Hari Badak Sedunia: Perlu Langkah Konkrit untuk Melindungi Populasi Badak

Reading time: 3 menit
Ilustrasi: greeners.co

Jakarta (Greeners) – Menyelamatkan Badak yang tersisa di Kalimantan bukanlah hal yang mudah. Penemuan tanda-tanda keberadaan badak di Kalimantan pada awal tahun 2013 lalu sudah seharusnya menjadi momentum penting bagi dunia konservasi badak di Indonesia maupun internasional.

Survey bersama yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Mahakam Ulu, Universitas Mulawarman (Unmul), Yayasan Badak Indonesia (YABI), dan WWF Indonesia pada akhir tahun 2013 sampai awal tahun 2014 berhasil merekam keberadaan badak melalui kamera jebak.

Sejak itu pula, perlindungan populasi badak di Kalimantan menjadi perhatian serius. Dr. Ir. Tachrir Fatoni MSc, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, menyatakan dari 5 jenis badak yang ada di dunia, dua diantaranya hidup di Indonesia, yaitu Badak Jawa (Rhinocerus sondaicus) dan Badak Sumatera (Dicerhorinus sumatrensis).

“Kedua jenis satwa tersebut kini hanya tersisa di Indonesia. Ini merupakan kebanggaan, tantangan dan tanggung jawab bagi kita semua,” ujar Tachrir saat dihubungi oleh Greeners, Jakarta, Selasa (22/09).

Selain itu, dalam rangka memperingati Hari Badak Sedunia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Kabupaten Kutai Barat dan WWF Indonesia melakukan pertemuan di Balikpapan pada tanggal 21 hingga 22 September 2015.

Foto-foto badak yang tertangkap kamera jebak pada awal 2013 hingga 2014 turut dipamerkan dalam Lokakarya Badak di Balikpapan. Foto: WWF-Indonesia

Foto-foto badak yang tertangkap kamera jebak pada awal 2013 hingga 2014 turut dipamerkan dalam Lokakarya Badak di Balikpapan. Foto: WWF-Indonesia

Acara yang bertajuk “Pertemuan Nasional Para Pihak untuk Upaya Konservasi Badak di Kalimantan dan Penyusunan Strategi Konservasi Badak di Kalimantan” itu bertujuan untuk menggagas langkah konkret sebagai upaya konservasi populasi badak yang teridentifikasi di Kutai Barat. Di samping itu, dalam pertemuan ini juga akan disusun strategi konservasi badak di Kalimantan sebagai bagian integral dari strategi konservasi badak Nasional 2007 – 2017.

Bupati Kutai Barat, Ismael Thomas dalam keterangan resmi yang diterima oleh Greeners menyatakan bahwa pihaknya telah mengeluarkan surat edaran dan himbauan kepada masyarakat dan jajaran pemerintah kabupaten untuk turut membantu upaya penyelamatan badak di Kutai Barat.

“Saya menyambut gembira pertemuan ini dan berharap tumbuh kerjasama yang berkelanjutan dari para pihak yang hadir untuk melestarikan badak di Kalimantan khususnya di Kutai Barat,” kata Ismael.

Keberadaan badak di Kutai Barat, lanjutnya, adalah suatu kebanggaan bagi masyarakat, khususnya masyarakat di Kampung Besiq, karena mereka selalu aktif mendukung upaya konservasi badak di Kalimantan.

Pada kesempatan yang sama, Dr. Arnold Sitompul, Direktur Konservasi WWF Indonesia juga menyampaikan bahwa hasil survey WWF Indonesia di lansekap Hulu Mahakam, habitat badak teridentifikasi berada di dalam kawasan hutan produksi, sehingga dikhawatirkan keberadaannya terancam oleh praktik penggunaan lahan yang tidak memperhatikan kaidah perlindungan terhadap habitat satwa liar.

Dari sembilan kantung populasi badak sumatera di Sumatera dan Kalimantan, hanya tersisa empat kantong saja. Hasil studi terakhir menunjukkan sudah terjadi kepunahan lokal, seperti di Taman Nasional Kerinci Seblat yang sejak tahun 2008 sudah tidak lagi ditemukan Badak Sumatera.

Data terakhir berdasarkan Population and Habitat Viability Assessment (PHVA, 2015), populasi Badak Sumatera diperkirakan tersisa sekitar 100 individu yang hidup di kawasan- Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Taman Nasional Way Kambas dan satu kantung populasi yang baru teridentifikasi pada 2013 di Kalimantan Timur.

“Perlu langkah-langkah konkrit dari pemerintah untuk segera menyelamatkan Badak Sumatera,” katanya.

Sebagai informasi, untuk memperingati Hari Badak Internasional (World Rhino Day) pada 22 September 2015, WWF Indonesia bekerjasama dengan beberapa lembaga menggelar sejumlah kegiatan di Aceh, Lampung, Ujung Kulon, Jakarta dan Kutai Barat. Kegiatan tersebut mulai dari diskusi fotografi satwa liar dan konservasi badak, lomba penulisan blogger, kampanye bersama di sekolah-sekolah.

Penulis: Danny Kosasih

Top