Rara Sekar: Berkebun Menciptakan Ketahanan terhadap Krisis Iklim

Reading time: 2 menit
Rara Sekar Larasati
Rara Sekar Larasati. Foto: Instagram Rara Sekar

Kegiatan berkebun justru banyak membuat Rara Sekar Larasati belajar mengenai isu lingkungan dan pengaruhnya terhadap manusia. Sejak 2016, ia mulai mendalami pengetahuan mengenai isu tersebut. Di rumahnya di Sentul, Bogor, musisi dan peneliti muda ini menekuni aktivitas berkebun dan membuat kompos bersama tetangganya.

Lulusan Magister Universitas Wellington ini menceritakan bahwa ia mendapatkan pengetahuan mengenai berkebun saat tinggal di Selandia Baru. Karena sebagian besar masyarakat di sana memiliki aktivitas utama berkebun. Mereka juga saling bertukar hasil panen dari kebun masing-masing.

Baca juga: Anavaliza Atmadja: Say No to Plastic

“Di sana berkebun bukan sekadar menanam makanan, tapi untuk menciptakan masyarakat yang memiliki ketahanan terhadap krisis iklim, sosial, air, pangan dan membangun solidaritas,” ujar Rara dalam acara “Nanti Kita Cerita Tentang Ham” di Jakarta Selatan, Kamis, 30 Januari 2020.

Di sana, lanjut Rara, selain sebagai hobi, berkebun juga menjadi suatu sikap mengambil kembali ruang publik untuk kepentingan bersama. “Masyarakat juga mengembalikan hal-hal yang dimiliki oleh segelintir orang-orang untuk berkebun.”

Rara Sekar

Rara Sekar Larasati dan Ben Laksana. Foto: Instagram Rara Sekar

Rara yang mengambil studi Antropologi Budaya ini juga menyinggung bahwa Indonesia belum mampu untuk mendesain seseorang berpikiran kritis. Misalnya dalam menyuarakan apa yang menjadi kebutuhan untuk masa depan. Ia mencontohkan, di Selandia Baru, anak taman kanak-kanak sudah mampu melakukan aksi menuntut udara bersih dan bebas dari asap rokok 2030. “Dari usia kecil mereka bisa meminta hal-hal yang menurut mereka penting,” kata dia.

Dalam menyuarakan isu sosial, Rara dan suami, Ben Laksana, juga aktif dalam podcast mereka yang bernama Benang Merah. Keduanya membuka ruang diskusi alternatif mengenai isu sosial yang terjadi di masyarakat. Pada isu sampah, misalnya, Rara dan Ben mendorong pemerintah agar lebih serius menangani pengelolaannya. Sebab masalah sampah bukan masalah untuk membeli sedotan stainless atau totebag.

Baca juga: Primata Band Serukan Bahaya Pencemaran Udara

Ia menilai harus ada sistem pemilahan sampah yang lebih terintegrasi. Pengangkutan sampah dari rumah ke rumah bukan hanya dibawa ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) tanpa adanya pemilahan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). “Indonesia harus lebih tegas dalam  mengurangi sampah yang dikirim dari  negara luar, kita bukan tempat sampah,” ucap Rara.

Menurut Rara, ketiadaan regulasi mengenai pengolahan limbah dari industri juga memungkinkan banyak limbah yang mencemari air maupun sumber daya alam Indonesia. “Kemungkinan itu malah makin memperparah, dengan maraknya industri pabrik-pabrik itu meningkatkan polusi gas metana yang ada. Harusnya kita mulai memikirkan menurunkan karbon Indonesia bukan malah meningkatkan emisinya,” ujar Rara .

Penulis: Ridho Pambudi

Top
You cannot copy content of this page