jejak berbagai hewan buruan, seperti rusa dan babi hutan. Saya juga pernah diajak berburu, melihat para pemburu menghalau binatang agar mendekati pemanah,” ungkap Monik.

Dari alam, Monik belajar banyak tentang mencari makan dan bertahan hidup. Ia tahu pohon mana yang harus dipanjat untuk menyelamatkan diri dari hewan berbahaya. Seperti babi bercula, rusa bertanduk besar, dan kasuari. Ia belajar membuat dan memasang perangkap untuk hewan. Selain itu, Monik juga belajar memilih kayu yang dapat digunakan untuk menghasilkan api.

Pengalaman tersebut membentuk Monik menjadi seorang pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri. Dari kesehariannya berpetualang di hutan dan laut, anak pertama dari enam bersaudara ini belajar bertanggung jawab dan menjadi panutan bagi adik-adiknya. Monik percaya bahwa apa yang ia pelajari di alam telah membentuknya menjadi sosok yang kuat dan berani, siap untuk memperjuangkan hak masyarakat adat Aru di panggung internasional.

Pendidikan sebagai Jalan Keluar dari Kegelapan

Perempuan yang sebelumnya berprofesi sebagai guru ini, suatu mendapat tawaran sangat menarik. Ia harus memilih antara uang atau sekolah.

Ia berpikir, dengan uang, ia bisa membantu masyarakat adat dalam proses pemetaan wilayah adat. Namun, uang bisa habis dalam waktu singkat, entah itu sebulan atau setahun. Di sisi lain, jika Monik melanjutkan pendidikan, ilmu yang ia dapat akan bertahan seumur hidup. Pemikiran ini akhirnya membawa Monik untuk memilih melanjutkan sekolah.

Monik menerima beasiswa dari Pemerintah Norwegia untuk belajar di jurusan English Linguistics and Language Acquisition di Norwegian University of Science and Technology. Ia menyadari bahwa pendidikan di Aru masih memerlukan perhatian serius dari generasi muda.

“Pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari kegelapan. Saya ingin menjadi salah satu orang yang berkontribusi terhadap dunia pendidikan di Aru. Saya ingin mempelajari bahasa Inggris, khususnya dalam bidang linguistik, dan membawa sesuatu yang baru ke dunia pendidikan di Aru,” ungkapnya.

Kini, dengan semangatnya, Monik terus melangkah maju untuk melindungi lingkungan dan hak-hak masyarakat adat. Ia berjuang memastikan bahwa tradisi dan kearifan lokal tetap hidup untuk generasi mendatang.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/monika-maritjie-kailey-perempuan-penjaga-kekayaan-alam-kepulauan-aru/feed/ 0
30 Tahun Advokasi Lingkungan, Yuyun Ismawati Terpilih Menjadi Co Chair IPEN https://www.greeners.co/sosok-komunitas/30-tahun-advokasi-lingkungan-yuyun-ismawati-terpilih-menjadi-co-chair-ipen/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=30-tahun-advokasi-lingkungan-yuyun-ismawati-terpilih-menjadi-co-chair-ipen https://www.greeners.co/sosok-komunitas/30-tahun-advokasi-lingkungan-yuyun-ismawati-terpilih-menjadi-co-chair-ipen/#respond Tue, 20 Aug 2024 05:49:04 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=44540 Jakarta (Greeners) – Yuyun Ismawati terpilih sebagai Co-Chair IPEN (International Pollutans Elimination Network). Ia menduduki posisi kepemimpinan utama dalam jaringan global tersebut. Yuyun telah berdedikasi lebih dari 30 tahun dalam […]]]>

Jakarta (Greeners) – Yuyun Ismawati terpilih sebagai Co-Chair IPEN (International Pollutans Elimination Network). Ia menduduki posisi kepemimpinan utama dalam jaringan global tersebut. Yuyun telah berdedikasi lebih dari 30 tahun dalam advokasi kesehatan lingkungan dan kebijakan bahan kimia serta limbah.

Perempuan asal Bandung ini juga meraih berbagai penghargaan. Pada 2009, Yuyun menerima Goldman Environmental Prize atas karyanya yang inovatif dalam mengurangi polusi dan limbah.

Sebagai Co-Chair IPEN, Yuyun akan berbagi tanggung jawab dengan Pamela Miller dari Alaska Community Action on Toxics. IPEN adalah jaringan masyarakat sipil global yang terdiri dari lebih dari 600 kelompok di 125 negara yang berfokus pada kesehatan lingkungan.

Sebelumnya, posisi Yuyun diduduki oleh Tadesse Amera. Namun, ia mengundurkan diri setelah menjabat sebagai Co-Chair IPEN sejak 2018. Di bawah kepemimpinannya, IPEN mencapai berbagai kemenangan signifikan, termasuk kampanye melawan pestisida berbahaya, plastik beracun, dan merkuri.

BACA JUGA: Risiko Kesehatan Pekerja Pabrik Cat Bertimbal Sangat Tinggi

Selama periode ini, IPEN juga mengalami pertumbuhan signifikan, memperluas jaringan, dan meningkatkan kapasitas staf serta dukungan untuk organisasi peserta. Amera kini menjabat sebagai Koordinator Internasional Pesticide Action Network International dan tetap sebagai Direktur Eksekutif Pesticide Action Nexus Ethiopia.

IPEN bekerja untuk menghilangkan ancaman terhadap kesehatan dan lingkungan dari bahan kimia berbahaya. Tujuannya untuk menciptakan masa depan bebas racun untuk semua.

IPEN memainkan peran penting dalam kebijakan bahan kimia global. Jaringan ini membantu membentuk perjanjian pertama yang melarang bahan kimia paling berbahaya di dunia, yaitu Konvensi Stockholm. IPEN juga terus berpengaruh dalam penerapan Konvensi Stockholm serta perjanjian lain yang mengatur bahan kimia dan limbah, seperti Konvensi Rotterdam, Konvensi Basel, dan Perjanjian Merkuri Minamata.

Di tingkat lokal di Indonesia, IPEN sering melakukan studi terkait bahan kimia berbahaya bersama Nexus3 Foundation. Contohnya, tahun ini IPEN bersama Nexus3 melakukan studi mengenai risiko kesehatan tinggi bagi pekerja cat bertimbal di Indonesia.

Aksi oleh Nexsus3 Foundation.

Aksi oleh Nexsus3 Foundation.

Yuyun Mendirikan Nexus3 Foundation

Di samping itu, Yuyun juga aktif dalam advokasi kesehatan lingkungan di Indonesia. Ia adalah pendiri dan penasihat senior Nexus3 Foundation. Organisasi tersebut melindungi masyarakat dari dampak pembangunan terhadap kesehatan dan lingkungan serta berupaya menuju masa depan yang adil, bebas racun, dan berkelanjutan.

Kariernya dikenal dengan pendekatan kolaboratif dan solusi inovatif untuk mengatasi tantangan lingkungan. Termasuk merkuri di pertambangan emas, bahan kimia dalam plastik, serta limbah lainnya.

Yuyun pernah menjadi anggota Komite Pengarah IPEN, memimpin upaya penghapusan merkuri, serta mewakili IPEN dalam negosiasi Perjanjian Plastik dan peran kepemimpinan lainnya.

BACA JUGA: Di Indonesia Masih Ada Cat Bertimbal, Arsitek Harus Tolak!

Dalam keterlibatannya dengan IPEN, Yuyun berharap dapat berbagi pemahaman tentang masalah lingkungan dan pentingnya respons global yang terpadu.

“Saya berharap dapat bekerja sama dengan Pam Miller. Sebagai Co-Chairs, kami akan membangun konsensus, mengasah visi strategis IPEN, dan menunjukkan komitmen teguh IPEN terhadap keberlanjutan dan masa depan bebas racun,” kata Yuyun dalam keterangan tertulisnya, Jumat (16/8).

Yuyun Ismawati Panutan dan Inspirasi di IPEN

Co-Chair IPEN, Pam Miller, menyatakan bahwa Yuyun telah lama menjadi panutan di IPEN. Pam merasa terhormat menjabat bersama Yuyun sebagai Co-Chair.

“Ini adalah waktu penting untuk mengatasi tiga krisis planet—perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi beracun. Pengalaman puluhan tahun Yuyun sangat penting untuk mengatasi tantangan-tantangan ini. Saya yakin dia akan menjadi kekuatan penting dan memberi energi pada jaringan IPEN yang dinamis dan efektif,” ungkap Pam.

Selain Goldman Environmental Prize, Yuyun adalah Ashoka Fellow dan Fellow dari Leadership for Environment and Development (LEAD), yang menunjukkan kepemimpinannya dalam pembangunan berkelanjutan.

Yuyun Ismawati memiliki gelar Sarjana Teknik Lingkungan dari Institut Teknologi Bandung, gelar MSc dalam Environmental Change and Management dari Universitas Oxford pada tahun 2011, dan diploma dalam Medical Research-International Health dari Ludwig Maximilian University of Munich yang diperolehnya pada tahun 2018.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/30-tahun-advokasi-lingkungan-yuyun-ismawati-terpilih-menjadi-co-chair-ipen/feed/ 0
Wahjudi Wardojo Raih Gelar Doktor Honoris Causa dari UGM https://www.greeners.co/sosok-komunitas/wahjudi-wardojo-raih-gelar-doktor-honoris-causa-dari-ugm/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=wahjudi-wardojo-raih-gelar-doktor-honoris-causa-dari-ugm https://www.greeners.co/sosok-komunitas/wahjudi-wardojo-raih-gelar-doktor-honoris-causa-dari-ugm/#respond Sun, 10 Sep 2023 04:04:44 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=41476 Jakarta (Greeners) – Wahjudi Wardojo meraih anugerah sebagai Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari Universitas Gajah Mada (UGM). Gelar itu ia dapatkan atas dedikasnya dalam melestarikan alam Indonesia. Ia berkecimpung lebih […]]]>

Jakarta (Greeners) – Wahjudi Wardojo meraih anugerah sebagai Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari Universitas Gajah Mada (UGM). Gelar itu ia dapatkan atas dedikasnya dalam melestarikan alam Indonesia. Ia berkecimpung lebih dari 45 tahun dalam sektor kehutanan, khususnya keanekaragaman hayati.

“Kendati berperan penting bagi dunia, aset alam Indonesia bukanlah aset global. Indonesia mempunyai kedaulatan penuh terhadap aset ini,” ujar Wahjudi.

