YLKI Minta Hasil Investigasi Kasus Buvanest Spinal Terbuka

Reading time: 1 menit
Ilustrasi: Ist.

Jakarta (Greeners) – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyatakan bahwa hasil dari investigasi kasus penggunaan obat anestesi yang tidak sesuai dengan label di Rumah Sakit Siloam, Lippo Village, Karawaci, Tangerang harus dibuka secara lugas kepada publik dan tidak boleh ditutup-tutupi.

Anggota Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi menegaskan, kasus tertukarnya label obat dengan kandungan yang berbeda di dalamnya dan mengakibatkan dua orang meninggal dunia tersebut merupakan pelanggaran yang serius.

Menurut Tulus, produsen obat harus bertanggung jawab secara pidana dan perdata karena paling tidak, kasus ini sudah melanggar undang-undang (UU) Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 dengan ancaman hukuman pidana kurungan maksimal 5 tahun dan pidana denda maksimal 2 miliar rupiah.

“Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) harus mengusut tuntas kasus ini,” jelasnya, Jakarta, Jumat (27/02).

Selain itu, ia menuturkan kalau kasus ini tidak bisa hanya dilihat dari kesalahan pelabelan saja namun juga dari aspek perlindungan konsumen. Pihak berwenang yang melakukan investigasi, lanjutnya, harus melihat dari sisi jaminan keamanan pelayanan kesehatan, kefarmasian, dan penyelenggaraan rumah sakit.

“Terkait kehati-hatian dalam proses produksi obat, kasus tidak sesuainya label dengan kandungan obat menjadi bukti bahwa cara pembuatan obat yang baik oleh produsen tidak berjalan dengan benar”, tambahnya.

Di tempat terpisah, sebelumnya, Manajer Komunikasi Eksternal PT Kalbe Farma, Hari Nugroho, saat dihubungi oleh Greeners mengakui kalau pihaknya secara inisiatif dan sukarela telah menarik peredaran obat Buvanest Spinal dari peredaran sebagai bentuk tindakan pencegahan.

“Kalbe sudah menarik Buvanest Spinal sejak 12 Februari 2015 lalu dan juga telah berkoordinasi dengan BPOM,” terangnya.

Menurutnya, penarikan obat anestesi Buvanest Spinal 0,5 persen Heavy 4 ml/5 (ABVSA) dengan nomor batch 630077 merupakan tindakan preventif. Kontrol kualitas dilakukan pihak internal perusahaan dalam kurun waktu tidak ditentukan. Pengawasan mutu obat bisa berupa pengujian sampel atau penarikan produk jika dianggap perlu.

(G09)

Top