Nia Kurniati; Komitmen Seorang Guru Terhadap Sampah

Reading time: 3 menit

Tidak banyak guru yang sadar dan peduli akan lingkungan di sekolahnya. Namun, bagi Nia Kurniati (41) memilah dan mengurangi sampah telah menjadi hal yang sangat dinikmatinya. Komitmen ini membawa sekolah tempat ia mengajar memperoleh penghargaan pelestarian lingkungan tingkat sekolah dari Pemerintah Kota Bandung.

Oleh: Nur Sany Istianty  | Artikel ini diterbitkan pada edisi 01 Vol. 3 Tahun 2010

 

Berawal dari kebingungan melihat tumpukan sampah di lingkungan tempatnya mengajar, Nia Kurniati seorang guru biologi lulusan Fakultas MIPA Unpad tahun 1988 ini bercita-cita menciptakan sekolah yang ramah lingkungan. “Saya sempat mengajukan kegiatan pemilahan sampah ke pihak Sekolah, tapi ditolak, mungkin karena waktu itu konsepnya masih belum jelas” kenangnya ketika ditemui Greeners selepas mengajar beberapa waktu lalu.

Bertemu dengan YPBB (Yayasan Biosains dan Bioteknologi) dan Ashoka membuat Nia semakin bersemangat untuk merealisasikan impiannya mengelola sampah di sekolah dengan mengajak siswa-siswinya untuk lebih peduli terhadap persoalan sampah. Melalui dukungan kedua lembaga tersebut Nia mengikuti ETIC (Environmental Teacher International Conference) yang diikuti oleh 16 negara di dunia termasuk Indonesia di Jawa Timur pada bulan Maret 2008 lalu, disini Ia banyak mendapatkan materi mengenai isu lingkungan hidup dan membaginya kepada murid-murid disekolahnya.

Melahirkan siswa-siswi yang peduli terhadap lingkungan bukanlah hal yang mudah bagi Nia. Ia seringkali dianggap terlalu galak dalam mendisiplinkan siswa-siswinya untuk membuang sampah pada tempatnya. “Mengajak buang sampah pada tempatnya aja sudah susah, apalagi memilah sampah” ujar Nia. Akhirnya sebuah tim yang beranggotakan 5 muridnya menjadi awal perjuangan Nia di SMPN 11 Bandung. Tim dengan nama “Challenge to Stop Styrofoam” lahir dengan misi untuk mengkampanyekan bahaya kemasan styrofoam dan mengurangi konsumsi styrofoam sebanyak mungkin dalam lingkungan sekolah.

“Saya sempat mengajukan kegiatan pemilahan sampah ke pihak Sekolah, tapi ditolak, mungkin karena waktu itu konsepnya masih belum jelas”

Top
You cannot copy content of this page