Mapala UMN Kampanye Lingkungan Hidup Melalui Diorama

Reading time: 2 menit
Foto: dok. Mapala UMN/Universitas Multimedia Nusantara News Service

Jakarta (Greeners) – Mengawali tahun 2015, Mapala UMN menghadirkan Aktivis Alam kepada Keluarga Besar Universitas Multimedia Nusantara. Sebuah program sosial yang bertujuan untuk membangkitkan kesadaran sosial dan mempraktikan aksi peduli ini diawai dengan kampanye lingkungan hidup. Salah satu kampanye yang dilakukan pada Februari lalu adalah menampilkan sebuah diorama yang dihadirkan di setiap sudut kampus secara berkala. Diorama ini merepresentasikan fenomena alam Indonesia yang memprihatinkan.

Diorama itu terdiri atas sebuah pohon mati berwarna hitam, memiliki kulit kayu yang tidak sehat dan ranting yang tak berdaun. Pohon ini mengeluarkan asap kelabu yang mengarah turun ke ekosistem yang terdapat di bawahnya yang menampilkan gedung-gedung tinggi dan rumah-rumah. Bangunan ini letaknya berserakan menjadi satu dengan sampah plastik. Akar pohon pun ditampilkan tertanam dalam sebuah kumpulan sampah plastik.

Realitas kehidupan masyarakat Indonesia sedang tergambar di pohon mati ini. Bagaimana habitat seluruh makhluk terapung di atas sampah-sampah plastik yang kita produksi setiap harinya. Area-area hutan kini dijadikan ladang usaha. Alam yang begitu sehat harus jatuh musnah karena industri.

Gedung tinggi diibaratkan sebagai pihak yang tidak bertanggung jawab yang hanya mengeksploitasi sumber daya alam tanpa melakukan revitalisasi, asap kelabu diibaratkan sebagai racun pabrik yang memberi efek negatif bagi lingkungan dan penduduk yang tinggal di sekitarnya dan berimbas pada kehidupan masyarakat. Dan lautan plastik mengingatkan sampah yang menumpuk penyebab banjir dan air limbah menggenangi rumah-rumah penduduk.

Foto: dok. Mapala UMN/Universitas Multimedia Nusantara News Service

Foto: dok. Mapala UMN/Universitas Multimedia Nusantara News Service

Tanah ini milik siapa? Manusia seolah acuh dan tak terasa memiliki alamnya. Fenomena ini tak lain disebabkan oleh ulah manusia. Merusak dan membiarkan seolah dampaknya tidak membahayakan kehidupannya sendiri. Akankah manusia terus membiarkan kesalahan ini? Apakah bumi masih bisa bertahan 20 tahun mendatang? Apakah anak-cucu kita masih mendapatkan kesempatan tinggal di bumi?

Melalui diorama ini, tanda tanya tersebut disampaikan. Pemandangan ini diharapkan mampu menggugah kesadaran dari keluarga besar mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara untuk mau bergabung dan beraksi dalam Aktivis Alam di bulan April ini.

(*)

Top