Kelapa Sawit, Tanaman Penghasil Devisa Negara

Reading time: 3 menit
kelapa sawit
Kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq). Foto: flickr.com/photos/adaduitokla

Tanaman satu ini memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi dan berkontribusi dalam kehidupan manusia sehari-hari. Meski demikian, tanaman ini banyak menimbulkan pro dan kontra karena penanamannya yang masif dan menimbulkan masalah terhadap lingkungan.

Tanaman yang dimaksud adalah kelapa sawit. Kelapa sawit muncul dalam gambar koin lawas seribu rupiah. Sejarah menjelaskan bahwa, kelapa sawit menjadi populer setelah Revolusi Industri pada akhir abad ke-19 yang menyebabkan permintaan minyak nabati untuk bahan pangan dan industri sabun menjadi tinggi.

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq) merupakan penamaan dari Elais guineensis yang diberikan oleh Jacquin pada tahun 1763. Kata Elaeis (Yunani) berarti minyak, sedangkan kata guineensis dipilih berdasarkan keyakinan Jacquin bahwa kelapa sawit berasal dari Guinea (Afrika). Banyak versi tentang asal usul kelapa sawit, ada yang berpendapat tanaman ini berasal dari Amerika Selatan yaitu Brazil dan ada yang bilang berasal dari Afrika Selatan.

Namun pada kenyatannya tanaman kelapa sawit hidup subur di luar daerah asalnya, seperti Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Papua Nugini. Hingga kini, tanaman ini telah diusahakan dalam bentuk perkebunan dan pabrik pengolahan kelapa sawit (Fauzi et al, 2006).

Kelapa sawit pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1848. Ketika itu ada empat batang bibit kelapa sawit yang dibawa dari Maritius dan Amsterdam untuk ditanam di Kebun Raya Bogor. Tanaman kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial pada tahun 1911.

Secara morfologinya tanaman kelapa sawit dideskripsikan sebagai tumbuhan monokotil yang tidak memiliki akar tunggang. Batangnya tidak mempunyai kambium dan umumnya tidak bercabang. Batang kelapa sawit berbentuk silinder dengan diameter 20 – 75 cm.

Kelapa sawit termasuk tanaman keras (tahunan) yang mulai menghasilkan buah pada umur 3 tahun dengan usia produktif hingga 25–30 tahun. Tinggi maksimum kelapa sawit yang ditanam di perkebunan antara 15 –18 m, sedangkan yang di alam mencapai 30 m. Tanaman kelapa sawit rata-rata menghasilkan buah sebanyak 20 – 22 tandan/tahun.

devisa

Pohon kelapa sawit. Foto: wikimedia commons

Produk utama kelapa sawit adalah minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan minyak inti sawit (palm kernel oil/PKO), yang selanjutnya menjadi bahan baku industri hilir pangan maupun non pangan.

Pada industri pangan, kelapa sawit merupakan tanaman penghasil minyak nabati yang banyak digunakan karena berbagai keunggulan yang dimilikinya dibandingkan dengan minyak yang dihasilkan oleh tanaman lain. Keunggulan tersebut diantaranya memiliki kadar kolesterol rendah, bahkan tanpa kolesterol.

Prospek pasar bagi olahan kelapa sawit cukup menjanjikan karena permintaan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup besar (Sastrosayono, 2003). Dilansir pada laman infosawit.com, produksi olahan kelapa sawit sangat menunjang devisa negara dan memberikan perubahan besar bagi perekonomian masyarakat. Namun di sisi lain, masyarakat juga mengeluhkan pencemaran lingkungan yang diakibatkan industri sawit.

Beberapa kendala yang diakibatkan industri sawit seperti dikutip dari infosawit.com, antara lain sistem monokultur yang diterapkan pada budidaya kelapa sawit memicu hilangnya keragaman hayati dan kerentanan alam seperti turunnya kualitas lahan dan merebaknya hama dan penyakit tanaman. Selain itu, untuk budidaya tanaman ini memerlukan jumlah air yang sangat banyak mencapai 12 liter per pohon; dan aktivitas pembukaan kebun seringkali dengan membakar hutan dan menimbulkan polusi udara yang parah. Asap ini bahkan bisa terbawa angin sampai ke negeri tetangga.

Seperti dilansir industri.bisnis.com, Direktur Eksekutif Yayasan Kehati M. S. Sembiring menuturkan minyak kelapa sawit merupakan pemberi devisa terbesar bagi Indonesia setelah minyak bumi dan gas. Meski demikian, pengembangannya harus tetap memperhatikan prinsip berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Untuk meningkatkan daya saing industri kelapa sawit Indonesia di pasar dunia dengan tetap menjaga kualitas lingkungan, pemerintah Indonesia telah memberlakukan kebijakan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Seperti dilansir Greeners.co, ISPO dibentuk pada tahun 2009 oleh pemerintah Indonesia untuk memastikan bahwa semua pengusaha kelapa sawit memenuhi standar pertanian yang diizinkan.

“Industri kelapa sawit terdiri dari perkebunan besar, pengolahan, dan konsumen yang memiliki berbagai kepentingan, sulit untuk mengambil kebijakan yang tepat. Oleh karena itu, sertifikasi ISPO sebagai instrumen tata kelola berkelanjutan menjadi fokus pemerintah untuk industri kelapa sawit,” ujar Diah Y. Suradiredja, program director Yayasan Kehati sekaligus Tim Penguatan ISPO.

devisa

 

Penulis: Sarah R. Megumi

Top