Garap Potensi Blue Carbon dari Laut Untuk Turunkan Emisi Karbon

Reading time: 2 menit
Sektor laut menyimpan potensi blue carbon besar untuk mempercepat target penurunan emisi. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Indonesia punya potensi besar mengebut target penurunan emisi dengan kontribusi blue carbon atau karbon biru. Salah satunya dari sektor pesisir dan kelautan. Bahkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendorong percepatan masuknya blue carbon ke dalam dokumen kontribusi penurunan emisi atau Nationally Determined Contribution (NDC).

Peneliti Ahli Madya Bidang Biogeokimia Laut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) A’an Johan Wahyudi menilai, dengan masuknya blue carbon ke dalam NDC maka semakin membuka peluang Indonesia dalam kontribusi penurunan emisi dari berbagai sektor. Itu artinya, kontribusi penurunan emisi tak hanya bergantung pada sektor kehutanan.

Ekosistem blue carbon di Indonesia cukup potensial dalam pengurangan emisi karbon. Salah satu aktivitas mitigasi yakni konservasi melalui marine protected area (MPA). Penelitian A’an menunjukkan, perkiraan potensi penurunan emisi karbon dari aktivitas konservasi padang lamun di kawasan MPA mencapai 11 %. Hasil tersebut merupakan estimasi maksimal dari lima provinsi yakni Riau, Maluku Utara, Bangka Belitung, Jakarta dan Jawa Tengah.

Selanjutnya, pemerintah sambung dia harus memastikan data terkini terkait luas padang lamun dan luas ekosistemnya yang masuk ke dalam MPA. Selanjutnya, cadangan blue carbon dan laju degradasi setiap provinsi.

“Untuk melihat skala nasional memang perlu diestimasi lagi tentunya dengan catatan bahwa inventarisasi karbon sektor laut dan pesisir (karbon biru) sudah valid dan robust,” katanya di Jakarta, Selasa (19/4).

Percepat Masuknya Blue Carbon ke NDC

Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar mengatakan, potensi blue carbon dalam ekosistem pesisir dapat menyerap karbon lebih besar dari hutan. Hal ini mampu mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan.

Ekosistem pesisir di antaranya, mangrove, payau, hingga marshland. “Kita melihat ada potensi pesisir yang sangat besar dan bisa diorientasikan sebagai blue economy dan blue carbon. Sekaligus akan kita pikirkan bersama bahwa di dalam pengelolaan blue carbon untuk kualitas karbon yang lebih baik,” katanya dalam Webinar Blue Carbon dalam Pembangunan Blue Economy dan Pencapaian Target NDC, Senin (18/4).

Siti juga menyebut, potensi pengurangan emisi dari blue carbon yakni sekitar 10 hingga 31 % bisa Indonesia manfaatkan dalam mengakselerasi mitigasi perubahan iklim. Ini sekaligus memasukkan blue carbon sebagai bagian dari perhitungan untuk meningkatkan target NDC. Adapun target NDC Indonesia yakni 29 % secara mandiri.

Demikian juga, ia menyebut langkah pengelolaan blue economy dan pengembangan wilayah pesisir akan sangat berarti dalam peningkatan target NDC dan pengurangan emisi karbon.

Oleh karena itu, perlu percepatan dalam melakukan pemetaan dan identifikasi terkait dengan ekosistem wilayah pesisir. “Kita merencanakan akan mengidentifikasi secara tajam. Kira-kira kita sudah tahu persis ekosistem wilayah pesisir ini dalam kontribusinya penurunan emisi gas rumah kaca,” ujar dia.

Perluas Wilayah Zona Konservasi Laut

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, perlunya perluasan wilayah zona konservasi laut guna memastikan kontribusinya terhadap perubahan iklim. Saat ini, KKP telah memiliki wilayah zona konservasi berskala kecil dan belum berdampak besar pada penurunan emisi gas rumah kaca.

“Bagaimana dari 5,8 juta kilometer luas wilayah laut, kita bisa membuat berapa juta kilometer luasan konservasi yang sangat dijaga dan tak disentuh kegiatan umat manusia. Seperti lintasan transportasi hingga penangkapan ikan,” katanya.

Perluasan wilayah konservasi laut tersebut tak sekadar dapat memastikan perhitungan nilai karbon yang berkontribusi terhadap NDC. Tapi juga peningkatan ekosistem perikanan yang dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan.

Berdasarkan data, Indonesia memiliki peran penting dalam hal mitigasi perubahan iklim dari aspek blue carbon. Apalagi Indonesia memiliki ekosistem mangrove seluas 3,36 juta hektare dan padang lamun seluas 3 juta hektare. Luasan ini berpotensi memiliki cadangan blue carbon dunia hampir 17 %.

“Kemampuan karbon biru ini lebih besar dibandingkan kemampuan yang sama dari vegetasi daratan, atau karbon hijau,” imbuhnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top
You cannot copy content of this page