Lontar, Tanaman Multifungsi Identitas Nusa Tenggara Timur

Reading time: 3 menit
nusa tenggara timur
Lontar (Borassus flabellifer L.). Foto: wikimedia commons

Alat musik tradisional dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, yaitu Sasando, mengeluarkan bunyi yang unik. Tidak hanya itu, bentuknya pun unik, seperti harpa kecil yang di sangga dengan daun lontar (Borassus flabellifer L.).

Lontar merupakan salah satu jenis palem yang berdaun seperti kipas dengan tinggi mencapai 30 m. Persebarannya mulai dari India hingga Asia Tenggara, Papua Nugini sampai Australia Utara. Persebaran lontar diduga berkaitan dengan rute perdagangan India pada masa pra sejarah.

Lontar atau lebih dikenal dengan nama siwalan adalah palem yang banyak tumbuh di daerah-daerah kering seperti di pulau Jawa bagian timur, Madura, Bali dan Nusa Tenggara. Lontar telah digunakan sejak abad ke sepuluh. Pada zaman dahulu, nenek moyang kita telah mengenal kertas dari lontar dan digunakan untuk menulis dokumen kerajaan, buku, dan surat-menyurat.

Secara morfologi lontar berbatang tunggal dan kasar. Tingginya bisa mencapai 15-30 m. Tangkai daun lontar berukuran 60-120 cm dengan suri kasar, daunnya berbentuk kipas, menjari, tebal dan panjangnya 2,5 meter sampai 3 meter. Lebar tiap tajuk daunnya antara 5-7 cm. Tangkai daunnya berpelepah dan panjangnya mencapai 1 m. Warna daunnya hijau dan teksturnya agak kaku.

Lontar merupakan tanaman berumah dua karena dapat menghasilkan bunga jantan dan bunga betina. Bunganya majemuk. Pada bunga betina tersusun dalam tongkol sedangkan bunga jantan dalam susunan bulir. Panjang tongkol bunga mencapai 50 cm, sedangkan susunan bunga bulir panjangnya antara 25-30 cm.

nusa tenggara timur

Lontar (Borassus flabellifer L.). Foto: wikimedia commons

Lontar termasuk tumbuhan multifungsi. Seluruh bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan. Pohon lontar merupakan penghasil nira lontar/siwalan. Nira siwalan adalah cairan yang diperoleh dari penyadapan mayang bunga jantan pohon siwalan (Cahyaningsih, 2006). Cairan ini kemudian dikonsumsi oleh masyarakat dalam bentuk minuman yang disebut legen.

Air nira lontar biasanya dikonsumsi langsung atau diproses menjadi gula, selain itu juga dapat difrementasikan menjadi arak atau cuka. Kegunaan lainnya, empelur batang lontar dapat diambil tepungnya untuk bahan pembuat kue. Buahnya yang masih muda juga dapat dimakan.

Seperti sudah disebutkan sebelumnya, daun lontar dimanfaatkan untuk pembuatan sasando. Selain itu, daun tanaman ini juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan atap dan bahan kerajinan anyaman. Gagang daunnya dapat digunakan untuk pegangan panci, pagar halaman dan kayu bakar. Bagian batang yang keras dimanfaatkan sebagai bangunan maupun jembatan, sedangkan bagian tengahnya menjadi papan.

Dalam bidang medis, tanaman ini memiliki beberapa khasiat untuk mengobati penyakit, antara lain buahnya yang sudah tua dapat digunakan sebagai obat kulit (dermatitis), ekstrak akar muda tanaman ini untuk melancarkan air seni dan obat cacing, rebusan akar muda (decontion) untuk mengobati penyakit yang terkait dengan pernapasan. Selain itu, bunga lontar atau abu mayang (spadix) dapat digunakan untuk pengobatan sakit lever, arang kulit batang digunakan untuk menyembuhkan sakit gigi, dan rebusan kulit batang ditambah garam berkhasiat sebagai obat pembersih mulut.

Menurut litbang.pertanian.go.id, dari berbagai manfaat tersebut, manfaat ekonomi dan sosial yang dapat diperluas adalah manfaat dari nira yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan bioetanol. Walaupun manfaat dan nilai ekonominya cukup tinggi, tanaman lontar merupakan tanaman liar dan pemanfaatannya oleh masyarakat masih bersifat tradisional. Sampai saat ini belum ada upaya budidaya tanaman lontar sehingga populasnya cenderung menurun.

nusa tenggara timur

Penulis: Sarah R. Megumi

Top