Dilansir UGM, Wahjudi memiliki jasa luar biasa dalam bidang ilmu konservasi sumber daya hutan dengan fokus utama ilmu konservasi keanekargaman hayati. Hal itu menjadi bagian dalam penyelamatan keanekaragaman hayati.

BACA JUGA: Acil Bimbo Pertahankan Nilai Budaya Lewat Gerakan Jaga Lembur

Selain itu, ia juga memiliki keluasan cakrawala terkait dinamika paradigma konservasi keanekaragaman hayati di tingkat global dan nasional.

Menurutnya, keanekaragaman hayati dapat menjadi modal penting dalam negosiasi di tingkat multilateral, regional, maupun bilateral. Hal itu agar tidak ada pemanfaatan aset ini tanpa memberikan kontribusi apa pun pada Indonesia.

“Ada pemaknaan tentang pentingnya keanekaragaman hayati sebagai sistem penyangga kehidupan. Inilah yang perlu menjadi landasan dalam pengembangan setiap kebijakan, pembangunan, dan pengelolaan sumber daya alam dalam jangka panjang,” ungkapnya.

Wahjudi Wardojo meraih anugerah sebagai Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari Universitas Gajah Mada (UGM). Foto: YKAN

Wahjudi Wardojo meraih anugerah sebagai Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari Universitas Gajah Mada (UGM). Foto: YKAN

Keanekaragaman Hayati Aset Alam Indonesia

Wahjudi Wardojo yang sekaligus Penasihat Senior Kebijakan Terestrial Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) mengemukakan, aset alam Indonesia berperan dalam penyediaan pangan penduduk dunia. Namun, kapitalisasi keanekaragaman hayati ini perlu diutamakan untuk kepentingan dalam negeri.

“Peran keanekaragaman hayati untuk obat-obatan, energi, pupuk, peningkatan produktivitas usaha pertanian, bahan makanan alternatif, perlindungan sumber air sampai purifikasi air, layak dikelola bersama lintas lembaga dan sektor. Tentu dengan memperhatikan dampak dan keberlangsungan hidup dari semua sistem penyangga kehidupan ini,” imbuh Wahjudi.

Ia mengatakan, Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2023 tentang Pengarusutamaan Pelestarian Keanekaragaman Hayati dalam Pembangunan Berkelanjutan adalah hal yang tepat. Ia berharap keanekaragaman hayati di Tanah Air bisa menjadi soko guru dan pertimbangan utama dalam mendorong pembangunan berkelanjutan.

Perkuat YKAN Sajikan Solusi Inovatif

Bagi Indonesia, dengan cakupan wilayah yang sangat luas, peluang untuk menerapkan keselarasan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian keanekaragaman hayati bukanlah sesuatu yang mustahil.

Sebagai lembaga berbasis data, penganugerahan gelar doktor Honoris Causa yang diterima Wahjudi Wardojo telah memperkuat kapasitas YKAN dalam menyajikan solusi inovatif.

Selain itu, hal ini juga bisa membantu YKAN memperkaya data ilmiah. Data tersebut telah dihasilkan oleh puluhan ilmuwan di 14 provinsi wilayah kerja YKAN untuk mewujudkan Indonesia yang lestari.

BACA JUGA: Rahmat Suprihat, Cetak “Generasi Berkeringat” dengan Kayuh Sepeda

Aktif Tuangkan Gagasan

Ketua Tim Promotor Pemberian Gelar Doktor, Satyawan Pudyatmoko, mengatakan selama masa baktinya sebagai pejabat publik, Wahjudi telah mencerminkan profil seorang pengambil kebijakan publik. Itu sesuai dengan deskripsi profil lulusan program studi doktor ilmu kehutanan UGM.

Selain itu, Wahjudi juga memberi keteladanan perwujudan misi UGM, yaitu catur dharma UGM, baik dalam bidang pendidikan dan penelitian. Khususnya melakukan pengabdian pada masyarakat dan upaya pelestarian ilmu dengan memanifestasikannya dalam kehidupan. Terutama dalam pengelolaan kawasan konservasi dan pelestarian sumber daya hayati dan ekosistemnya.

Di balik prestasinya, Wahjudi Wardoyo juga aktif membagikan gagasan dan pemikirannya seputar dunia kehutanan. Hal itu telah Wahjudi tuangkan dalam seminar dan konferensi, baik di dalam negeri maupun di mancanegara.

Ia pun banyak menghasilkan karya-karya ilmiah yang terbit dalam bentuk dokumen akademik, artikel ilmiah dan media masa. Buah-buah pemikiran Ir. Wahjudi Wardojo juga banyak tertuang dalam buku maupun bab buku.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/wahjudi-wardojo-raih-gelar-doktor-honoris-causa-dari-ugm/feed/ 0
Acil Bimbo Pertahankan Nilai Budaya Lewat Gerakan Jaga Lembur https://www.greeners.co/sosok-komunitas/acil-bimbo-pertahankan-nilai-budaya-lewat-gerakan-jaga-lembur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=acil-bimbo-pertahankan-nilai-budaya-lewat-gerakan-jaga-lembur https://www.greeners.co/sosok-komunitas/acil-bimbo-pertahankan-nilai-budaya-lewat-gerakan-jaga-lembur/#respond Fri, 25 Aug 2023 03:00:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=41288 Jakarta (Greeners) – Kebudayaan nusantara sebagai identitas Indonesia penting untuk dipertahankan. Untuk mempertahankannya, Raden Darmawan Dajat Hardjakusumah yang dikenal Acil Bimbo terus menggaungkan cinta budaya melalui gerakan Jaga Lembur. Personil […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kebudayaan nusantara sebagai identitas Indonesia penting untuk dipertahankan. Untuk mempertahankannya, Raden Darmawan Dajat Hardjakusumah yang dikenal Acil Bimbo terus menggaungkan cinta budaya melalui gerakan Jaga Lembur.

Personil grup musik asal Bandung ini terus menjunjung tinggi nilai budaya sunda. Oleh sebab itu, Acil menggagas Jaga Lembur untuk mendorong masyarakat lebih baik dari aspek budaya, lingkungan, hingga sosial.

Ini adalah gerakan sosial budaya kekinian di desa. Kami juga punya permasalahan yang harus dipecahkan dan dari inilah bisa bermanfaat untuk masyarakat di desa,” ungkap Acil saat ditemui Greeners di Bandung, Minggu (20/8). 

Menurutnya, kini ada banyak tantangan dalam mempertahankan sebuah nilai budaya yang sudah memudar. Oleh karena itu, perlu ada gerakan sosial budaya di lingkup desa.

BACA JUGA: Abdikan Diri agar Rammang-Rammang dan Kamboti Tetap Lestari

Selain itu, para relawan juga akan membantu membangun silaturahmi antara warga desa. Sebab, silaturahmi menjadi sesuatu yang paling penting. Melalui gerakan ini, Acil berharap desa bisa maju lebih baik lagi. Ada banyak potensi desa yang perlu diangkat, seperti kesenian hingga kreativitas.

Warga desa di wilayah Jawa Barat saat ini sudah merasakan dampak positif dari gerakan Jaga Lembur. Misalnya, Ibu PKK di salah satu desa, kini telah aktif dalam menanam tanaman pangan. Mereka memanfaatkan hasil panen untuk konsumsi sehari-hari hingga menjualnya ke luar daerah.

Miliki Perhatian pada Isu Sosial

Acil Bimbo yang kerap disebut sebagai pemerhati budaya ini memiliki latar belakang yang tidak terlepas dari isu sosial. Ia juga menciptakan beberapa lirik lagu yang sarat dengan isu-isu sosial. Inspirasi lagu bersumber dari berita-berita yang dibacanya.

“Bukan kami ingin ikut campur masalah yang ada di luar, tapi kalau ketinggalan berita, ya, kayak ketinggalan. Ini kebawa akhirnya ke lagu, hal-hal yang bagus bisa diangkat ke lagu,” ucap Acil. 

Memiliki seorang ayah berprofesi wartawan telah mendorong Acil untuk melek terhadap informasi terkini. Bahkan, pada masa itu keluarga Acil rutin berlangganan koran supaya bisa mendapatkan asupan informasi.

Acil Khawatir Nilai Budaya Hilang

Pria kelahiran 1943 ini memiliki kekhawatiran yang tinggi akan kehilangan nilai budaya akibat teknologi yang semakin canggih. Kemajuan teknologi dan budaya luar yang masuk dalam kehidupan masyarakat tanpa sortir menjadi penyebabnya.

“Kekhawatiran itu karena saya hari ini melihat bagaimana meningkatnya kemajuan teknologi dari luar. Termasuk juga budaya-budaya luar (yang masuk) tanpa ada sortir, tanpa ada filter, ini yang memanfaatkan itu benar-benar menyeluruh di masyarakat,” tambah Acil. 

cil Bimbo menggaungkan cinta budaya melalui gerakan Jaga Lembur. Foto: Stanly Pondaag

Acil Bimbo menggaungkan cinta budaya melalui gerakan Jaga Lembur. Foto: Stanly Pondaag

Menurut Acil, seharusnya masyarakat memperkuat budaya lokal saat ada banyak budaya luar yang masuk. Saat ini, yang terjadi adalah masyarakat–termasuk anak-anak kecil–lebih mudah mengenali budaya luar. Mirisnya, tidak sedikit dari mereka yang tidak mengenali budaya sendiri.

“Yang dari luar begitu gampang masuk, tapi yang dari dalam seperti terkesan cuek,” ujarnya.

Pria berusia 80 tahun melihat suku Sunda memiliki kekuatan pada budaya dan seni. Menurutnya, konsep budaya saat ini begitu penting untuk kemajuan ke depan. Hal ini juga harus seirama dengan perubahan dari budaya-budaya luar.

BACA JUGA: Ali Rahmat, Hasilkan Biochar untuk Pulihkan Air yang Tercemar

Generasi Muda Perlu Buat Forum Budaya

Generasi muda sebagai pionir bangsa yang akan melanjutkan warisan budaya perlu mengadakan forum atau dialog soal budaya. Perkumpulan dalam forum ini dapat menjadi wadah untuk membahas budaya Indonesia.

Tak sekadar itu, para pemuda pun harus menggali tentang lahirnya konsep budaya nasional maupun budaya daerah dengan suasana forum yang kekinian.

Saya kira yang paling penting itu ada forum. Sebuah isu yang hangat pun kita perlu adakan dialog,” ujar Acil. 

