Revitalisasi Kota Tua, Butuh Kerjasama Semua Pihak

Reading time: 2 menit
Museum Fatahillah di Kota Tua, Jakarta. Foto: greeners.co/Gloria Safira

Jakarta (Greeners) – Sebagai salah satu tempat wisata di Jakarta, Kota Tua tengah dibenahi karena mengalami pencemaran lingkungan yang terjadi dalam beberapa waktu belakangan. Pemprov DKI bersama dengan PT Pembangunan Kota Tua Jakarta (JOTRC) dan Kepala Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua Jakarta menyatakan dengan tegas akan membangun kembali keasrian yang dimiliki Kota Tua.

CEO JOTRC, Lin Che Wie, menyatakan ingin membawa perubahan agar wisatawan serta komunitas musik yang berada di kawasan Kota Tua Jakarta dapat menjaga kebersihan dan kelestarian lokasi tersebut.

“Bukan hanya sampah namun tembok di Kota Tua pun dijadikan sebagai tempat untuk orang buang air kecil dan hal itu didiamkan saja oleh masyarakat sekitar yang berada di kawasan ini. Hal ini sudah menyalahi aturan, oleh karena itu kita harus tegas,” ujarnya saat ditemui di kawasan Kota Tua, Jakarta, Jumat (29/4) lalu.

Hal ini dibenarkan oleh M. Kadir Sasmita selaku Kepala Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua Jakarta. Ia menambahkan bahwa pemerintah sudah mencanangkan program revitalisasi Kota Tua yang terdiri dari beberapa kegiatan seperti membuat pedestrian guna mempercantik lingkungan, merelokasi dan membina Pedagang Kaki Lima (PKL) yang ada di lingkungan Kota Tua, dan membina komunitas dan PKL agar dapat bersinergi dengan pemerintah untuk memperbaiki keadaan Kota Tua.

“Revitalisasi tidak akan berjalan jika hanya Pemerintah Provinsi Jakarta yang bekerja sendiri. Maka dari itu, kami membutuhkan kerjasama dari tiga pilar ini yakni JOTRC, masyarakat, dan komunitas yang berada di Kota Tua,” ujarnya.

Kadir juga mengungkapkan keprihatinannya saat empat bulan lalu dirinya dilantik menjadi Kepala UPK Kota Tua. Saat itu ia mendapati keadaan Kota Tua yang terbilang kotor dan tidak terawat. Oleh sebab itu, ia ingin berkonsentrasi untuk membangun Kota Tua menjadi tempat wisata yang bersih dan asri agar dapat membuat nyaman baik untuk wisatawan dan masyarakat yang berada di kawasan ini.

Meski terkesan kurang terawat, lokasi wisata Kota Tua masih ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Namun, situasi ini memunculkan banyak PKL yang tidak memiliki izin beroperasi di kawasan ini. Kadir mengatakan bahwa kebutuhan ekonomi yang mendesak membuat para PKL tersebut mencari nafkah dari kedatangan turis di kota yang dahulu dikenal dengan nama Batavia ini.

“Saya berharap Kota Tua bisa menjadi public space yang bisa dicintai dan dijaga oleh semua yang datang berkunjung baik dari wisatawan juga komunitas serta pemerintah,” pungkasnya.

Penulis: Gloria Safira

Top