BNPB: Beberapa Provinsi Alami Kekeringan Parah dan Defisit Air

Reading time: 1 menit
Ilustrasi: Ist.

Jakarta (Greeners) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan beberapa provinsi di Indonesia mengalami kekeringan parah dan beberapa diantaranya mengalami defisit air. Cadangan air untuk wilayah Bali, Jawa dan Nusa Tenggara sudah tergolong minim karena secara kuantitaf defisit air, terutama di Jawa dan Bali, mencapai 18,79 miliar meter kubik.

Beberapa daerah tersebut, dikatakan oleh Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, berada di Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Lampung, Sumatra Selatan dan Sulawesi Selatan. Bahkan, berdasarkan data BMKG, selama 60 hari terakhir hujan tidak turun di wilayah tersebut.

“Berdasarkan hasil kajian keseimbangan air juga, wilayah Bali, Jawa dan Nusa Tenggara sekarang ini mengalami defisit air, yang artinya ketersediaan air sudah tidak sesuai kebutuhan,” jelasnya saat dihubungi oleh Greeners, Jakarta, Kamis (30/07).

BNPB, lanjut Sutopo, juga memperkirakan bahwa berdasarkan data dari proyeksi neraca air per pulau di Indonesia tahun 2020, Jawa dan Bali akan mengalami defisit air pada musim kemarau hingga 44 miliar meter per kubik. Sedangkan untuk Nusa Tenggara diperkirakan akan mengalami defisit air sebesar 4,6 miliar meter kubik pada musim kemarau 2020 mendatang.

Menurut data pada tahun 2007 tentang ketersediaan dan kebutuhan air per tahun yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di pulau Jawa berjumlah sekitar 30 miliar meter kubik per tahun. Sementara kebutuhan air di Jawa pada tahun 1995, sebanyak 62 miliar meter kubik per tahun.

“Pada 1995 itu, Pulau Jawa sudah mengalami defisit air sebesar 32 miliar kubik per tahun. Begitu juga dengan Bali yang memiliki ketersediaan air sekitar 1 miliar meter kubik per tahun. Sedangkan kebutuhannya mencapai sekitar 2,5 miliar per tahun. Artinya, pada 1995, Pulau Bali mengalami defisit air sekitar 1,5 miliar meter kubik per tahun,” tutupnya.

Penulis: Danny Kosasih

Top