Acil melanjutkan, sebuah kreativitas yang digagas oleh anak muda juga menjadi hal penting. Baiknya, mereka bisa kompak untuk berkomitmen dan melakukan aktivitas bersama dalam menggagas sebuah kreativitas yang memperlihatkan kembali budaya Indonesia. Sebab, hal ini bisa memantik kecerdasan dan ide-ide yang cemerlang. 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/acil-bimbo-pertahankan-nilai-budaya-lewat-gerakan-jaga-lembur/feed/ 0
Rahmat Suprihat, Cetak “Generasi Berkeringat” dengan Kayuh Sepeda https://www.greeners.co/sosok-komunitas/rahmat-suprihat-cetak-generasi-berkeringat-dengan-kayuh-sepeda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rahmat-suprihat-cetak-generasi-berkeringat-dengan-kayuh-sepeda https://www.greeners.co/sosok-komunitas/rahmat-suprihat-cetak-generasi-berkeringat-dengan-kayuh-sepeda/#respond Tue, 15 Aug 2023 04:00:57 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=41202 Jakarta (Greeners) – Rahmat Suprihat, penggiat lingkungan sekaligus Guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 55 Kota Bandung, punya tekad membentuk generasi cerdas. Pendidik asal Kota Kembang ini unik. Selain mengajar di […]]]>

Jakarta (Greeners) – Rahmat Suprihat, penggiat lingkungan sekaligus Guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 55 Kota Bandung, punya tekad membentuk generasi cerdas. Pendidik asal Kota Kembang ini unik. Selain mengajar di dalam kelas, ia pun menularkan semangat anak didiknya menjadi “generasi berkeringat”.

Pria 53 tahun ini menyalurkan semangat anak didiknya menjadi “generasi berkeringat” dengan bersepeda dan berjalan kaki. Sampai saat ini, berbekal semangat dan pengalaman, Rahmat terus membumikan gerakan bersepeda di kalangan pelajar.

“Generasi berkeringat” yang dibentuk Rahmat adalah sebuah bentuk generasi yang mau menggerakkan dirinya terhadap sebuah kegiatan baik. Sebab, melalui bersepeda dan jalan kaki terdapat nilai baik untuk diri sendiri dan alam semesta.

Rahmat pun terus mendorong anak muda menjadi “generasi berkeringat”, supaya mereka menjadi sosok yang mau meluangkan waktu untuk bergerak tanpa mengeluarkan emisi.

Selain sibuk mengajar, Rahmat kini aktif melakukan kegiatan road to school untuk mensosialisasikan keselamatan lalu lintas dan green transportation ke sejumlah sekolah di Kota Bandung.

Bagi Rahmat, bersepeda di kalangan pelajar sudah menjadi hal paling utama untuk mereka lakukan. Regenerasi penerus mulai dari anak-anak perlu melanjutkan budaya bersepeda.

Menurutnya, manusia butuh kecepatan, jalan kaki baik, tapi kecepatannya tidak sebanding bersepeda. “Harus dipahami dengan hadirnya teknologi berupa sepeda ada nilai manfaat untuk membantu manusia dalam hal kecepatan melakukan sesuatu,” kata Rahmat dalam wawancara dengan Greeners, baru-baru ini.

Rahmat punya alasan kuat hingga kini terus menggencarkan gerakan sepeda kepada anak-anak. Banyak nilai-nilai positif di dalamnya yang membantu mengembangkan pertumbuhan karakter anak. Kedisiplinan, kefokusan, dan ketelitian akan terbangun melalui kegiatan bersepeda.

Konsistensi Rahmat Suprihat Adalah Kunci

Pendekatan Rahmat untuk mendidik siswa bersepeda dan bergaya hidup ramah lingkungan telah ia mulai dari dirinya sendiri. Selama bergelut di bidang lingkungan dan pendidikan, konsistensi merupakan kunci yang ia pegang teguh.

“Menjadi sulit apabila kita bukan pelakunya, jadi setiap edukasi sosialisasi akan mudah manakala kita menjadi orang pertama kita melakukannya,” ucapnya.

Kedua perubahan budaya itu tidak instan, memerlukan sebuah proses dan konsistensi. Ia memiliki cara sederhana untuk menciptakan kebiasaan bersepeda pada anak. Misalnya, saat upacara Rahmat selalu memberi apresiasi berupa barang seperti tumbler untuk pelajar yang konsisten menggunakan sepeda ke sekolah.

Tak sekadar mengedukasi dan mensosialisasikan ajakan bersepeda, Rahmat pun rutin bersepeda ke sekolah agar kebiasaan tersebut bisa para siswa tiru.

Berfoto bersama para murid usai mengayuh sepeda. Foto: Rahmat Suprihat

Canggihnya Teknologi  jadi Tantangan

Upayanya menciptakan “generasi berkeringat” bukan tanpa tantangan. Perkembangan zaman menghasilkan teknologi digital yang berdampak di kalangan pelajar. Sebagian besar dari mereka kini memilih bermain media sosial pada waktu luangnya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Rahmat sebagai sosok yang mendorong generasi muda untuk lebih giat bersepeda.

“Pertama kemajuan teknologi ini menjadi sebuah anugerah, kedua sebagai tantangan. Karena, pada kenyataannya para generasi penerus candu pada media sosial sehingga mereka telah menjadi kekhawatiran bapak sebetulnya,” ungkap Rahmat.

Ia berpandangan, media sosial membuat anak terbiasa hidup santai dan kecanduan di dalamnya. Ini tantangan bagi guru untuk mendorong para siswa tidak tunduk pada media sosial. Mereka perlu mengayuh pedal menjadi “generasi berkeringat”.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : RIK

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/rahmat-suprihat-cetak-generasi-berkeringat-dengan-kayuh-sepeda/feed/ 0
Abdikan Diri agar Rammang-Rammang dan Kamboti Tetap Lestari https://www.greeners.co/sosok-komunitas/abdikan-diri-agar-rammang-rammang-dan-kamboti-tetap-lestari/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=abdikan-diri-agar-rammang-rammang-dan-kamboti-tetap-lestari https://www.greeners.co/sosok-komunitas/abdikan-diri-agar-rammang-rammang-dan-kamboti-tetap-lestari/#respond Wed, 28 Jun 2023 06:16:11 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=40604 Kecintaannya kepada alam membuat Muhammad Ikhwan, pria asal Maros, Sulawesi Selatan berjuang tak henti menyelamatkan tanah kelahirannya dari serbuan industri ekstraktif. Ia menyebut, jika tanah dan lingkungannya menjadi lokasi tambang […]]]>

Kecintaannya kepada alam membuat Muhammad Ikhwan, pria asal Maros, Sulawesi Selatan berjuang tak henti menyelamatkan tanah kelahirannya dari serbuan industri ekstraktif. Ia menyebut, jika tanah dan lingkungannya menjadi lokasi tambang marmer, sama saja bunuh diri.

Berkat kegigihannya, bapak empat orang anak yang akrab disapa Iwan Dento ini berhasil meraih penghargaan Kalpataru kategori perintis lingkungan tahun 2023 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Tanpa upayanya mengadvokasi sejak tahun 2007 mungkin Rammang-Rammang yang kini menjadi salah satu kawasan wisata alam di Maros tak bisa dirasakan keindahan dan nilai sejarahnya.

Rammang-Rammang adalah sebuah kawasan bentang alam berupa gugusan pegunungan karst yang terletak di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Kawasan karst ini terintegrasi dengan kawasan karst Maros-Pangkep.

Dalam kesaksiannya, penggiat karst yang hobi mendaki ini menuturkan, tahun 2007-2009 ada izin tambang marmer yang Pemerintah Kabupaten Maros keluarkan.

“Saya mengadvokasi dan menolak kegiatan ekstraktif karena bisa merusak ruang hidup, sumber air, mencemari sungai dan menghilangkan situs prasejarah yang menjadi identitas kami,” katanya kepada Greeners melalui sambungan telepon, Selasa (28/6) malam.

Kalpataru yang ia raih, akan menguatkan posisi komunitas lokal yang kini merasakan manfaat positif dari wisata berkelanjutan di Rammang-Rammang.

Kawasan wisata Rammang-Rammang, Maros. Foto: Iwan Dento

Rammang-Rammang Kantongi Nilai Prasejarah

Iwan lega, tahun 2013 peluhnya terbayar, pemerintah kabupaten mencabut tiga izin tambang marmer. Berbekal tekad tahun 2015 ia mendorong gagasan tanding wilayah itu dengan munculnya ekowisata berbasis komunitas di Rammang-Rammang.

“Pasar target ekowisata ini domestik dan mancanegara. Target kami hampir terpenuhi 80 %. Itu yang membuat Rammang-Rammang semakin dikenal,” ucapnya.

Penguatan ekowisata berkelanjutan ini terus ia dan komunitas lokal dorong agar kawasan ini tetap menjadi salah satu destinasi wisata favorit. Di kawasan ini pengunjung bisa menaiki perahu di sungai yang di kelilingi pegunungan karst.

Di kawasan ini pengunjung juga melihat beberapa titik ikonik seperti labirin stone yang Iwan sebut menjadi laboratorium karst. Lalu Kampung Budaya Massaloeng, kawasan hutan batu dan situs prasejarah.

Situs tersebut terdiri dari gambar telapak tangan, binatang dan gambar perahu serta sisa-sisa makanan dari manusia prasejarah nomaden di mulut-mulut gua.

Baginya kawasan karst adalah ruang hidup esensial yang tidak sekadar simbolik. Berbicara karst ada ruang hidup, flora fauna dan kehidupan masyarakat di dalamnya. Tak hanya itu ada peninggalan prasejarah ribuan tahun lalu.

“Itu identitas kami. Artinya jika kami kehilangan ruang hidup, kami juga kehilangan identitas. Hilangnya kawasan ini sama dengan bunuh diri,” imbuhnya.

Kini hampir 500 kepala keluarga (KK) menghuni Rammang-Rammang. Mereka mendapat izin pengelolaan hutan desa seluas 387 hektare termasuk di dalamnya kawasan ekowisata.

Pembuatan kamboti wadah ramah lingkungan. Foto: Iwan Dento

Tawarkan Kamboti sebagai Wadah Kurban

Tak hanya berjuang untuk ekowisata, Iwan juga sejak tahun 2016 bergerak mengangkat pamor kamboti. Sebuah wadah ramah lingkungan dari daun nipah. Wadah khas Rammang-Rammang ini sejak zaman dulu masyarakat lokal gunakan untuk berbagai acara dan kegiatan.

Seiring berjalannya waktu, gempuran kantong kemasan yang lebih praktis bermunculan. Namun hanya menimbulkan sampah baru karena sulit terurai. Berbeda dengan kamboti, terurai alami dan ramah lingkungan.

