David Sutasurya: Kita Berada di Ambang Keruntuhan Ekologis

Reading time: 4 menit
David Sutasurya. Foto: greeners.co/Gede Surya Marteda

David Sutasurya. Foto: greeners.co/Gede Surya Marteda

Berawal dari Kecintaan Pada Alam

Ketertarikan David dengan alam sudah terbentuk dari sejak kecil. Rajin menonton program-program tentang fauna, flora, dan eksplorasi, semakin menambah keingintahuannya tentang alam. David kecil mulai mengembangkan ketertarikannya dengan memelihara binatang-binatang, berkebun, bereksperimen dengan alam.

“Waktu itu dari perpustakaan dapat desain terrarium, pas ada tukang bangunan di rumah waktu itu minta dibuatkan,” kenang David. Beranjak SMP, David mulai mengorganisasi teman-temannya untuk bisa menikmati alam secara langsung, seperti ke air terjun, hutan dan aktivitas alam lainnya.

David mulai aktif berkecimpung pada isu lingkungan saat ia masih mengecap pendidikan di bangku perkuliahan. Berangkat dari kecintaannya kepada alam, David mendirikan Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) pada tahun 1993 sembari menyelesaikan studinya di jurusan Biologi di salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Bandung.

Bahkan, David memilih menjadikan LSM sebagai tempat magangnya untuk mempersiapkan organisasi YPBB agar menjadi wadah perjuangan kelak. “Saya yang pertama Kerja Praktik di LSM di Biologi ITB,” kenangnya.

Sebulan setelah David lulus, kegiatan pertama YPBB langsung diselenggarakan bersama Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP). Kegiatan awal dari YPBB lebih condong ke aktivitas dan edukasi di alam serta pengawasan keadaan alam di TNGP pada waktu itu. Kegiatan ini diselenggarakan dari tahun 1995 sampai sekitar tahun 2003.

Nama YPBB kemudian mulai dikenal dan sering diundang ke acara-acara LSM lain. Dari sini, David mulai berkenalan dengan isu lingkungan yang lebih bersifat politis. Dia mulai ambil bagian dalam jejaring komunitas lingkungan yang lebih besar seperti WAHLI dan Bioforum dan mempelajari isu-isu yang lebih kompleks.

“Waktu itu dari WALHI mengenal isu seperti pencemaran lingkungan oleh aktifitas-aktifitas perusahaan yang merusak danmulai mengenal isu bioprospeksi waktu ikut Bioforum,” kenangnya. Mulai sejak itu, David melihat permasalahan yang terjadi di lingkungan lewat sudut pandang yang lebih luas.

David memberikan contoh pengalamannya di TNGP, “TNGP waktu itu relatif terjaga, namun kenyataannya memang dikelilingi aktifitas ekonomi intensif, sehingga bila sedikit saja ada switch, hancur semua.”

(selanjutnya)

Top
You cannot copy content of this page