calendar
Selasa, 19 Juni 2018
Pencarian
hari tanpa tembakau
Menteri Kesehatan Nila F Moeloek. Foto: greeners.co/Dewi Purningsih

Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Tembakau Membunuh 7 Juta Orang Setiap Tahun

Berita Harian

Jakarta (Greeners) – Diprakarsai oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tanggal 31 Mei setiap tahunnya diperingati sebagai World No Tobacco Day atau Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). Tahun ini tema global peringatan HTTS adalah “Tobacco Breaks Heart” yang menyoroti dampak rokok pada jantung. Sementara itu, Kementerian Kesehatan menetapkan tema “Rokok Penyebab Sakit Jantung dan Melukai Hati Keluarga”.

“Kami terus melakukan sosialisasi terhadap dampak buruk dari merokok. Perlu penyadaran generasi muda akan bahaya dari rokok. Perokok ini kita berikan informasi tentang bahaya merokok, seperti di sekolah, dengan tujuan menurunkan angka perokok di Indonesia dan penyakit yang diakibatkan dari merokok seperti jantung, kanker paru-paru, stroke,” ujar Menteri Kesehatan Nila F Moeloek pada pidato Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2018 di Auditorium Siwabessy di Kementerian Kesehatan, Kamis (31/05/2018).

Nila mengatakan, penyakit kardiovaskular seperti penyakit jantung dan stroke membunuh 17,7 juta orang di dunia setiap tahunnya atau sekitar 31% dari jumlah kematian global. Di Indonesia, stroke (21,1%) dan penyakit jantung (12,9%) menjadi pembunuh nomor satu dan dua terbesar dari seluruh kematian di Indonesia.

BACA JUGA: 12 Tahun Semburan Lumpur Lapindo, Kesehatan Warga Terancam

Mengutip data WHO (2017), setiap tahun di dunia terjadi 15 juta kematian dini akibat penyakit tidak menular (PTM) pada kelompok usia 30-69 tahun. Sebanyak 7,2 juta kematian tersebut diakibatkan konsumsi produk tembakau dan 70% kematian tersebut terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia.

WHO juga menyatakan bahwa tembakau adalah produk yang setiap tahun mengakibatkan lebih dari 7 juta kematian dan kerugian ekonomi sebesar USD 1,4 triliun yang dihitung dari biaya perawatan dan hilangnya produktivitas karena kehilangan hari kerja.

“Kebanyakan orang tahu bahwa merokok menyebabkan kanker dan penyakit paru-paru, tapi banyak orang tak sadar bahwa rokok juga menyebabkan penyakit jantung dan stroke. Pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia ini, WHO mengajak masyarakat mengetahui fakta bahwa tembakau tak hanya menyebabkan kanker tapi juga merusak jantung,” kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

Menguatkan hal tersebut, data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bidang Kesehatan tahun 2016 menyatakan bahwa pembiayaan perawatan kesehatan untuk penyakit jantung mencapai Rp7,4 triliun, lebih dari 10% dibanding total iuran BPJS tahun 2016 sebesar Rp67,4 triliun.

“Tahun 2016, perokok remaja meningkat menjadi 8,8% dan harus turun di angka 5,2% sesuai dengan RPJMN. Saya kira hal itu merupakan suatu hal yang berat dan harus dilakukan secara bersama-sama,” ujar Nila.

BACA JUGA: Kanker pada Anak, Orangtua Diimbau Rutin Periksa Kesehatan Anak

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pegendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Anung Sugihantono menambahkan, prevalensi merokok terutama pada usia muda dibandingkan dengan usia dewasa mengalami peningkatan di semua daerah di Indonesia. Peningkatan ini mengakibatkan hipertensi dan tentunya penyakit jantung akan meningkat di Indonesia. Tentu hal ini menimbulkan beban biaya kesehatan tidak kecil yang harus ditanggung pemerintah maupun oleh masyarakat atau dengan penyelenggaraan asuransi lainnya.

Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Konsumsi dan Pengeluaran BPS tahun 2015 mencatat bahwa rata-rata pengeluaran bulanan penduduk termiskin diperuntukkan untuk membeli padi-padian (15,51%) diikuti produk tembakau dan sirih (12,56%). Sementara, untuk telur susu dan protein lainnya persentasenya sangat kecil, yakni hanya 1,98% saja.

“Kita lihat angka yang merokok itu orang miskin atau tidak mampu. Biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi rokok kedua besar dengan kebutuhan konsumsi pangan. Datanya nomor satu beras, nomor dua rokok, jadi tidak diberikan makanan untuk anaknya supaya sehat,” kata Nila.

Data BPS tersebut juga menunjukkan konsistensi bahwa selama 10 tahun terakhir pengeluaran untuk rokok mengalahkan jumlah pengeluaran untuk kebutuhan bahan pangan sumber protein yang bermanfaat bagi peningkatan gizi keluarga.

Penulis: Dewi Purningsih

Top