“Pembuatannya mudah, 5 menit jadi. Kami bisa membuatnya dengan berbagai bentuk, multifungsi dan tentunya harganya bersaing,” ucapnya.

Kehadiran kamboti tambahnya membuat slogan Maros Go Green tak sekadar jargon. Kamboti menjadi bukti nyata konsep go green itu.

Menjelang Iduladha pun kamboti bisa jadi pilihan tepat untuk berkurban ramah lingkungan. Kamboti yang ia dan masyarakat jual mulai dari Rp 4.000 per wadah mampu menampung daging hingga 2 kilogram.

Daun nipah juga melimpah di Maros. Malahan daun nipah harus sering dipangkas agar pertumbuhannya pesat. Jadi lanjutnya, bahan baku pembuat kamboti yang melimpah membuat wadah ini harus bisa diproduksi tanpa henti.

Penulis/Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/abdikan-diri-agar-rammang-rammang-dan-kamboti-tetap-lestari/feed/ 0
Ali Rahmat, Hasilkan Biochar untuk Pulihkan Air yang Tercemar https://www.greeners.co/sosok-komunitas/ali-rahmat-hasilkan-biochar-untuk-pulihkan-air-yang-tercemar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ali-rahmat-hasilkan-biochar-untuk-pulihkan-air-yang-tercemar https://www.greeners.co/sosok-komunitas/ali-rahmat-hasilkan-biochar-untuk-pulihkan-air-yang-tercemar/#respond Tue, 09 May 2023 04:40:39 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=39990 Jakarta (Greeners) – Air adalah sumber kehidupan. Hal inilah yang membuat Ali Rahmat berjuang menyelamatkannya dari pencemaran melalui risetnya di bidang konservasi tanah dan air.  Berkat inovasinya menyelamatkan lingkungan dan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Air adalah sumber kehidupan. Hal inilah yang membuat Ali Rahmat berjuang menyelamatkannya dari pencemaran melalui risetnya di bidang konservasi tanah dan air. 

Berkat inovasinya menyelamatkan lingkungan dan mencegah pencemaran air, Ali Rahmat terpilih sebagai salah satu periset berprestasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2023. Bahkan ia menjadi periset termuda di antara ke-12 periset lainnya.

Usaha Ali dalam riset konservasi tanah dan air yang ia mulai lima tahun lalu, akhirnya membuahkan hasil. Sebagai peneliti muda, Ali telah menunjukkan prestasinya dan aktif mempublikasikan karya-karyanya dalam bentuk jurnal bereputasi tinggi (scopus), prosiding bereputasi tinggi (scopus), dan telah memiliki H-indeks scopus dengan nilai sembilan.

Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN merupakan kajian pusat riset yang mengkaji air yang ada di darat seperti sungai, danau, air bawah tanah, air untuk pertanian dan sumber air minum.

Pria kelahiran Lampung ini ingin masyarakat terus bisa mengakses air bersih. Foto: Istimewa

Sampai Kapanpun Masyarakat Butuh Air 

Riset yang Ali lakukan fokus pada air tawar terutama sungai, danau, waduk, dan situ. Pria kelahiran Lampung ini ingin memperbaiki kondisi air tawar dari alam yang rusak agar bisa terus masyarakat manfaatkan.

“Bagian yang saya teliti ke arah lingkungan yang berkaitan dengan tanah dan sedimen. Kalau kita melihat air di sungai sekarang sudah banyak yang tidak jernih mungkin cokelat karena sedimen atau erosi yang menyebabkan kualitas airnya turun,” kata Ali kepada Greeners, Senin (8/5).

Selain bangga dan bahagia, penghargaan ini baginya merupakan tanggung jawab besar untuk terus belajar hingga dapat memberikan inovasi yang terbaik.

Saat ini, Ali juga fokus menyusun material yang dapat diaplikasikan ke tanah dan sedimen untuk memperbaiki kualitas air. Harapannya ke depan material tersebut dapat diadaptasikan ke masyarakat, baik skala kecil baik skala besar. Jika berhasil, ia berharap pemerintah bisa melahirkan kebijakan dari risetnya ini.

Dorong Riset Lanjutan Atasi Pencemaran Air

Ali juga menambahkan penelitian ini masih butuh pengembangan lanjutan. Sebab, riset masih dalam tahap awal pembuatan agen atau bahan untuk memperlambat unsur hara di dalam tanah.

Dalam upaya menyelamatkan air agar tidak tercemar, Ali menyiapkan material berupa biochar termodifikasi. Jika diberikan ke dalam tanah dapat mengurangi pencucian unsur hara dan jika dimasukkan ke dalam badan air dapat menyerap berbagai polutan.

Biochar ini terbuat dari sisa tumbuhan atau bahan organik padat (bisa berupa kayu, biji, sekam padi, dan bonggol jagung).

“Biochar ini harapannya menekan kehilangan nutrisi atau unsur hara yang kemudian mengalir ke badan air yang tercemar. Pencemaran dapat memberikan risiko banyaknya ikan yang mati hal tersebut dapat merugikan masyarakat,” ungkapnya.

Ali Rahmat (tengah) bersama rekan periset lainnya. Foto: Istimewa

Dalami Agroteknologi 

Di balik sosok Ali Rahmat yang berprestasi, ada banyak perjuangan yang telah ia jalani. Salah satunya memperdalam ilmu agroteknologi. Ilmu ini telah membawa kebaikan dan perubahan bagi hidupnya.

Seorang anak desa yang besar di Provinsi Lampung ini, memulai pendidikan S1 di Universitas Lampung. Lalu meraih beasiswa untuk melanjutkan studi S2 ke Jepang. Berkat kegigihannya, Ali akhirnya bisa menyelesaikan gelar master di bidang Agricultural and Environmental Science, Gifu University. Lalu masih di universitas yang sama, Ali melanjutkan studi untuk meraih gelar PhD di bidang Science of Biological Environment.

“Agroteknologi telah membawa kebaikan dan keberuntungan untuk hidup saya sampai sekarang. Saya bersyukur anak kampung bisa menjadi wisudawan terbaik kala itu dan mendapatkan beasiswa ke luar negeri,” imbuh Ali.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/ali-rahmat-hasilkan-biochar-untuk-pulihkan-air-yang-tercemar/feed/ 0
Delima Silalahi, Raih Goldman 2023 atas Perjuangannya untuk Masyarakat Adat https://www.greeners.co/sosok-komunitas/delima-silalahi-raih-goldman-2023-atas-perjuangannya-untuk-masyarakat-adat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=delima-silalahi-raih-goldman-2023-atas-perjuangannya-untuk-masyarakat-adat https://www.greeners.co/sosok-komunitas/delima-silalahi-raih-goldman-2023-atas-perjuangannya-untuk-masyarakat-adat/#respond Fri, 28 Apr 2023 04:50:11 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=39851 Jakarta (Greeners) – Hutan merupakan salah satu warisan untuk masa depan masyarakat adat dan masyarakat lainnya di Indonesia. Dalam melestarikannya, Direktur Eksekutif Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), Delima […]]]>

Jakarta (Greeners) – Hutan merupakan salah satu warisan untuk masa depan masyarakat adat dan masyarakat lainnya di Indonesia. Dalam melestarikannya, Direktur Eksekutif Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), Delima Silalahi berhasil mendapatkan hak pengelolaan tanah untuk kelompok adat di Sumatra Utara.

Melalui dedikasinya terhadap lingkungan, Delima berhasil meraih Anugerah Lingkungan Goldman 2023. Penghargaan kepadanya ini termasuk dalam kategori wilayah dan negara kepulauan.

Penghargaan ini diberikan setiap tahun kepada pahlawan lingkungan dari enam benua. Anugerah Lingkungan Goldman memberikan penghargaan atas pencapaian aktivis lingkungan di seluruh dunia yang memberikan inspirasi dan aksi kepada masyarakat untuk melindungi bumi.

Selain Delima Silalahi asal Indonesia, pejuang lingkungan dari Zambia, Finlandia, Brasil dan Amerika Serikat juga meraih Goldman Environmental Prize 2023.

Delima, wanita berusia 46 tahun ini dapat memberikan prestasi untuk bangsa, berkat kampanyenya bersama komunitas masyarakat adat di Tano Batak. Alhasil, pemerintah memberikan hak pengelolaan sah atas 7.213 hektare hutan adat kepada enam kelompok masyarakat Tano Batak.

“Saya sangat gembira, walaupun saya sadar bahwa ini bukanlah perjuangan saya sendiri. Ini adalah kemenangan buat gerakan masyarakat adat di Indonesia. Perjuangan hak atas tanah, hak atas identitas kita itu tidak turun dari langit itu diperjuangkan,” katanya saat menerima penghargaan di Amerika Serikat.

Ia juga menganggap, saat ini ia dan masyarakat adat tidak sedang melanggar hukum. Sebab, ada konstitusi yang menjamin perjuangan yang mereka lakukan, serta negara tidak akan memberikannya begitu saja.

Delima Silalahi. Foto: Goldman Environmental Prize

Delima Silalahi Berkomitmen Lestarikan Hutan Adat

Keenam komunitas masyarakat adat yang mendapatkan pengakuan tersebut berkomitmen melestarikan hutan adatnya. Enam kelompok masyarakat adat ini memiliki program pemulihan kawasan hutan adat mereka.

Aksi yang mereka lakukan dengan menanam kembali spesies hutan asli, termasuk pohon kemenyan. Komunitas masyarakat yang berkomitmen di antaranya Pandumaan Sipituhuta, Nagasaribu Onan Harbangan, Bius Huta Ginjang, Janji Maria, Simenak-menak, dan Tornauli Aek Godang Adiankoting.

Delima bersama KSPPM juga mendukung masyarakat untuk menanam kembali dan merestorasi ekosistem. Hal ini sekaligus untuk meningkatkan tutupan pohon hutan dan ketahanan iklim alami.

Meski dihadapkan dengan industri paling berkuasa di Sumatra Utara, Delima dan komunitas masyarakat adat berhasil mendapatkan hak pengelolaan sah atas hutan adat masyarakat. Ini merupakan kemenangan bagi ketahanan iklim, keanekaragaman hayati, dan hak masyarakat adat.

