Jamur Ulat, Parasit Termahal di Dunia yang Terancam Punah

Reading time: 3 menit
Jamur Ulat. Foto: Shutterstock

Yartsa Gunbu atau Jamur Ulat (Ophiocordyceps sinensis) adalah spesies fungi entomopategon yang berguna bagi dunia kedokteran. Ia melekat sebagai parasit pada serangga atau artropoda, lalu membunuh sang inang dengan menembus bagian kepalanya.

Secara taksonomi, O. sinensis ahli kenal juga dengan nama Cordyceps sinensis. Jamur ini tergabung dalam genus Cordyceps yang jamak pakar temukan di dataran tinggi Tibet selama musim panas.

Menurut para ilmuwan, genus Cordyceps sendiri mencakup sekitar 400 spesies fungi. Mereka populer sebagai ‘tanaman’ obat tradisional yang telah publik manfaatkan sejak abad ke-15.

Di pasar internasional, nilai ekonomis spesies jamur ulat terbilang sangat tinggi. Sebab berkhasiat bagi kesehatan, harga fungi tersebut bisa mencapai US$20 ribu atau setara Rp289 juta per kilonya.

Karakteristik dan Ciri-Ciri Spesies Jamur Ulat

Nama binomial jamur ulat atau Cordyceps sebenarnya berasal dari dua bahasa, yaitu ‘kordyle’ atau ‘klub’ dalam aksara Yunani dan ‘-ceps’ yang berarti ‘kepala’ dalam bahasa Latin.

Jika kita perhatikan, benjolan oranye yang terdapat pada yartsa gunbu sejatinya adalah ulat yang telah mati. Sementara ”tongkat” di bawahnya adalah jamur parasit yang melahap ulat tersebut.

Ketika jamur Cordyceps menyerang suatu inang, miseliumnya menginvasi jaringan induk. Sementara bagian askokarp (tubuh buah) berbiak dengan bentuk silinder, bercabang, atau tidak beraturan.

Tubuh buah jamur ulat mengandung banyak perithecia, ukurannya kecil serta berbentuk seperti labu. Uniknya, beberapa spesies Cordyceps dapat memengaruhi perilaku serangga yang ia infeksi.

O. unilateralis mampu membuat seekor semut memanjat tanaman, lalu melekatkan dirinya sebelum akhirnya mati. Kemampuan ini bahkan pakar ketahui telah berevoluasi lebih dari 48 juta tahun silam.

Pada tahun 2007, ahli mengungkapkan bahwa O. sinensis tidak terkait dengan anggota Cordyceps lainnya. Karena itu spesies fungi ini pakar masukkan dalam famili baru, yakni Ophiocordycipitaceae.

Mengapa Jamur Ulat Berharga Sangat Mahal?

Selain Black Truffle, spesies O. sinensis tergolong sebagai jamur termahal di dunia. Harganya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Namun, apa sih keistimewaan jenis jamur ini?

Berdasarkan peta penyebaran, distribusi jamur Cordyceps sebenarnya cukup luas. Ia dapat kita jumpai mulai dari kawasan Nepal, Tiongkok, Jepang, Bhutan, Korea, Vietnam, hingga Thailand.

Namun, jamur ulat yartsa gunbu sendiri mempunyai habitat yang sangat spesifik. Ia hanya bisa kita temukan di daerah padang rumput pegunungan Tibet, khususnya di atas ketinggian 3.500 mdpl.

Proses pertumbuhan fungi ini pun tak kalah rumitnya. Seperti yang telah dijelaskan, mereka hanya terbentuk ketika jamur berhasil menginfeksi serangga, serta perlahan membunuh inangnya.

Yartsa gunbu juga membutuhkan iklim khusus dengan suhu musim dingin di bawah titik beku. Habitatnya memang sangat dingin, namun media tanahnya tak boleh mengeras secara permanen.

Dalam pengobatan tradisional Cina, jamur ulat merupakan bahan yang sangat penting. Ia diklaim berkhasiat sebagai obat tumor, menjaga kekebalan tubuh, dan suplemen penambah stamina pria.

Manfaat dan Status Konservasi Jamur Ulat

Khasiat jamur berjuluk ‘Viagra Himalaya’ ini memang sudah tersohor ke seluruh dunia. Melansir berbagai sumber, mereka menyimpan beragam nutrisi seperti protein, peptida, dan asam lemak.

Kandungan asam animo, vitamin B1, B2, B12 dan K juga diklaim terkandung pada jamur ini. Namun menurut ahli, pemanfaatan Cordyceps belum terbukti efektif sehingga butuh penelitian lebih lanjut.

Secara ekonomis, jual-beli jamur ulat memang sangat menguntungkan. Warga Nepal bahkan rela menumpuh perjalan sulit menuju pegunungan, untuk melakukan perburuan saat musim semi tiba.

Meski begitu, tak banyak yang mengatahui bahwa populasi fungi ini tergolong semakin terancam. Merujuk IUCN Red List, status konservasi O. sinensis berada di level Vulnerable atau rentan punah.

Eksploitasi secara berlebih terhadap jamur ulat liar, ahli tengarai menjadi penyebab kelangkaan spesies tersebut. Populasinya bahkan berkurang sebanyak 30% dalam waktu 15 tahun terakhir.

Taksonomi Jamur Ophiocordyceps Sinensis

Penulis : Yuhan Al Khairi

Top

You cannot copy content of this page