Jamur Bintang, Fungi Unik yang Punya Banyak Lengan

Reading time: 3 menit
Meski tidak beracun, jamur ini tidak untuk manusia konsumsi. Foto: Shutterstock

Jamur merupakan salah satu organisme yang paling unik. Bukan cuma pola hidup dan reproduksinya, beberapa spesies jamur juga memiliki morfologi yang berbeda. Seperti jamur bintang, penamaan jamur ini merujuk pada penampilannya yang sangat mirip seperti bintang.

Jamur bintang atau earth star merupakan jamur saprobik yang berasal dari keluarga Geastraceae. Nama ilmiahnya adalah Geastrum saccatum, sehingga spesies ini tergabung pula dalam genus Geastrum.

Secara klasifikasi, keluarga Geastraceae sebenarnya diisi oleh delapan genus jamur. Tiap-tiap kelompoknya mempunyai tampilan yang mirip, yakni memiliki tubuh buah bulat yang berfungsi sebagai tempat spora.

Bahkan, genus Geastrum sendiri setidaknya punya 300 anggota spesies. Selain G. saccatum, spesies jamur bintang yang cukup dikenal oleh masyarakat adalah G. triplex atau collared earthstar.

Morfologi dan Ciri-Ciri Jamur Bintang

Tampilan jamur bintang sejatinya cukup indah. Sebelum mekar, jamur tersebut tampak seperti telur dengan paruh yang runcing. Namun saat mekar, ia mampu menghasilkan 4–9 lengan dengan warna krem.

Lengannya itu sebenarnya adalah bagian dari kulit luar yang terkelupas. Warna kulit luarnya ini biasanya cokelat emas atau cokelat kekuningan, serta memiliki bentuk agak segitiga atau tampak seperti bintang.

Ukuran jamur berkisar 2–5 cm saat mekar. Ketika kulit luar terkelupas, tampaklah sebuah tempat spora berbentuk bundar dengan lebar 2 cm. Ini memiliki pori tengah yang dikelilingi cakram apikal berwarna cokelat.

Bila kita sentuh, permukaan bola spora itu terasa kasar dan bergerigi. Bagian interior berwarna putih saat muda, tetapi berubah menjadi cokelat atau lebih gelap ketika jamur mencapai usia dewasa.

Spora earth star diketahui berbentuk tepung dengan campuran serat berdinding tebal. Serat tersebut dikenal sebagai capillitium, dengan dimensi 3,5–4,5 mikrometer berdasarkan tinjauan mikroskopis.

Habitat dan Distribusi Jamur Bintang

Jamur bintang merupakan spesies kosmopolitan. Artinya fungi tersebut dapat kita temukan di banyak tempat, serta dapat beradaptasi dengan baik di wilayah tropis seperti Asia Tenggara.

Di Indonesia sendiri, spesies jamur ini sempat ditemukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat melalui Resor Agam di kawasan hutan Cagar Alam Maninjau.

Petugas mengatakan bahwa jamur tersebut ditemukan tidak jauh dari titik sebaran populasi bunga Rafflesia tuan-mudae, yang mana sempat mekar pada awal bulan Januari tahun 2020 silam.

Selain Indonesia, jamur yang tumbuh secara berkelompok dan soliter ini bisa kita jumpai di Amerika Serikat, Argentina, Uruguay, Brasil, China, Kanada, Kongo, Kuba, Meksiko, hingga Panama.

Bahkan, spesies satu ini cukup umum ditemukan pada hutan kering di wilayah Hawaii, Afrika Selatan, Afrika Barat, Tanzania, India, sampai pulau-pulau kecil yang ada di daerah Trinidad dan Tobago.

Kandungan dan Manfaat Jamur Bintang

Jamur bintang tidak tergolong sebagai edible fungus. Mereka memang tidak beracun, tetapi tidak bisa dikonsumsi karena rasanya yang pahit. Selain itu, jamur ini memiliki tekstur yang keras dan kaya akan serat.

Meski begitu, jamur berordo Geastrales itu diketahui mempunyai sifat antiinflamasi, antioksidan, dan sitotoksik. Walau masih jarang diteliti, potensinya sebagai bahan baku obat terbilang sangat besar.

Sama halnya dengan G. triplex, kerabat dari jamur bintang ini diketahui mengandung senyawa bioaktif ergosterol dan peroksiergosteroldan. Ia juga menyimpan asam lemak seperti palmitat, miristat, dan sebagainya.

Bahkan sejak dahulu kala, spesies G. triplex telah diolah menjadi obat oleh bangsa Tiongkok. Mereka menggunakan jamur ini sebagai pereda radang saluran pernapasan, pendarahan, hingga pembengkakan.

Sebagai spesies dengan genus yang sama, bukan tidak mungkin earth star menyimpan potensi yang sama. Namun sebelum dapat dibuktikan secara klinis, sebaiknya hindari untuk mengonsumsi jamur tersebut.

Taksonomi Geastrum Saccatum

Penulis : Yuhan al Khairi

Top

You cannot copy content of this page