Berinteraksi dengan masyarakat adat Tano Batak. Foto: Goldman Environmental Prize

Berhasil Raih Hak Kelola 7.213 Hektare Tanah

Sebagai aktivis lingkungan, Delima Silalahi ikut langsung untuk memimpin kampanye. Di bawah pimpinannya, akhirnya misi yang diusungnya berhasil. Hingga mendapatkan hak pengelolaan sah terhadap 7.213,12 hektare tanah hutan tropis bagi enam kelompok masyarakat adat di Sumatra Utara.

Tidak hanya itu, sosok Delima juga menjadi pahlawan bagi masyarakat adat di sana. Berkat perjuangannya bersama komunitas, ia berhasil meraih kembali tanah ini dari perusahaan pulp dan kertas yang telah mengubah sebagian lahan ini menjadi hutan tanaman industri eukaliptus. Tanaman tersebut bukan tanaman asli dan perusahaan kembangkan secara monokultur.

Keenam kelompok masyarakat adat ini telah memulai restorasi hutan, sehingga menciptakan serapan karbon berharga di hutan tropis Indonesia dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/delima-silalahi-raih-goldman-2023-atas-perjuangannya-untuk-masyarakat-adat/feed/ 0
Suci Larasati, Lima Tahun Berjuang Cegah Makanan jadi Sampah https://www.greeners.co/sosok-komunitas/suci-larasati-lima-tahun-berjuang-cegah-makanan-jadi-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=suci-larasati-lima-tahun-berjuang-cegah-makanan-jadi-sampah https://www.greeners.co/sosok-komunitas/suci-larasati-lima-tahun-berjuang-cegah-makanan-jadi-sampah/#respond Fri, 31 Mar 2023 04:00:39 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=39507 Berawal dari perasaan tak tega, Siti Suci Larasati begitu bulat punya tekad agar tidak ada makanan yang terbuang sia-sia ke tempat pembuangan akhir (TPA). Sebelum menjadi sampah makanan (food waste) […]]]>

Berawal dari perasaan tak tega, Siti Suci Larasati begitu bulat punya tekad agar tidak ada makanan yang terbuang sia-sia ke tempat pembuangan akhir (TPA). Sebelum menjadi sampah makanan (food waste) ia sebisa mungkin menyelamatkannya menjadi sumber pangan yang layak.

Dari tekad itu pulalah, Laras akhirnya mendirikan Aksata Pangan. Meski baru lima tahun berjalan, perempuan berhijab ini sejak tahun 2018 bersama kawan-kawan mulai konsisten membangun aksi luar biasa ini.

“Kami sempat menerima donasi telur-telur kecil. Lalu saat bapak distributor bilang telurnya harus dibuang karena bentuknya tidak profitable kita mulai sadar potensi sampah makanan itu sangat melimpah,” katanya saat Greeners temui di sebuah acara penyerahan award baru-baru ini.

Tak hanya telur, perempuan asal Medan ini mengaku resah dengan banyak sampah makanan yang menggunung menambah beban TPA. Namun, di sisi lain masih banyak masyarakat yang kekurangan makanan yang layak.

Indonesia penghasil sampah makanan terbesar nomor dua di dunia, dengan 40 % komposisi sampah di TPA terbesar dari sampah jenis ini. Bahkan menurut data Bappenas, ada Rp 213 – Rp 551 triliun hilang karena sampah makanan.

Aksata Pangan ‘Jembatan’ Cegah Food Waste

Berpegang pada isu besar itu, ia berkomitmen menjembatani agar sisa makanan yang berpotensi layak makan disumbangkan pada masyarakat yang kurang mampu. Di sisi lain, sisa makanan yang tak layak diolah melalui pengomposan, pakan ternak hingga maggot.

Dalam perjalanannya, Aksata Pangan, organisasi berbasis hukum dengan label food bank ini mampu mengolah berbagai jenis food waste baik makanan sisa acara besar, sisa buffet hotel hingga toko roti di Kota Medan.

Namun, jauh sebelum membangun Aksata Pangan, perempuan alumni Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara ini aktif sebagai volunteer sejak awal kuliah.

Ia mengaku banyak mendapat motivasi dari kegiatan yang berkaitan dengan community service dan community empowerment. “Dari dulu aku ikut juga NGO dan jadi istilahnya ‘penumpang’, tapi sekarang aku mendirikan food bank dan jadi driver,” kata penerima penghargaan ‘Every U Does Good Heroes 2022 Unilever ini.

Laras mengaku menjadi sociopreneur merupakan panggilan jiwanya. Ia menilai, bisnis haruslah berdampak luas pada masyarakat. Selain itu, jika turun langsung ke masyarakat maka ia bisa merasakan tantangan sekaligus memberi solusi yang nyata.

“Terlebih untuk social entrepreneurship ini. Tapi memang itulah bisnis agar kita selalu improvement,” imbuhnya.

Program Aksata Pangan Atasi Sampah Makanan

Aksata Pangan meluncurkan tiga program, yakni Food Stamps, Food Heroes, dan Food Pantry. Setiap program memiliki tujuan yang sama untuk menyelamatkan makanan hampir terbuang. Food Stamps merupakan program pembagian kupon kepada masyarakat penerima manfaat dari program ini setelah melalui quick survey.

Hingga saat ini sudah ada sekitar 4.000 orang penerima manfaat. “Kenapa ini penting? Karena kita ingin agar masyarakat penerima tepat sasaran dan sesuai dengan target kita,” ucap Laras.

Sementara Food Heroes merupakan program penyelamatan makanan dari acara besar, seperti resepsi pernikahan. Melalui program Food Heroes, Aksata Pangan kini juga bekerja sama dengan toko roti dan buffet hotel di Medan.

Terakhir yakni Food Pantry. Saat menerima bahan makanan yang tidak bisa disalurkan langsung dalam bentuk utuh, dapur Aksata Pangan akan mengolahnya menjadi sajian. “Lalu kita bagikan pada masyarakat,” imbuhnya.

Adapun komposisi sisa makanan yang masuk ke food bank yakni 80 % masih layak dikonsumsi kembali. Sementara 20 % lainnya ia salurkan pada pihak ketiga seperti para peternak hewan, kompos dan maggot. Oleh karena itu, ia masih memprioritaskan penyaluran makanan pada masyarakat yang berhak menerima.

“Untuk saat ini memang kita belum concern mengolah food waste ini. Tapi nantinya kita juga akan menuju ke sana,” ujar dia.

Laras menyatakan, ada berbagai tantangan yang harus ia hadapi untuk keberlanjutan Aksata Pangan ke depan. Salah satunya yakni kebutuhan sumber daya manusia. “Kita butuh banyak sumber daya manusia termasuk yang membantu memisahkan makanan dari kemasan, lalu memilah yang layak makan dan tidak. Ini tantangan kita,” ucapnya.

Hingga saat ini, Aksata Pangan resmi menjadi anggota global bersertifikat dari Global Foodbanking Network (GFN) di Chicago, Amerika Serikat. Selain itu, juga tergabung dalam Gotong Royong Atasi Susut & Limbah Pangan (GRASP) 2030.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/suci-larasati-lima-tahun-berjuang-cegah-makanan-jadi-sampah/feed/ 0
Widya Fatriasari, Raih Gelar Profesor dari Riset Biomassa https://www.greeners.co/sosok-komunitas/widya-fatriasari-raih-gelar-profesor-dari-riset-biomassa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=widya-fatriasari-raih-gelar-profesor-dari-riset-biomassa https://www.greeners.co/sosok-komunitas/widya-fatriasari-raih-gelar-profesor-dari-riset-biomassa/#respond Mon, 28 Nov 2022 05:16:11 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=38097 Jakarta (Greeners) – Berbagai riset untuk mencari energi terbarukan pengganti bahan bakar energi fosil terus peneliti lakukan. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah mengurangi emisi gas rumah kaca. Salah satunya […]]]>

Jakarta (Greeners) – Berbagai riset untuk mencari energi terbarukan pengganti bahan bakar energi fosil terus peneliti lakukan. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah mengurangi emisi gas rumah kaca. Salah satunya bioetanol. Namun, karena harganya yang masih relatif mahal maka perlu inovasi konversi biomassa menjadi energi.

Pakar bidang teknologi bioproses Widya Fatriasari dalam orasi pengukuhan profesor riset menyatakan, Indonesia memiliki potensi biomassa lignoselulosa yang tinggi namun belum optimal pemanfaatannya.

“Sementara saat ini pemanfaatan bioetanol terkendala pada nilai keekonomisan yang belum tercapai. Sehingga perlu pengembangan teknologi konversi biomassa menjadi bioetanol yang efisien dan murah,” katanya di Jakarta, baru-baru ini.

Dalam kesempatan itu, Widya membawakan orasi ilmiah berjudul “Teknologi Konversi Biomassa Untuk Pengembangan Bioproduk Berbasis Selulosa dan Lignin Sebagai Sumber Energi Terbarukan dan Material Berkelanjutan”.

Menurutnya, riset teknologi pemanfaatan biomassa menjadi energi terbarukan penting. Dalam hal ini menggunakan material berkelanjutan berbasis selulosa dan lignin melalui riset yang telah peneliti lakukan di laboratorium.

Pengembangan teknologi ekstraksi selulosa dan lignin dari biomassa dapat menghasilkan berbagai bioproduk. Harapannya dapat menjadi substitusi produk berbasis fosil yang bersifat tidak terbarukan.

“Upaya ini dapat menjadi penguatan pemanfaatan hasil samping limbah industri dan meningkatkan nilai ekonomi limbah biomassa,” ucapnya.

Widya mengungkap produk berbahan bakar fosil sangat tidak ramah lingkungan dan semakin menipis ketersediaannya. Oleh karenanya, bioproduk berbasis lignin dan selulosa hasil konversi biomassa berpeluang sebagai substitusi yang lebih efektif dan efisien.

Konversi Biomassa yang Ramah Lingkungan

Adapun tahapan penting dalam proses konversi biomassa menjadi bioproduk berbasis selulosa dan lignin adalah fraksionasi atau praperlakuan. Kemudian hidrolisis, fermentasi dan peningkatan mutu.

Teknologi praperlakuan secara biologis yang ramah lingkungan perlu dikombinasikan dengan praperlakuan kimia dan fisik seperti iradiasi gelombang mikro. Tujuannya agar proses dapat berlangsung lebih cepat dan rendemen selulosa meningkat.

Widya juga mengungkap, perbesaran skala dan adaptasi kondisi lingkungan masih jadi tantangan di sektor industri. “Invensi yang sudah diperoleh pada skala laboratorium merupakan modal awal bagi langkah-langkah selanjutnya untuk komersialisasi produk hasil riset,” ucapnya.

