Generasi Muda, Ayo Ikut Kurangi Dampak Perubahan Iklim!

Reading time: 3 menit
Generasi muda peduli perubahan iklim
Generasi muda harus ikut mengurangi dampak perubahan iklim. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Saat ini generasi muda punya tantangan baru untuk ikut mengendalikan dampak perubahan iklim. Caranya dengan menggunakan energi terbarukan (EBT) ramah lingkungan dan membatasi penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil.

Oleh sebab itu, generasi muda harus menjadi aktor aktif menekan emisi gas rumah kaca (GRK) penyebab perubahan iklim. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pun mendorong generasi muda ikut mengurangi dampak perubahan iklim dengan memanfaatkan energi bersih.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mendorong hal itu dalam acara Indonesia Youth’s Determination to Reinforce Clean Energy and Climate Action di Jakarta, baru-baru ini.

“Generasi muda akan menjadi angkatan kerja di era transisi energi menuju net zero emission 2060. Mereka akan menjadi penentu dalam mempercepat transformasi dari penggunaan bahan bakar yang berbasis fosil menjadi berbasis EBT,” kata Menteri Siti.

Selain menggunakan energi bersih, generasi muda dapat melakukan penanaman pohon skala besar. Para generasi muda ini tambahnya, menjadi salah satu penentu keberhasilan mencegah kenaikan suhu bumi tidak lebih dari 1,5 derajat Celcius.

Kejar Target Penurunan Emisi

Menteri Siti menjelaskan, agenda perubahan iklim sangat penting bagi Indonesia. Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 28H menyatakan, bahwa negara harus menjamin kehidupan dan lingkungan yang layak bagi warga negaranya. Inilah alasan utama yang mendasari komitmen Indonesia untuk menekan dampak perubahan iklim.

Sementara itu, merujuk dokumen Updated NDC (UNDC) Indonesia yang telah sampai ke sekretariat The United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) menyebut komitmen peningkatan ambisi pengurangan emisi GRK di Indonesia pada tahun 2030. Indonesia menargetkan 60 % penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor forestry and other land use (FoLU) 

“Dokumen Updated NDC menunjukkan peningkatan komitmen Indonesia untuk periode jangka panjang dan mencapai keseimbangan antara pengurangan emisi GRK di masa depan dan pembangunan ekonomi,” ungkapnya.

Tanam pohon peduli perubahan iklim

Tanam pohon salah satu upaya mengurangi dampak perubahan iklim. Foto: Shutterstock

Perubahan Iklim Naikkan Suhu Bumi

Dalam kesempatan itu, Menteri Siti mengungkapkan, perubahan iklim bisa berdampak pada kenaikan suhu bumi. Terkait  hal itu The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyebut, tahun 2011 – 2020, suhu permukaan global sudah meningkat rata-rata 1,09 derajat Celcius.

Kenaikan suhu tersebut terjadi di permukaan daratan sebesar 1,5 derajat Celcius dan di permukaan lautan sebesar 0,89 derajat Celcius. Oleh karena itu, tanpa upaya menurunkan emisi besar pada tahun 2020-2050, suhu akan meningkat mencapai 2,1 derajat sampai 3,5 derajat Celcius pada skenario intermediate.

Berkaca pada kondisi itu, KLHK mendorong generasi muda ikut peduli mengendalikan perubahan iklim lewat aksi-aksi iklim dan energi bersih.

KLHK juga menantikan peran aktif generasi muda. Menteri Siti menilai, generasi memiliki ciri berani berpendapat, menyerap nilai dan gagasan baru dengan cepat serta inovatif. Generasi muda pun tambahnya, dinamis, bermobilitas tinggi, memiliki kesetiakawanan dan kepedulian sosial tinggi. Oleh sebab itu generasi muda sangat penting menyukseskan berbagai agenda pengendalian perubahan iklim.

Generasi Muda di Perguruan Tinggi Galang Aksi

Saat ini, KLHK menggandeng Society of Renewable Energy (SRE) dalam menggalang aksi generasi muda menekan dampak perubahan iklim. Organisasi ini merupakan wadah bagi generasi muda untuk ikut berkontribusi dalam aksi-aksi perubahan iklim dan transisi energi di Indonesia.

Pendiri Society of Renewable Energy (SRE) Zagy Yakana Berian berharap, gagasan generasi muda dalam acara tersebut dapat berkontribusi menjadikan Indonesia sebagai negara yang lebih hijau dan bersih.

SRE berdiri berkat inisiasi Institut Teknologi Bandung (ITB). Sebanyak 37 perguruan tinggi seIndonesia bergabung dalam SRE. Perguruan tinggi yang terlibat antara lain Universitas Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Gadjah Mada dan Institut Pertanian Bogor.

“Harapan kami semua gagasan, pandangan, ide-ide yang lahir dari forum ini menjadi bagian dari kontribusi anak-anak muda. Gagasan untuk menjadikan Indonesia yang menjadi jauh dan lebih hijau dan lebih bersih,” kata Zagy.

Penulis : Fitri Annisa

Top