Atrial Fibrilasi Tingkatkan Risiko Terserang Stroke

Reading time: 2 menit
atrial fibrilasi
Ilustrasi: pixabay.com

(Greeners) – Memasuki usia 40 tahun potensi seseorang mengalami kelainan irama jantung akan semakin meningkat tiap tahunnya. Ketika tidak ditangani dengan baik, kelainan irama jantung bisa mengakibatkan penderitanya mengalami serangan stroke lebih cepat dari orang yang hanya terkena hipertensi atau diabetes.

Kelainan irama jantung yang dimaksud adalah Atrial Fibrilasi (AF). Atrial Fibrilasi merupakan kelainan irama jantung kamar atas (atrium). Dalam hal ini, jantung tidak bisa berkoordinasi menyedot dan memompa darah sehingga terjadi gangguan alian darah.

Kemungkinan terjadinya AF semakin meningkat seiring bertambahnya usia. Tingkat prevalensi tertinggi terjadi pada rentang usia 75-80 tahun, yaitu sebesar 10-15%.

BACA JUGA: Olahraga untuk Jantung, Otot dan Sendi

Gejala AF yang paling mudah dideteksi adalah detak jantung penderita yang menjadi tidak teratur, bisa cepat, lambat, atau kombinasi antara keduanya.

“Jika AF itu cepat dapat disertai dengan keluhan gagal jantung, seperti sesak napas dan cepat lelah. Jika lambat disertai dengan keluhan seperti mau pingsan dan kehilangan kesadaran sementara,” kata dr. Antono Sutandar, SpJP(K), wakil chairman Siloam Heart Institute (SHI).

Kardiolog yang juga senior konsultan di Raffles Hospital Singapura ini menambahkan, pencetus kelainan irama jantung dapat berupa kelainan tiroid, kelainan atrium yang membesar akibat hipertensi, kelainan katup jantung, atau jantung yang lemah dan sebagian kecil disebabkan oleh kelainan genetik.

atrial fibrilasi

Perbandingan aliran listrik dan grafik denyut jantung dalam kondisi normal dengan Atrial Fibrilasi. Gambar: Ist.

Menurut dokter Antono, tidak semua penderita AF mengalami detak jantung yang tidak teratur dalam waktu terus-menerus (Persistent AF), adapula AF yang hilang timbul (Paroxysmal AF). Namun yang pasti, keduanya disertai dengan risiko stroke yang meningkat.

“Risiko stroke akan meningkat jika penderita ada keluhan gagal jantung, hipertensi, diabetes, berusia lanjut di atas 75 tahun, memiliki sejarah stroke sebelumnya dan ada penyempitan pembuluh darah otak, jantung atau kaki,” kata Antono.

Untuk meminimalisir serangan stroke, penderita AF dapat mengonsumsi obat pengencer darah. Obat pengencer darah dibagi menjadi dua, yaitu antiplatelet dan anticoagulant. Namun anticoagulant lebih efektif untuk mencegah stroke terhadap penderita AF. Keputusan untuk menggunakan anticoagulant tersebut berdasarkan pertimbangan keuntungannya dapat menurunkan stroke sekitar 60-70%, meski tetap ada risiko perdarahan sebesar 3-5% per tahun.

BACA JUGA: Kenali dan Cegah Diabetes Mellitus Sedini Mungkin

Itupun bukan satu-satunya cara. Bagi penderita yang mengalami kontraindikasi atau tidak tahan terhadap anticoagulant, terdapat pilihan lain yaitu dengan menutup kuping kamar atas jantung dan pemberian obat antiplatelet dengan risiko perdarahan yang lebih kecil.

Sementara itu mengenai penanganan AF, chairman Siloam Heart Institute (SHI), dr. Maizul Anwar, SpBTKV menjelaskan, penanganan AF dapat dilakukan melalui 2 cara, yaitu rate control (hidup berdampingan dengan AF untuk mencari keseimbangan irama supaya tidak terlalu cepat atau lambat) dan rhythm control (mengembalikan irama menjadi normal). “Dua cara tersebut hasil jangka panjangnya tidak akan jauh berbeda,” kata Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Torak dan Kardiovaskuler Indonesia ini.

Adapun untuk orang yang ingin mengetahui lebih lanjut apakah dirinya terdiagnosa AF bisa melakukan beberapa pemeriksaan yaitu rekam jantung (elektrokardiogram/ EKG), USG jantung (ekokardiografi/ ECHO), treadmill, MRI, CT Scan, kateterisasi jantung, pemasangan alat rekam jantung hingga operasi bedah jantung.

Penulis: AT/G39

Top