Indonesia Masuk Dalam Negara Dengan Masalah Malnutrisi Serius

Reading time: 2 menit
Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Jakarta (Greeners) – Indonesia merupakan salah satu dari tujuh belas negara di dunia dengan tiga masalah gizi (malnutrisi) yang serius. Menurut laporan dari Global Nutrition tahun 2014, stunting (tinggi badan menurut umur yang kurang), wasting (berat badan menurut tinggi badan yang kurang), dan obesitas (kegemukan) merupakan bagian dari masalah gizi yang serius tejadi di negara-negara dunia termasuk Indonesia.

Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Prof. dr. Endang L. Achadi, MPH, Dr. PH memaparkan, berdasarkan riset dasar kesehatan (Riskesdas) yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2013 saja menunjukkan bahwa jumlah keseluruhan kasus stunting yang terjadi terutama pada anak di bawah lima tahun (balita) sangat tinggi, yaitu sekitar 37,2 persen.

Ia menjelaskan, kasus stunting pada anak menunjukkan bahwa kekurangan gizi kronis dan berulang dapat terjadi pada usia dini kehidupan. Terutama pada 1000 hari kehidupan pertama dengan rincian 270 hari berada pada kandungan, dan 730 hari atau hingga saat anak berumur dua tahun. Kondisi seperti ini, jelasnya, tidak hanya berdampak pada tinggi badan, namun juga akan mengganggu perkembangan kognitif dan kecerdasan anak nantinya.

“Kelompok 1000 hari pertama dalam kehidupan dampaknya bisa bersifat permanen. Kalau dalam seribu hari pertama organnya kecil pasti tidak akan bekerja maksimal pada saat dewasa,” jelasnya pada Konferensi Pers Program RANTAI oleh Mondelez Indonesia di Jakarta, Rabu (25/02).

Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Prof. dr. Endang L. Achadi, MPH, Dr. PH. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Prof. dr. Endang L. Achadi, MPH, Dr. PH. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Endang juga menerangkan, ada dua penyebab langsung masalah gizi tersebut. Pertama, asupan yang baik sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Praktek pemberian makan bayi dan anak serta perilaku hidup sehat terkait keragaman asupan mampu mencegah masalah gizi pada tumbuh kembangnya.

“Penyebab kedua yaitu infeksi yang terjadi pada saat masa kandungan maupun 1000 hari pertama kehidupan,” tambahnya.

Country Head of Corporate and Goverment Affairs Mondelez Indonesia, Rhea Sianipar menjelaskan, program Rapid Action on Nutrition and Agriculture Initiative (RANTAI) yang diluncurkan pada tahun 2011 bersama dengan Helen Keller International Indonesia adalah usaha untuk meningkatkan kualitas ketahanan pangan dan gizi bagi sekitar 4.001 rumah tangga di 74 desa dan 17 kecamatan di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

“RANTAI merupakan salah satu respon untuk berkontribusi setelah sebelumnya dalam pertemuan global dan perhatian dari pemerintah daerah menunjukkan bahwa malnutrisi ini harus ditindaklanjuti,” ungkapnya.

Nutrition Program Manager Helen Keller Indonesia, Mardewi, menyatakan, melalui pemanfaatan pekarangan dengan penanaman sayuran dan buah-buahan yang kaya akan zat gizi mikro serta kegiatan beternak ayam dan ikan yang dilakukan oleh masyarakat Timor Tengah Selatan ini diharapkan dapat mengatasi penyebab dasar masalah kekurangan gizi sehubungan dengan kerawanan pangan di Indonesia Bagian Timur.

“Memasuki tahun ke empat, program ini berhasil membantu masyarakat setempat memeroleh sumber gizi yang lebih bervariasi, serta meningkatkan pendapatan dengan menjual hasil tanaman mereka ke pasar tradisional. Kami berharap program ini akan terus berlanjut di masyarakat hingga mereka mampu mandiri,” katanya berharap.

(G09)

Top
You cannot copy content of this page