Ia juga menyatakan, pentingnya kehadiran kebijakan pemerintah yang ramah riset dan inovasi untuk mendukung penciptaan bioproduk nasional berbasis biomassa.

“Integrasi riset teknologi konversi biomassa dapat dilakukan dari hulu sampai hilir dengan melibatkan berbagai pihak terkait termasuk pemerintah dan industri,” imbuhnya.

Foto bersama sejumlah profesor riset lainnya. Foto: BRIN

Miliki Segudang Pengalaman

Widya Fatriasari menamatkan pendidikannya di SDN Kedunglurah I Trenggalek tahun 1990, SMPN Pogalan Trenggalek, tahun 1993, dan SMAN Durenan Trenggalek, tahun 1996. Ia memperoleh gelar sarjana kehutanan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2001.

Kemudian gelar Magister Manajemen dari Magister Manajemen Agribisnis IPB tahun 2004. Lalu gelar Doktor bidang Teknologi Serat dan Komposit dari Sekolah Pascasarjana IPB tahun 2014.

Widya juga memiliki segudang pengalaman. Ia pernah menjadi tim Perencanaan dan Monitoring (PME) tingkat Kedeputian Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH)-LIPI (2017-2020). Selain itu juga Ketua tim PME Pusat Penelitian (Puslit) Biomaterial LIPI (2020). Sejak tahun 2019 menjadi ketua kelompok penelitian di Pusris Biomassa dan Bioproduk BRIN.

Dalam bidang karya tulis, ia telah menghasilkan 152 karya tulis ilmiah, baik yang ia tulis sendiri maupun bersama penulis lain. Memiliki 20 paten terdaftar, satu hak cipta, satu desain industri, satu paten tersertifikasi, satu modul pelatihan, dan memiliki satu lisensi.

Widya aktif dalam berbagai organisasi profesi ilmiah seperti Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI). Selain itu juga Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (MAPEKI), Asosiasi Alumni JSPS Indonesia (JAAI), dan Himpenindo.

Ia pun pernah menerima penghargaan perolehan paten terbanyak tingkat LIPI periode 2020-2021 pada tahun 2021. Lalu penghargaan peneliti muda berprestasi (Himpenindo Award) pada tahun 2021, dan penghargaan Satyalancana Karya Satya X tahun dari Presiden RI pada tahun 2016.

Selain Widya, dalam kesempatan itu ada tiga periset lain yang dikukuhkan sebagai profesor riset. Mereka antara lain yaitu Augy Syahailatua dari Pusat Riset Oseanografi, Yenny Meliana dari Pusat Riset Kimia Maju, dan Bambang Sunarko dari Pusat Riset Mikrobiologi Terapan.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/widya-fatriasari-raih-gelar-profesor-dari-riset-biomassa/feed/ 0
Ocky K Radjasa : Dipaksa Profesor Jadi Cintai Mikrobiologi Laut https://www.greeners.co/sosok-komunitas/ocky-k-radjasa-dipaksa-profesor-jadi-cintai-mikrobiologi-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ocky-k-radjasa-dipaksa-profesor-jadi-cintai-mikrobiologi-laut https://www.greeners.co/sosok-komunitas/ocky-k-radjasa-dipaksa-profesor-jadi-cintai-mikrobiologi-laut/#respond Fri, 11 Nov 2022 04:03:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=37941 Jakarta (Greeners) – Prof Ocky Karna Radjasa merupakan satu dari tiga ilmuwan lain penerima Anugerah Habibie Prize 2022, khususnya dalam bidang ilmu dasar. Ahli mikrobiologi laut ini mengaku tak pernah […]]]>

Jakarta (Greeners) – Prof Ocky Karna Radjasa merupakan satu dari tiga ilmuwan lain penerima Anugerah Habibie Prize 2022, khususnya dalam bidang ilmu dasar. Ahli mikrobiologi laut ini mengaku tak pernah menyangka mendalami bidang tersebut.

“Mulai serius menggeluti mikrobiologi kelautan saat S3 di Universitas Tokyo, Jepang, itupun dipaksa profesor saya,” katanya ditemui di sela-sela penganugerahan Habibie Prize 2022, Kamis (10/11).

Dunia mikrobiologi telah ia geluti sejak S1 Fakultas Biologi Universitas Soedirman. Lalu ia mendapatkan kesempatan mengabdi di Program Studi Kelautan Universitas Diponegoro hingga mendapatkan Surat Keputusan (SK) di Mikrobiologi Laut.

Selanjutnya, ia meneruskan S2 di Department of Biology, McMaster University Hamilton Canada. Ia kemudian melanjutkan program doktoral di Department of Aquatic Biosciences, The University of Tokyo, Jepang.

“Tapi dari sini pula saya mengetahui betapa besar potensi laut dalam di Indonesia,” kata lelaki kelahiran 29 Oktober 1965 ini.

Ocky menyebut potensi laut dalam di Indonesia sangat besar, yakni 68 %. Sementara sisanya, 32 % berupa laut dangkal.

“Kalau tinggalnya di permukaan laut itu mataharinya banyak, makanan melimpah dan suhunya hangat. Tapi kalau dalam itu makanannya sedikit, gelap dingin jadi mereka beradaptasi untuk bertahan hidup, kedalamannya di atas 200 meter,” tutur Ocky.

Penyerahan anugerah oleh Kepala BRIN LT Handoko (kiri). Foto: BRIN

Laut Indonesia Simpan Kekayaan Luar Biasa

Indonesia tak sekadar mempunyai teknologi untuk mengidentifikasi hingga mengembangkan potensi mikroba, tapi memiliki kekayaan yang tak dimiliki negara lain.

“Setelah kita ambil sampel mikrobanya, kita identifikasi baik secara kultur maupun non kultur dengan ekstraksi DNA langsung dari alam. Kita sangat kaya,” ucap Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini.

Ocky menyebut masih minimnya peneliti di Indonesia yang menggali potensi laut dalam. Periset pertama laut dalam di Indonesia ini telah melakukan bioprospeksi berbagai mikroba laut dalam untuk kemudian dikembangkan menjadi produk.

Misalnya, ia menemukan kandungan likopen yang bisa untuk anti kanker, anti aging, dan zat pewarna, antioksidan. Kandungan tersebut selama ini menjadi incaran industri kosmetik di dunia.

“Pengekspornya saat ini hanya ada satu yaitu Brasil, negara lain belum ada. Ini menjadi peluang kita untuk mengembangkannya mulai dari produk kesehatan, industri pangan, kosmetik, hingga personal care agar tak lagi impor,” ujar dia.

Ia menyebut, salah satu kendala riset laut dalam yakni masih mahalnya fasilitas berupa kapal riset yang bisa digunakan untuk memastikan penelitian laut dalam. Namun, saat ini BRIN tengah mengupayakan fasilitas ini yang akan tuntas pada tahun 2024 nanti.

“Nanti kita akan ekspedisi ke Laut Banda, ada titik poin Weber di sana sedalam 7.440 meter. Lalu kita ambil sampelnya untuk diidentifikasi lebih lanjut,” paparnya.

Foto bersama para peraih anugerah Habibie Prize 2022. Foto: BRIN

Transfer Ilmu ke Anak Muda

Banyak sekali riset yang dihasilkan guna membantu masyarakat hingga mengembangkan potensi kekayaan Indonesia. Akan tetapi jarang ter-publish ke pihak industri. Saat ini Ocky tengah melakukan kerja sama dengan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) dan lima fakultas di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ia mengungkap pentingnya mentransfer ilmu, khususnya dalam bidang mikrobiologi pada generasi muda. Tujuannya tak lain agar semakin banyak generasi yang menjadi penerus yang concern pada bidang ini.

“Mungkin sudah ratusan bahkan ribuan riset tentang laut dangkal, tapi mikrobiologi laut dalam ini relatif baru. Saya ingin tularkan pada mereka generasi muda kita,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, selain Prof Ocky Karna Radjasa, tiga penerima Anugerah Habibie Prize 2022 lainnya antara lain drg. Ika Dewi Ana, M. Kes, Ph.D, Departemen Ilmu Biomedika Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Ia menerima penghargaan di bidang Ilmu Kedokteran dan Bioteknologi.

Lalu Naufan Noordyanto, S.Sn., M.Sn., Departemen Desain Komunikasi Visual, Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Naufan menerima penghargaan di bidang Ilmu Filsafat, Agama, dan Kebudayaan.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/ocky-k-radjasa-dipaksa-profesor-jadi-cintai-mikrobiologi-laut/feed/ 0
Kang Coe, 25 Tahun Bersepeda Sambil Motivasi Anak Muda https://www.greeners.co/sosok-komunitas/kang-coe-25-tahun-bersepeda-sambil-motivasi-anak-muda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kang-coe-25-tahun-bersepeda-sambil-motivasi-anak-muda https://www.greeners.co/sosok-komunitas/kang-coe-25-tahun-bersepeda-sambil-motivasi-anak-muda/#respond Mon, 07 Nov 2022 04:24:18 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=37889 Bandung (Greeners) – Demi kualitas hidup yang lebih baik dan sehat, usia tak menjadi penghambat untuk melakukan segudang aktivitas olahraga seperti sepeda. Hal inilah yang mendorong pesepeda senior Cucu Eman […]]]>

Bandung (Greeners) – Demi kualitas hidup yang lebih baik dan sehat, usia tak menjadi penghambat untuk melakukan segudang aktivitas olahraga seperti sepeda. Hal inilah yang mendorong pesepeda senior Cucu Eman Haryanto masih bersepeda atau gowes di usianya yang sudah 60 tahun.

Kepada Greeners.co, lelaki yang akrab disapa Kang Coe ini mengatakan, tak ada motivasi khusus di balik kegemarannya gowes tersebut. “Ingin sehat saja. Kalau kita sehat, life time-nya tinggi, di umur tua tak gampang sakit dan menyusahkan keluarga, bahagia,” katanya di sela-sela acara Hello Bike Festival di Bandung, Sabtu (6/11).

Pesepeda kawakan ini tak sekadar gemar menggowes, tapi juga berkali-kali menyabet penghargaan lomba balap sepeda. Bahkan di usianya yang telah lansia tersebut ia kerap memecahkan rekor dan keluar sebagai pemenang.

Tahun 2019 lalu misalnya, lelaki yang bersepeda sejak tahun 1997 ini berhasil memecahkan rekor bersepeda bolak balik Bandung-Pangandaran dengan jarak 430 kilometer. Ia membutuhkan waktu sekitar 22 jam. Menariknya, selama berangkat dari Bandung ke Pangandaran, ia sama sekali tak beristirahat. Jalan jam 5 subuh dan tiba pukul 02.00 WIB. Tak sia-sia, perjalanan ini memecahkan rekor tercepat.

