Cat Air dari Tanah, Wujud Kolaborasi Antara Seni dan Alam

Reading time: 2 menit
Foto: oldnwise.com

Mengubah tanah menjadi sesuatu yang berguna– cat air, misalnya, mungkin terdengar konyol bagi sebagian orang. Namun bagi mereka yang berpikiran kreatif, tanah lebih dari sekadar “kotoran” biasa dan dapat bertransformasi menjadi suatu bentuk seni yang indah. Karen Vaughan, seorang peneliti tanah dari Universitas Wyoming Amerika Serikat, merupakan salah satu orang yang berpikir akan hal tersebut.

Karen merupakan seseorang yang berhasil mengolaborasikan antara seni dan alam dengan cara menciptakan cat air dari tanah. Ia menilai bahwa tanah memiliki warna-warna menarik yang berpotensi untuk ia jadikan cat air. Untuk menciptakan cat dari tanah, Karen harus melakukan beberapa penelitian terlebih dahulu guna memastikan jenis tanah seperti apa yang sekiranya cocok untuk ia olah menjadi cat. Karen mengumpulkan berbagai jenis tanah dari bermacam-macam lokasi, mulai dari halaman rumah hingga pegunungan.

“Setiap tanah memiliki ceritanya masing-masing. Setiap lokasi memiliki jenis tanah yang berbeda dan sejarah yang berbeda.  Hal inilah yang membuat tanah menjadi unik dan mengandung nilai seni,” ujar Karen dalam Smithsonian Magazine.

“Saya ingin mengajak orang-orang untuk mengenal tanah lebih dalam lagi dan mulai melihat tanah sebagai sesuatu yang bernilai seni. Maka dari itu, saya berinisiatif untuk menciptakan cat air dari tanah. Warna-warna tanah yang menakjubkan harus lebih dikenal luas oleh masyarakat,” tambah Karen.

Menurut Karen, tanah cocok untuk diolah kembali menjadi cat air karena ia memiliki konsistensi yang pas dan ideal. Tanah juga memiliki pigmentasi warna yang kuat. Warna-warna dari cat berbahan tanah dapat membuat suatu karya seni, lukisan khususnya, menjadi tampak lebih hidup dan berkarakter.

Manfaatkan Warna dari Alam

Untuk membuat cat air dari tanah, diperlukan serangkaian proses pemurnian supaya cat dapat bertekstur halus dan tidak berpasir. Cat yang kasar akan sulit untuk kita gunakan ketika melukis. Tanah yang telah melewati proses pemurnian dan penyaringan nantinya akan Karen campurkan dengan air, lalu campuran tersebut akan ia panggang menjadi padatan yang solid.

Warna-warna dari cat air ciptaan Karen sebagian besar berasal dari warna alami tanah itu sendiri. Maka dari itu, kebanyakan dari cat tersebut memiliki warna bernuansa coklat, oranye, dan kemerahan. Menurut Karen, warna-warna tersebut sudah indah apa adanya sehingga ia merasa tidak perlu menggunakan bahan pewarna tambahan.

“Warna cat air mencerminkan masa lalu geologis dari tanah yang digunakan, dan semuanya terlihat sangat indah. Warna merah dan oranye menggambarkan bahwa tanah telah terkena efek oksidasi dari iklim yang intens, dan warna coklat tua menggambarkan

bahwa tanah kaya akan kandungan zat organik. Warna tanah yang cerah seperti kuning muda dan biru kehijauan mencerminkan bahwa tanah memiliki kandungan mineral tertentu, seperti belerang misalnya,” papar Karen.

“Kalaupun ingin membuat warna baru, saya akan memanfaatkan pewarna alami yang berasal dari alam. Cat air akan saya campurkan dengan pigmen warna yang berasal dari madu, gom arab, atau gliserin alami,” tambahnya.

Saat ini, Karen bekerja sama dengan para seniman di Wyoming untuk mengembangkan produk cat air ciptaannya. Tak sedikit seniman begitu mengapresiasi keberadaan cat unik dan ramah lingkungan tersebut. Kehadiran cat berbahan tanah telah menghembuskan nafas baru dalam dunia seni, dan membuktikan bahwa seni dan alam dapat berjalan beriringan dengan harmonis.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Smithsonian Magazine

Oldnwise

Top
You cannot copy content of this page