Konten Hoaks Perubahan Iklim Mulai Berseliweran di Medsos

Reading time: 3 menit
Mulai berseliwerannya konten hoaks perubahan iklim di media sosial menghambat aksi adaptasi dan mitigasi. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Meskipun isu politik menempati konten hoaks terbanyak di media sosial (medsos), hoaks perubahan iklim juga mulai berseliweran. Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) menemukan 40 konten hoaks perubahan iklim dengan berbagai variasi.

Konten hoaks tersebut, mulai dari misinterpretasi temuan sains tentang perubahan iklim. Konten tersebut membuat prediksi bencana dengan tujuan menakut-nakuti, evidentiality claim tips kesehatan yang menyesatkan hingga politisasi bencana.

Bahkan ada juga informasi tentang iklim untuk menyulut sentimen agama. Tak hanya itu, terdapat konten yang mencari simpati melalui peristiwa menyedihkan dan unik, hingga konten penyangkalan perubahan iklim.

Ketua Komite Litbang Mafindo Nuril Hidayah mengatakan, disinformasi dan misinformasi perubahan iklim yang berkembang luas di media sosial tak sekadar berdampak pada teralihnya persoalan sebenarnya terkait perubahan iklim. Akan tetapi dapat menghambat aksi nyata dan adaptasi tujuan pembangunan berkelanjutan.

“Masyarakat terbiasa menerima informasi yang ternyata tak terbukti. Masyarakat akan merasa dibohongi dan akhirnya tak percaya lagi, hingga akhirnya menolak aksi-aksi untuk mendukung ekologi berkelanjutan,” katanya dalam Webinar Krisis Iklim Menangkal Misinformasi Seputar Perubahan Iklim, di Jakarta, Kamis (7/4).

Misinformasi dan disinformasi perubahan iklim merupakan informasi yang salah atau menyesatkan tentang perubahan iklim baik sengaja ataupun tidak.

Hoaks Tantangan Komunikasi Perubahan Iklim

Misinformasi perubahan iklim menjadi tantangan komunikasi perubahan iklim. Hal ini tak lepas dari peran utama konstruksi media sosial. Kerap kali informasi di medis sosial mudah menyebar tanpa ada filterisasi kebenarannya. Selain itu, keberpihakan terhadap keyakinan dan sikap politik tertentu turut menjadi pemicu misinformasi tentang perubahan iklim.

Berdasarkan pemetaan tren isu populer, Mafindo menemukan isu perubahan iklim di Indonesia belum masuk dalam kategori isu populer kategori hoaks tahun 2018 hingga 2021. Isu paling banyak yakni terkait politik pada tahun 2018 (sebanyak 48,9 % dari 997 konten hoaks). Lalu di tahun 2019 sebanyak 52 % juga berasal dari 1.221 konten hoaks politik.

Selanjutnya pada tahun 2020 terjadi pergeseran menjadi konten pandemi Covid-19 (36,7 % dari 2.298 konten hoaks). Selanjutnya tahun 2021 konten terkait informasi hoaks lowongan kerja, bantuan dan hadiah (27,8 % dari 1.888 konten hoaks). Meski begitu Mafindo menemukan 40 konten hoaks seputar perubahan iklim.

Nuril khawatir, dengan ditemukannya konten hoaks pesan edukasi dan aksi nyata perubahan iklim tak akan tersampaikan. “Misalnya pesan yang harusnya kita manusia, bisa melakukan aksi mitigasi berupa pengurangan emisi gas rumah kaca tak akan sampai dan sekadar hiburan semata,” imbuhnya.

Kemas Konten untuk Menarik Generasi Milenial

Ia menambahkan, perlu upaya mengemas konten yang tepat dan menarik terkait perubahan iklim. Tujuannya agar bisa masyarakat luas terima, termasuk generasi milenial dan generasi Z.

Menurutnya, pemanfaatan media sosial penting membangun kampanye komunitas-komunitas yang fokus terhadap kampanye perubahan iklim, serta ekosistem diskusi publik.

Tak kalah penting, perlunya pendekatan konten perubahan iklim dengan kecenderungan gaya hidup masyarakat.

Pendiri Society of Indonesian Environmental Journalist Harry Surjadi menyebut, perlunya peran orang tua untuk membentuk kesadaran generasi Z terhadap perubahan iklim. Orang tua, sambung dia dapat menjadi teman sharing agar anak lebih peduli dengan lingkungan alam. Misalnya, dengan berlibur ke wisata-wisata edukasi, seperti taman nasional dan mendiskusikan apa yang ada di sana.

Lebih jauh, Harry menyebut peran krusial media untuk menyediakan konten seputar perubahan iklim, termasuk dalam upaya melakukan framing terhadap konten pemberitaannya. “Apakah cenderung ke pemerintah, aktivis lingkungan atau masyarakat, media harus punya peran di sini,” ungkapnya.

Tanda-Tanda Perubahan Iklim Telah Terjadi

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, tanda-tanda perubahan iklim telah terjadi. Beberapa tandanya antara lain adanya kenaikan air muka air laut 2-3 milimeter imbas kenaikan suhu dan pemanasan global.

Penyimpangan suhu udara terhadap suhu rata-rata normal atau anomali suhu udara juga terjadi selama 30 tahun terakhir. “Mulai tahun 1981 hingga 2010 dan dibandingkan dengan tahun 2016-2019 untuk Indonesia cenderung ada kenaikan rata-rata suhu di atas setengah derajat Celcius. Kondisi ini terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia di antaranya, seperti Jawa, Sumatra, Sulawesi dan Maluku,” tuturnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top