edukasi sampah - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/edukasi-sampah/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 15 Feb 2025 04:56:17 +0000 id hourly 1 Pelajar di Gresik Berkreasi Lewat Poster Mengenai Masalah Sampah https://www.greeners.co/aksi/pelajar-di-gresik-berkreasi-lewat-poster-mengenai-masalah-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pelajar-di-gresik-berkreasi-lewat-poster-mengenai-masalah-sampah https://www.greeners.co/aksi/pelajar-di-gresik-berkreasi-lewat-poster-mengenai-masalah-sampah/#respond Sat, 15 Feb 2025 06:00:26 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=45934 Jakarta (Greeners) – Lebih dari 300 siswa-siswi SD Muhammadiyah 1 Menganti Gresik, Jawa Timur mengikuti kegiatan belajar kreatif untuk mengenal masalah lingkungan, khususnya tentang sampah. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu […]]]>

Jakarta (Greeners) – Lebih dari 300 siswa-siswi SD Muhammadiyah 1 Menganti Gresik, Jawa Timur mengikuti kegiatan belajar kreatif untuk mengenal masalah lingkungan, khususnya tentang sampah. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (12/2) ini dilakukan secara berkelompok. Mereka mewarnai poster yang mengangkat tema kecintaan terhadap bumi.

Ramadhina Marifah, guru kelas dua, menjelaskan bahwa poster-poster tersebut dikerjakan dalam kelompok menggunakan kertas gambar A3. Setiap kelompok menuangkan permasalahan lingkungan yang ada di sekitar mereka. Seperti sampah plastik, polusi udara, krisis air, dan kurangnya tanaman peneduh. Poster-poster ini juga mengajak untuk mencintai bumi dengan solusi konkret.

“Melalui poster, anak-anak dapat merekam berbagai masalah lingkungan yang ada di daerah Menganti, sekaligus memberikan ajakan untuk mencintai bumi,” ujar Marifah.

Rencananya, poster-poster itu akan mereka kumpulkan dalam sebuah buku yang dapat menjadi sumber pengetahuan dan informasi bagi siswa-siswi di sekolah ini. Poster tersebut tentu juga bermanfaat untuk masa depan mereka.

Salah satu siswa, Rasya Muhammad Hamizan, juga turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Saat guru-guru memberikan kesempatan untuk berbicara di depan kelas, Rasya menyampaikan, “Kita harus membawa tas kain, minum pakai tumbler, dan tidak pakai sedotan plastik. Kalau ke sekolah membawa tempat makan sendiri.”

BACA JUGA: Ecoton Bongkar Fakta Bahaya Mikroplastik dalam Tubuh Manusia

Beberapa poster karya siswa juga sangat menarik perhatian. Seperti poster dengan tema pemilahan sampah bertuliskan “Ayo Pilah Sampah” dan “Ingat Sampah Tidak Bisa Berjalan ke Tempatnya Sendiri.”

Setelah mendengarkan paparan dari narasumber, seluruh siswa membuat poster dan kemudian menceritakan isinya di depan kelas. Mereka menyampaikan ajakan untuk lebih mencintai bumi dengan cara memilah sampah, menghemat air, merawat tanaman, dan mengurangi penggunaan sampah plastik.

Menurut Marifah, kampanye lingkungan melalui poster ini terbukti sangat efektif. Anak-anak tidak hanya memahami permasalahan lingkungan, tetapi juga berkesempatan menyampaikan solusi melalui media poster yang kreatif.

Aktivis Lingkungan Isi Kegiatan

Dua aktivis lingkungan dari Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), Aeshnina Azzahara Aqilani dan Prigi Arisandi, turut mengisi kegiatan ini. Keduanya memberikan paparan mengenai permasalahan sampah plastik di Indonesia kepada para pelajar.

Aeshnina atau Nina, menjelaskan bahwa saat ini Indonesia menjadi negara penyumbang sampah plastik ke lautan terbesar ketiga setelah India dan Nigeria. Ia juga mengungkapkan bahwa setiap penduduk Indonesia mengkonsumsi sekitar 15 gram plastik setiap bulannya.

Selain itu, Nina menyampaikan bahwa Kabupaten Gresik telah memiliki kebijakan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Namun, sampah plastik masih sering mengotori sungai dan pantai di daerah tersebut.

Budayakan Pengurangan Sampah

Sementara itu, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 1 Menganti, Assidik Wibowo, menjelaskan pihak sekolah berkomitmen membudayakan pengurangan penggunaan plastik, terutama di kantin sekolah. Makanan dan minuman yang ada di kantin tidak lagi menggunakan bungkus plastik sekali pakai.

Menurut Assidik, penggunaan wadah plastik tidak hanya menambah masalah sampah, tetapi juga dapat menjadi ancaman bagi kesehatan.