“Ini adalah rekor bersepeda paling gila yang pernah saya lakukan, otot sampai kram semua, babak belur. Cukup sekali saya lakukan, tak mau lagi,” ujarnya terkekeh.

Selain itu, ia juga pernah melakukan perjalanan sejauh 405 kilometer selama 26 jam dari Bandung hingga Yogyakarta mulai dari Kamis pagi pukul 05.00 WIB hingga pukul 07.00 WIB Jumat pagi di tengah guyuran hujan.

Tak sekadar bersepeda atau memecahkan rekor dan perlombaan, Kang Coe memiliki misi khusus. Salah satunya untuk terus memotivasi generasi muda agar memiliki semangat dalam bersepeda.

“Ada anak saya juga lelaki yang sepeda seperti saya. Ini tak hanya untuk menang atau rekor tapi memotivasi mereka, khususnya generasi muda agar ayo terus semangat bersepeda,” ucapnya.

Tips Aktif Bersepeda

Meski usianya tak lagi muda, Kang Coe mempunyai rahasia untuk tetap aktif dan fit dalam menjalani hari-harinya, yakni membiasakan tubuhnya bergerak dengan bersepeda. Kebiasaan saat weekday, ia biasa menempuh sepeda sekitar 50 kilometer.

Sementara saat hari weekend ia biasa menempuh sepeda hingga 100 kilometer. “Biasanya Minggu off agar otot beristirahat, tapi itu sudah menjadi rutinitas yang tak boleh ditinggal,” ucapnya.

Ia menambahkan, tips untuk pesepeda pemula yang ingin menggeluti dunia gowes. Salah satunya memastikan, pentingnya mengetahui kemampuan diri sebelum bersepeda. Sebelum melakukan touring, pesepeda pemula harus mempunyai basic berupa daya tahan.

Selanjutnya tinggal menaikkan speed-nya diikuti latihan rutin terus menerus. “Ini penting, sebab banyak di antara teman-teman yang kecelakaan itu karena kurang kontrol. Kuncinya harus tahu kemampuan diri,” ungkapnya.

Gowes tak sekadar olahraga tapi menjadi ruang terjalinnya keluarga baru dan misi pelestarian lingkungan. Foto: istimewa

Kenali Kondisi Fisik

Demi keamanan dan kenyamanan pesepeda hendaknya harus memastikan kesesuaian setting sepeda dengan postur tubuh. Kemudian demi kesehatan jantung, ia menyatakan gowes sepeda di jalan menanjak akan melatih kekuatan otot. Sedangkan untuk RPM datar akan lebih menyehatkan kesehatan jantung.

Untuk menunjang kebiasaan kompetisinya, ia aktif mengikuti kegiatan dalam Salasakahiji, yakni event lomba sepeda tiap minggu pada hari Selasa di Kota Bandung. Agenda ini sekaligus menjadi perkumpulan pesepeda di Kota Bandung dari berbagai komunitas dan jenis sepeda untuk adu kecepatan.

Menariknya, para pesepeda dapat mengumpulkan poin yang mereka dapat dalam setiap perlombaan dan ditukar dengan berbagai hadiah menarik pada akhir tahun.

“Ini sekaligus mendorong kita untuk tetap kompetitif bersepeda, karena di sana banyak juga yang seusia saya,” katanya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/kang-coe-25-tahun-bersepeda-sambil-motivasi-anak-muda/feed/ 0
Nugie Hindari Plastik Sekali Pakai https://www.greeners.co/sosok-komunitas/nugie-hindari-plastik-sekali-pakai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=nugie-hindari-plastik-sekali-pakai https://www.greeners.co/sosok-komunitas/nugie-hindari-plastik-sekali-pakai/#respond Thu, 13 Oct 2022 04:18:07 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=37634 Jakarta (Greeners) – Sampah plastik menjadi permasalahan lingkungan yang perlu dapat perhatian. Guna menekan sampah plastik yang terbuang ke lingkungan, musisi sekaligus aktivis lingkungan Nugie mengaku memiliki kebiasaan menghindari produk […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sampah plastik menjadi permasalahan lingkungan yang perlu dapat perhatian. Guna menekan sampah plastik yang terbuang ke lingkungan, musisi sekaligus aktivis lingkungan Nugie mengaku memiliki kebiasaan menghindari produk plastik sekali pakai.

“Paling tidak, saya berusaha untuk tidak menghasilkan plastik. Selama ini saya pakai tumbler, tas guna ulang, hingga bawa asbak sendiri,” katanya saat Greeners temui di sebuah acara baru-baru ini.

Kebiasaan tersebut telah ia lakukan secara konsisten sejak tahun 2010. Nugie pun menularkan kebiasaannya itu kepada keluarga dan teman-temannya. Selain sadar terhadap bahaya sampah terhadap lingkungan, Nugie memiliki alasan personal di balik kebiasaannya itu.

Sama halnya dengan anak-anak zaman dahulu yang suka bermain di Sungai Ciliwung. Nugie mengaku sangat merindukan masa kecilnya dulu saat bisa bermain getek secara bebas di Sungai Ciliwung. Ia merasakan betul asri dan indahnya Sungai Ciliwung yang kini tak bisa ia rasakan lagi.

“Dulu saya selalu bermain getek di Sungai Ciliwung tapi sekarang sungai itu sudah banyak sampah plastik sehingga menyebabkan macet-macet. Sekarang juga tak tampak indah dan asri,” kata pemilik nama lengkap Agustinus Gusti Nugroho ini.

Kini Nugie Aktif Kampanyekan Isu Lingkungan

Melihat kondisi tersebut, ia menyayangkan asri dan indahnya Sungai Ciliwung tak lagi bisa generasi sekarang nikmati, termasuk anak-anaknya.

“Oleh karenanya ayo kita mulai sadar akan sampah yang kita hasilkan. Jangan sampai anak cucu kita semakin kehilangan kekayaan indahnya tak hanya Sungai Ciliwung. Akan tetapi juga sungai-sungai di Indonesia,” paparnya.

Ia juga menekankan agar masyarakat melakukan kebiasaan-kebiasaan kecil mengurangi produk sekali pakai yang mencemari lingkungan. Pola perilaku ini harus dilakukan sejak dini mulai dari keluarga dan teman-teman terdekat.

“Kebiasaan ini tak susah. Bisa siapa saja lakukan. Hanya butuh niat dan kekonsistenan,” kata lelaki kelahiran 31 Agustus 1971 ini.

Hingga saat ini, Nugie telah lama aktif melakukan kampanye meningkatkan kepedulian, kesadaran dan aksi masyarakat berkaitan dengan lingkungan.

Ia juga aktif mendorong pelibatan generasi muda mulai mendaur ulang sampah menjadi energi terbarukan yang bermanfaat terhadap masyarakat luas.

“Misalnya melalui inovasi mesin pengubah sampah plastik menjadi bahan bakar yang teman-teman Yayasan Get Plastic lakukan. Ini harus didukung oleh generasi muda,” imbuhnya.

Ribuan pohon di sepanjang Sungai Ciliwung terlilit sampah plastik. Foto: Ecoton

Dorong Generasi Muda Peduli Lingkungan

Kepedulian dan kontribusi pelibatan generasi muda sangat penting menjadi penentu nasib sektor lingkungan di masa yang akan datang. Tanpa keterlibatan generasi muda, maka gerakan-gerakan yang terkait dengan isu lingkungan tidak akan menghasilkan perubahan signifikan.

Atas konsistensinya beraksi hijau, adik Katon Bagaskara ini pun pernah meraih penghargaan Satyalancana Wira Karya dari pemerintah. Penghargaan ini Nugie terima atas jasanya di sektor lingkungan.

Dalam bermusik, lagu garapan Nugie juga identik dengan dunia lingkungan hidup. Ia merilis album trilogi pertamanya tahun 1995, yaitu Bumi. Kemudian Air pada tahun 1996, dan Udara tahun 1998.

Lagu-lagu ciptaannya juga banyak bercerita tentang lingkungan dan makhluk hidup, seperti Burung Gereja dan Teman Baik, Pembuat Teh, Pelukis Malam, Mulailah Dari Diri Sendiri, dan Lentera Jiwa.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/nugie-hindari-plastik-sekali-pakai/feed/ 0
Hanny Wijaya, “Dosen Jamu” Penerima Sarwono Award XX https://www.greeners.co/sosok-komunitas/hanny-wijaya-dosen-jamu-penerima-sarwono-award-xx/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hanny-wijaya-dosen-jamu-penerima-sarwono-award-xx https://www.greeners.co/sosok-komunitas/hanny-wijaya-dosen-jamu-penerima-sarwono-award-xx/#respond Wed, 24 Aug 2022 05:11:48 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=37128 Jakarta (Greeners) – Jamu masih identik dengan minuman kuno. Meski banyak kandungan manfaatnya bagi kesehatan. Di tangan Hanny Wijaya jamu berupaya naik pamor di tengah arus modernisasi. Adalah Christofora Hanny […]]]>

Jakarta (Greeners) – Jamu masih identik dengan minuman kuno. Meski banyak kandungan manfaatnya bagi kesehatan. Di tangan Hanny Wijaya jamu berupaya naik pamor di tengah arus modernisasi.

Adalah Christofora Hanny Wijaya, wanita yang dapat julukan “dosen jamu” ini baru-baru ini meraih penganugerahan Sarwono Award XX dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). BRIN menilai Hanny adalah ilmuwan perempuan yang berfokus pada bidang pangan fungsional.

Saat ini Hanny juga sebagai Guru Besar Program Studi Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor (IPB). Tak hanya itu, ia juga menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Penggiat Pangan Fungsional dan Nutrasetika Indonesia (P3FNI). Julukan “Dosen Jamu” tersemat dalam namanya karena ia terlibat aktif mengajar mata kuliah terkait jamu pada universitas di luar negeri.

Saat Greeners temui usai penghargaan, Hanny menyebut, sebagai salah satu pangan fungsional, jamu memberikan banyak manfaat bagi manusia. Bahkan sejak tempo dulu, masyarakat Indonesia telah akrab dengan minuman ini. Meski, banyak yang masih memandang sebelah mata.

“Saya begitu sedih ketika berbicara mengenai jamu karena banyak yang menganggap tak seksi dan ilmu kuno. Sementara mereka banyak yang bangga membicarakan CTM atau obat dari luar,” katanya di Jakarta, Selasa (23/8).

