Para Ahli: Aktivitas Flores Back Arc Thrust Penyebab Gempa Lombok

Reading time: 3 menit
flores back arc thrust
Ilustrasi: Istimewa

Jakarta (Greeners) – Gempa bumi kembali mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat pada Minggu (05/08/2018), pukul 18.46 WIB. Dibandingkan gempa yang terjadi pada 29 Juli lalu, kekuatan gempa kali ini lebih besar dengan magnitudo 7. Gempa yang berpusat di lereng Utara-Timur Laut Gunung Rinjani ini disebut sebagai akibat dari terjadinya aktivitas Sesar Naik Flores (Flores Back Arc Thrust).

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan gempa yang terjadi di Lombok dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan patahan naik (thrust fault). Akibat pergerakan ini, tidak hanya Lombok yang merasakan, namun juga Sumbawa, Bali, dan Jawa Timur ikut bergetar.

“Episenternya sangat berdekatan dengan gempa bumi yang terjadi pada 29 Juli 2018 lalu. BMKG menyatakan bahwa gempa bumi yang terjadi tadi malam merupakan gempa bumi utama (main shock) dari rangkaian gempa bumi yang terjadi sebelumnya,” ujar Dwikorita menambahkan.

BACA JUGA: Gempa Lombok, Semua Pendaki Gunung Rinjani Berhasil Dievakuasi 

Kepala Peneliti Pusat Geoteknologi LIPI, Eko Yulianto, mengatakan bahwa wilayah Indonesia memiliki ribuan sesar (patahan batuan) di darat maupun laut, namun baru sangat sedikit yang sudah diidentifikasi dan diketahui serta dipahami perilakunya. Sesar Flores dalam istilah geologi disebut back arc thrust atau sesar naik busur belakang yang memanjang di dalam laut dari utara pulau Flores hingga laut utara Lombok.

Menurut Eko, beberapa ahli bahkan menduga bahwa sesar ini memanjang sampai laut di utara pulau Jawa. Bidang sesar ini miring ke arah Selatan hingga kedalaman beberapa kilometer sehingga bagian bawah bidang sesar ini boleh jadi berada di bawah pulau-pulau Nusa Tenggara termasuk pulau Lombok.

“Jadi yang digambarkan oleh BMKG sebagai pusat gempa yang berada di daratan pulau Lombok (episenter) adalah proyeksi vertikal dari sebuah titik di kedalaman bumi (hiposenter), dimana bidang sesar (patahan) Flores pergerakannya dimulai sebelum menyebar menjadi pergerakan bidang sesar, melepaskan energi yang berubah menjadi energi gelombang gempa di permukaan bumi. Pergerakan bidang inilah yang menjadi sumber gelombang gempa,” ujar Eko saat dihubungi Greeners, Senin (06/08/2018).

flores back arc thrust

Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017. Sumber: Pusat Studi Gempa Nasional

Hal senada dikatakan oleh Peneliti Geologi Sedimen dan Tektonik LIPI Muhammad Maruf Mukti. Ia mengatakan gempa di Lombok adalah gempa yang terjadi di bagian belakang busur gunung api (back arc). Di bagian back arc ini para peneliti telah mengidentifikasi keberadaan thrust (patahan naik) di sepanjang bagian utara Bali sampai pulau Wetar.

Flores thrust terbentang mulai dari utara Bali bagian timur sampai utara Flores. Wetar thrust berkembang di utara Alor-Wetar (Silver et al., 1983, Journal of Geophysical Research). Sayang, segmentasi patahan-patahan di zona back arc thrust ini belum teridentifikasi dengan detail karena manifestasi patahan permukaan ini muncul di bawah laut (sea floor).

Apakah gempa ini akan terjadi lagi atau tidak, Maruf menyatakan hal tersebut belum bisa dipastikan karena sampai saat ini gempa bumi memang belum bisa diprediksi. Akan tetapi jika melihat sejarah gempa yang terjadi yang diakibatkan oleh back arc thrust seperti di Sumbawa pada tahun 2007, Flores Maumere 1992, dan Alor 2004, maka cara terbaik menghadapi gempa ini adalah meminimalisir kerugian akibat gempa.

BACA JUGA: Presiden Jokowi Siapkan Rp50 Juta untuk Perbaiki Rumah Korban Gempa Lombok  

Sebelumnya, BMKG sempat mengeluarkan pernyataan bahwa gempa berkekuatan 7 SR ini berpotensi tsunami meski letak episenter berada di darat. Dwikorita menjelaskan bahwa sumber gempa bumi bukanlah suatu titik tetapi merupakan bidang patahan yang menerus atau melampar memanjang hingga bidang patahan atau robekan batuan tersebut masuk di dasar laut dekat pantai Lombok di bagian utara. Hal inilah yang akhirnya memicu terjadinya tsunami.

“Sejak peringatan dini ‘waspada tsunami’ dikeluarkan BMKG, telah terjadi tsunami kecil di empat titik. Masing-masing di Desa Carik setinggi 13,5cm, Desa Badas 10cm, Desa Lembar 9cm,dan Benoa 2cm. Peringatan dini tersebut diakhiri pukul 20.25 WIB pada malam yang sama 5 Agustus yang lalu,” katanya.

Hingga berita ini diterbitkan, BNPB mencatat telah terjadi 170 gempa bumi susulan. Akibat gempa ini sebanyak 91 orang meninggal dunia, 209 orang luka-luka, ribuan orang mengungsi dan ribuan rumah rusak. Diperkirakan jumlah korban dan kerusakan akibat dampak gempa akan terus bertambah, namun demikian pendataan masih terus dilakukan oleh aparat.

Penulis: Dewi Purningsih

Top