Choky Netral Akan Melanjutkan Petisi Tolak Sirkus Lumba-Lumba

Reading time: 2 menit
Choky Netral. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Jakarta (Greeners) – Pernah menonton atraksi lumba-lumba? Melihatnya melompati lingkaran yang bahkan terkadang lingkaran tersebut disertakan dengan kobaran api agar terlihat menantang. Atau mungkin, berfoto bersama mamalia laut yang menggemaskan ini.

Menyaksikan atraksi hewan laut yang memiliki kecerdasan tinggi ini memang cukup memberikan hiburan tersendiri meskipun harus mengeluarkan kocek yang tidak sedikit. Namun berdasarkan banyak penelitian, kecerdasan hewan laut ini sangat berbeda jika berada di dalam kolam penangkaran, khususnya untuk dilatih menjadi hewan sirkus, dibandingkan dengan lumba-lumba yang hidup bebas bersama kelompoknya di laut lepas.

Pasalnya, banyak ditemukan perlakuan buruk yang diterima oleh lumba-lumba atraksi tersebut yang mempengaruhi kecerdasan mereka. Apabila mereka sudah mengalami stres yang cukup tinggi, maka hewan mamalia ini mampu menyerang manusia termasuk pelatihnya sendiri.

Christopher Bollemeyer, atau akrab disapa Choky Netral, adalah satu dari beberapa public figure yang peduli dan ikut mengkampanyekan penolakan terhadap sirkus atau atraksi lumba-lumba.

Melalui petisi yang telah dibuat pada tahun 2012 lalu di situs www.change.org/stopsirkuslumba, pemetik gitar dari band Netral ini bersama banyak orang yang mendukung petisi tersebut telah berhasil menekan dan membuat perusahaan-perusahaan besar, seperti Garuda Indonesia, Carrefour, Hero, Giant, Lottemart dan Ace Hardware menghentikan dukungannya terhadap pelaksanaan sirkus lumba-lumba.

“Sirkus lumba-lumba sama sekali tak mendidik, malah melecehkan nilai konservasi. Itu cuma pembenaran eksploitasi satwa liar untuk kepentingan bisnis dan perdagangan illegal satwa. Sirkus mencetak generasi yang tak peka kelestarian satwa liar di habitat alaminya,” tegas Choky saat ditemui di sebuah acara di Jakarta beberapa waktu lalu.

Bahkan, kepada Greeners, Choky menyebutkan bahwa pelaksanaan bisnis sirkus lumba-lumba keliling sudah dilarang di seluruh dunia. Ia mengatakan, bahwa hanya Indonesia saja satu-satunya negara yang masih membiarkan kekejaman ini berlangsung.

Pria berjanggut lebat ini juga mengaku sangat miris jika membayangkan apa yang telah dialami oleh lumba-lumba sirkus hanya untuk kepentingan bisnis dan hiburan. Perut yang sengaja dibuat lapar, diangkut dengan truk yang sangat sempit, gelap dan pengap. Bahkan klorin yang digunakan di dalam kolamnya pun, lanjut Choky, sering membuat mata mereka buta.

“Bunyi yang mereka dengar dalam truk, pesawat, atau musik keras pertunjukkan, sering membuat kerusakan pada sistem sonar mereka. Jadi enggak heran kalau kita sering lihat berita banyak ditemukan lumba-lumba sirkus yang mati. Yang lebih parah, semua itu ditutupin sama dalih pendidikan dan pelestarian,” tambahnya.

Untuk kedepannya, Choky mengaku akan melakukan pembaharuan terkait petisi yang telah dibuat. Hal ini akan dilakukan untuk kembali menekan perusahaan-perusahaan yang masih saja mendukung atau bahkan mensponsori industri yang mengerikan ini. Selain itu, ia juga ingin ada pembelajaran dan pengetahuan yang didapatkan oleh masyarakat bahwa atraksi lumba-lumba adalah tindakan yang sangat kejam terhadap hewan.

(G09)

Top
You cannot copy content of this page