Hanny menilai, banyak masyarakat Indonesia dulu yang memberikan over claim terhadap jamu. Hal itu berdampak pada hilangnya kredibilitas jamu yang tak bisa dipegang mutu khasiatnya. Selain itu, cita rasa jamu yang kurang friendly dan ketinggalan zaman kerap jadi alasan kelemahan jamu. Oleh karena itu Hanny mencoba menyentuh ilmu dan pengetahuan agar jamu bisa terstandarisasi komponen aktifnya.

“Lebih dari itu, jamu bersifat holistik dan side effect lainnya bisa kita kurangi dan keunggulannya bisa dimanfaatkan. Misalnya, jamu tak selalu sebagai obat, tapi penjaga kesehatan untuk minuman daya tahan tubuh. Itu yang saya sebut tanaman pangan fungsional,” tuturnya.

Permen hasil riset Hanny Wijaya dari rempah-rempah Indonesia. Foto: Greeners/Ramadani Wahyu

Dosen dengan Ratusan Publikasi Jurnal

Padahal lanjutnya, selama aktif mengajar mata kuliah terkait jamu di luar negeri, dunia global sangat terbuka menerima eksistensi jamu. “Mereka ingin tahu karena mereka tidak mempunyai kekayaan biodiversitas seperti kita. Bahkan mereka lebih terbuka dibanding masyarakat kita sendiri,” imbuhnya.

Beruntung, saat ini nasib jamu di dalam negeri telah signifikan seiring dengan adanya model inovasi berbagai olahan produk sehingga lebih banyak masyarakat terima. Contohnya, mulai merebak kafe-kafe jamu, minuman jamu yang diracik dengan kopi kekinian, hingga permen dari pemanfaatan rempah-rempah seperti jahe.

Masa kecil Hanny sebagai “anak pasar” membuatnya akrab dengan kondisi sekitar. Sempat menyelesaikan S2 di Hokkaido University (1984), Hanny merasakan masa populernya pangan fungsional di Negeri Sakura tersebut. Kesempatan itu ia gunakan untuk menggencarkan potensi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati, termasuk jamu dari Indonesia.

Dalam perjalanan risetnya, dosen jamu ini telah mempublikasi 100 jurnal nasional dan internasional. Selain itu melahirkan 10 buku dan beberapa buku bab termasuk dalam buku pegangan kimia pangan yang Springer terbitkan.

Sebanyak 15 paten hasil karya Hanny telah disetujui. Dua dari paten-paten tersebut sudah dan akan masuk komersialisasi. Di antaranya permen fungsional dengan nama Cajuputs Candy dan minuman herbal fungsional dengan nama Glucodiab.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/hanny-wijaya-dosen-jamu-penerima-sarwono-award-xx/feed/ 0
Prigi Arisandi, Akrab dengan Sungai Sejak Kecil https://www.greeners.co/sosok-komunitas/prigi-arisandi-akrab-dengan-sungai-sejak-kecil/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=prigi-arisandi-akrab-dengan-sungai-sejak-kecil https://www.greeners.co/sosok-komunitas/prigi-arisandi-akrab-dengan-sungai-sejak-kecil/#respond Thu, 14 Apr 2022 04:36:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=35879 Jakarta (Greeners) – Kepedulian aktivis lingkungan Prigi Arisandi terhadap sungai dan biota tak perlu diragukan lagi. Salah satu bukti, ia kini menjadi sosok penting di Ecological Observation and Wet Conservation […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kepedulian aktivis lingkungan Prigi Arisandi terhadap sungai dan biota tak perlu diragukan lagi. Salah satu bukti, ia kini menjadi sosok penting di Ecological Observation and Wet Conservation (Ecoton). Akan tetapi di balik itu semua ternyata Prigi menyimpan keakraban tersendiri dengan sungai di dekat rumahnya, di perairan Kali Surabaya.

Lelaki yang pernah mendapatkan penghargaan Goldman Environmental Prize dari Yayasan San Fransisco ini menceritakan riwayat hidupnya dari kecil sampai akhirnya menjadi pejuang lingkungan.

Sungai bukanlah hal baru bagi lelaki asli Gresik, Jawa Timur ini. Sewaktu kecil, ia telah akrab dan menjadi bagian dari sungai. Prigi kecil kerap kali mandi di sungai dekat rumahnya. Bahkan ia mengaku sering dilempar ke sungai.

Lambat laun semuanya berubah, saat ia menyadari ada pencemaran yang berasal dari limbah pabrik yang dibuang ke sungai. Saat pulang ke kampung halaman dan ingin mandi di sungai, Prigi menyadari ada yang berbeda karena tercium bau lumpur pada air sungai. Ia bertekad memperdalam ilmu Biologi agar bisa mengetahui dampak pencemaran sungai.

Fenomena ikan mati massal di perairan Kali Surabaya imbas pembuangan limbah pabrik kertas pada tahun 1999 menjadi awal mula aksi Prigi untuk melakukan pengusutan lebih lanjut. Limbah tersebut mencemari aliran sungai Kali Surabaya, tepatnya di musim kemarau saat terjadi penurunan debit sungai. Padahal di sungai itu ada aliran air minum PDAM.

Ia mengumpulkan barang bukti penelitian dampak pencemaran tersebut sebelum akhirnya melayangkan gugatan pada tahun 2007. Berkaca dari berbagai pengalaman dari gugatan beragam LSM lain pula, ia membutuhkan waktu selama delapan hingga sembilan tahun untuk mengumpulkan bukti-bukti dampak pencemaran tersebut.

“Belajar dari itu kita akhirnya tahu bahwa barang bukti penelitian itu penting agar menang gugatan,” katanya saat Greeners temui baru-baru ini di Jakarta.

Sang Ayah Penular Keberanian Prigi Arisandi Menguak Pencemaran Sungai

Buah tak jauh jatuh dari pohonnya. Jiwa keberanian dan kepedulian Prigi terhadap lingkungan, khususnya sungai berasal dari bapaknya. “Jangan takut kalau ngomong kebenaran. Keberanian bapak saya saat rapat di desa ia memprotes tentang pencemaran sungai yang tak masyarakat pedulikan. Besoknya bapak saya didatangi polisi dan tentara. Bapak saya tetap tegas ngomong apapun risikonya, termasuk sungai itu penting. Itu juga menjadi inspirasi saya,” tuturnya.

Berawal dari itu pula, jiwa empati Prigi tergugah untuk mendirikan komunitas Ecological Observation and Wet Conservation (Ecoton). Ecoton merupakan kelompok studi pemerhati lingkungan yang telah berdiri sejak tahun 1996. Genap 4 tahun setelah Ecoton berdiri, tahun 2000 Ecoton telah resmi berbadan hukum dan menjadi yayasan.

Pada awal perkembangannya, Prigi memanfaatkan media terhadap gerakan dan hasil penelitian Ecoton, yakni melalui koran baik lokal maupun nasional. Ia menyebut, aksi tersebut sebagai propaganda untuk menyuarakan kebenaran.

Bermula dari keaktifannya ini, ia kerap mendapat undangan sebagai pembicara di beragam acara dan memberikan kemudahan untuk berjejaring secara luas. “Sejak kuliah tepatnya tahun 1996 hingga 1998 aktif jadi pembicara berkat kita menjadikan media sebagai propaganda,” imbuhnya.

Prigi Arisandi (kiri) bersama rekannya di sela-sela Ekspedisi Sungai Nusantara. Foto: Prigi Arisandi/Ecoton

Rusaknya Sungai Karena Pencemaran

Dalam hal menyuarakan gerakan untuk menyadarkan masyarakat dan pemerintah akan bahaya pencemaran sungai, Prigi Arisandi melakukan strategi khusus. Saat berinteraksi dengan media, Ecoton menyajikan berbagai informasi tertulis dan memperkuatnya dengan foto. Daya tarik visual merupakan hal terpenting untuk menggugah kesadaran masyarakat, termasuk dengan melakukan pendekatan melalui film.

Sebelumnya, rusaknya kondisi sungai di Pulau Jawa telah ia deteksi kadar pencemarannya. Tiga sungai tersebut yaitu Sungai Brantas di Jawa Timur, Sungai Citarum di Jawa Barat dan Sungai Bengawan Solo.

Tak hanya itu, perjalanan ekspedisi 3 sungai ini telah ia rekam dan bagikan melalui film dokumenter bekerja sama dengan Watchdoc Image. Film ini memiliki 20 episode dengan tema berbeda. Film dokumenter tersebut, sambung Prigi mengena dan mendapat banyak respon. “Ini cara kami untuk menggunakan budaya populer, kalau dulu kami menggunakan koran,” ucapnya.

Hampir 80 Persen Sungai di Indonesia Kondisinya Memprihatinkan

Ecoton mencatat, sekitar 70 hingga 80 % sungai di Indonesia dalam kondisi rusak, khususnya di Pulau Jawa. Hal ini tidak lepas dari populasi yang meningkat, masuknya investasi dan industri, serta tidak adanya upaya serius dari pemerintah untuk menjaga dan melestarikan sungai.

Saat ini, tim Ecoton juga tengah melakukan Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN) yang akan menyasar 68 sungai di sejumlah kota di Indonesia. Melalui deteksi kadar pencemaran berupa brand audit sampah plastik, sensus serangga air, pengamatan mikroplastik dan uji kualitas air, ekspedisi ini juga akan ia dokumentasikan.

“Ekspedisi Sungai Nusantara ini ada empat misi yang kita bawa. Pertama yaitu mendeteksi kesehatan sungai, selanjutnya melakukan dokumentasi, buat film. Ketiga syiar dan keempat yaitu mengajak dan menyadarkan masyarakat, menyentuh orang dari hati,” ungkapnya.

Prigi Arisandi menyebut, ada 4 golongan muslim menurut Imam Al Ghazali. Pertama, sosok yang berilmu dan dia tahu kalau dirinya berilmu. Kedua, seorang yang berilmu namun dia tidak tahu bila dirinya berilmu.

Selanjutnya, orang yang tidak tahu dan ia tahu bahwa dirinya tidak tahu. Terakhir, orang yang tidak tahu dan tidak mengetahui bahwa dirinya tidak tahu. “Sekarang lebih banyak orang yang tidak tahu dan tidak mengetahui bahwa mereka tak tahu. Kita mau membalikkan agar banyak orang yang mau tahu, ingin tahu dan memberitahu,” pungkasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/prigi-arisandi-akrab-dengan-sungai-sejak-kecil/feed/ 0