Sumber Data Untuk Pangan Non Beras Masih Minim

Reading time: 2 menit
Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Jakarta (Greeners) – Pusat Kajian Pangan Tradisional, Universitas Gajah Mada menyayangkan minimnya data soal potensi keragaman pangan di Indonesia yang akhirnya membuat negara ini masih sangat tergantung pada beras. Padahal, untuk mencapai kedaulatan pangan, negara harus melepaskan ketergantungan pada satu komoditi saja.

Staf ahli Pusat Kajian Pangan Tradisional UGM, Murdijati Gardjito, menyatakan, bahwa selama ini Badan Pusat Statistik menganak tirikan tanaman sumber pangan selain beras sehingga data-data tentang pisang uter, sukun, labu kuning, umbi-umbian, atau yang lain sangat kurang. Oleh karena itu, lanjutnya, Data-data terkait besaran produksi atau konsumsinya menjadi sangat sulit ditemukan.

“Jika tidak ada datanya, akan sulit untuk mengembangkannya, sehingga upaya-upaya untuk menggali potensi dari sumber pangan non-beras tersebut menjadi terganjal dan tidak berkembang,” terang Murdijati pada Diskusi Pakar tentang pangan non beras yang digelar Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) di Hotel Ambara, Jakarta, Kamis 23 Oktober 2014.

Padahal, menurut Murdijati, berdasarkan data dari Kementerian Pertanian, pada tahun 1954, pola makan masyarakat Indonesia masih bisa dikatakan bervariasi. Saat itu, beras memang sudah menguasai separuh sumber bahan makanan pokok masyarakat. Namun, ubi kayu dan jagung masih bisa bersaing. Hingga pada tahun 1984, pergeseran pola makanan masyarakat Indonesia mulai menjurus hanya pada beras saja.

“Ini semakin memprihatinkan ketika pada tahun 2010, sumber pangan yang lain mulai bisa dikatakan menghilang. Masyarakat Indonesia akhirnya mulai sangat tergantung pada beras sehingga kebutuhan untuk impor komoditi tersebut masih saja tinggi,” tambahnya.

Selain kurangnya data dari BPS tersebut, Ia melanjutkan, permasalahan juga muncul dari adanya program pemerintah yang justru mendorong masyarakat memakan beras. Adanya beras miskin (raskin) yang masuk sampai ke daerah-daerah dan dibagikan dengan gratis bahkan murah membuat masyarakat semakin sering mengonsumsi beras.

Sekertaris Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Willy Kumentas, turut mengamini hal tersebut. Dia menuturkan kalau sudah sejak lama Kepulauan Sangihe, menjadikan sagu sebagai sumber pangan utamanya. Namun, semenjak adanya kebijakan raskin, konsumsi masyarakat pun mulai beralih ke beras.

“Saya pikir di Sangihe, masyarakatnya beralih ke beras karena raskin ini masuk,” ujar Willy menutup perbincangan.

(G09)

Top
You cannot copy content of this page