“Di sekolah juga sudah terbentuk kader lingkungan yang menjadi role model bagi siswa-siswi untuk berperilaku ramah lingkungan dan mencintai bumi,” ujar Assidik.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/pelajar-di-gresik-berkreasi-lewat-poster-mengenai-masalah-sampah/feed/ 0
100 Masjid di Indonesia Dukung Sekedah Sampah GRADASI https://www.greeners.co/berita/100-masjid-di-indonesia-dukung-sekedah-sampah-gradasi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=100-masjid-di-indonesia-dukung-sekedah-sampah-gradasi https://www.greeners.co/berita/100-masjid-di-indonesia-dukung-sekedah-sampah-gradasi/#respond Thu, 15 Sep 2022 06:46:57 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37346 Jakarta (Greeners) – Pendekatan keagamaan ditempuh untuk mendorong upaya pengelolaan dan pengurangan sampah di Indonesia. Pendekatan ini dinilai efektif mengingat Indonesia memiliki tingkat religiusitas yang tinggi. Salah satunya program sekedah […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pendekatan keagamaan ditempuh untuk mendorong upaya pengelolaan dan pengurangan sampah di Indonesia. Pendekatan ini dinilai efektif mengingat Indonesia memiliki tingkat religiusitas yang tinggi. Salah satunya program sekedah sampah lewat Gerakan Sekedah Sampah Indonesia (GRADASI).

GRADASI berbasis masjid telah diluncurkan pada April 2021 lalu. Berawal dari 6 masjid penggerak GRADASI, kini sudah ada 100 masjid GRADASI yang tersebar di seluruh Indonesia. Tak hanya di wilayah Jawa saja, namun sudah merambah ke Gorontalo, Tapanuli, Labuan Bajo, dan daerah-daerah lainnya.

Tentunya angka ini akan semakin bertambah dengan adanya upaya kampanye dan sosialisasi untuk mengajak masjid lainnya di seluruh Indonesia turut mengaplikasikan GRADASI.

Gerakan ini mendapatkan respon positif dari masyarakat dan jamaah masjid. Hingga saat ini, tercatat sudah lebih dari 7,53 ton sampah telah terkumpul dari kegiatan GRADASI dan bernilai Rp 25,9 juta.
Jenis sampah paling banyak yang jamaah sedekahkan adalah sampah plastik, kertas, dan kardus. Adapun sampah lain yang mereka sedekahkan yaitu kaca, logam, elektronik, serta minyak jelantah.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, perubahan paradigma dan dukungan masyarakat tentang sampah penting dilakukan.

Caranya dengan komunikasi untuk memperkuat pemahaman dan kesadaran itu. Hal ini diharapkan dapat menekan sampah plastik ke ekosistem laut.

“Dengan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap sampah, diharapkan dapat menjadi suatu tindakan pencegahan agar sampah, terutama sampah plastik, tidak bocor ke ekosistem laut,” kata Vivien dalam acara GRADASI di Bekasi, baru-baru ini.

GRADASI Sekedah Sampah Meluas di Seluruh Indonesia

Selain berbasis masjid, GRADASI ini juga sudah gereja, pesantren dan sejumlah sekolah dasar adaptasi dan lakukan. Pada awal Maret 2022, bekerja sama dengan Keuskupan Bogor, telah berlangsung peluncuran GRADASI berbasis gereja Katolik atau Gerakan Kolekte Sampah Indonesia.

Saat ini, tercatat sudah ada 30 gereja di Keuskupan Bogor yang telah menerapkan Gerakan Kolekte Sampah Indonesia ini dengan total sampah yang terkumpul sebanyak 6,19 ton. Tak hanya gereja Katolik saja, 5 gereja Protestan di Jakarta juga akan menerapkan GRADASI.

Sementara di pesantren dan sekolah-sekolah dasar juga banyak yang sudah mengadaptasi gerakan ini. Tercatat kurang lebih ada 98 pesantren di Jombang dan 92 sekolah di Malang yang sudah menerapkan GRADASI.

Bahkan, Universitas Brawijaya juga akan memasukkan materi terkait GRADASI sebagai bahan edukasi lingkungan dalam kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) mahasiswanya. Gerakan ini pun akan terus disebarluaskan ke rumah ibadah lainnya, yaitu ke pura, klenteng, maupun vihara.

Gerakan Sekedah Sampah (GRADASI) di Kabupaten Bekasi. Foto: Greeners/Ramadani Wahyu

Ekosistem Pengelolaan Sampah Terintegrasi

Sementara itu, sebagai salah satu pendukung inisiatif ini, Government Relation and External Scientific Affairs Director Danone Indonesia, Rachmat Hidayat mengatakan, kolaborasi lintas sektor termasuk antara pelaku industri, pemerintah, dan juga masyarakat merupakan kunci terciptanya ekosistem pengelolaan sampah yang terintegrasi.

“Melalui komitmen #BijakBerplastik yang kami luncurkan sejak tahun 2018 yang lalu, kami terus berupaya untuk mendukung target pemerintah dalam mengurangi 70% sampah plastik di lautan. Serta menciptakan ekosistem pengelolaan sampah yang inklusif dan terintegrasi,” ungkapnya.

Menurutnya, inisiatif GRADASI merupakan langkah kolaborasi yang sangat baik dalam meningkatkan kerja sama lintas sektor. Sekaligus meningkatkan perhatian masyarakat terkait isu pengelolaan sampah dan dapat terus direplikasi untuk meningkatkan jangkauannya.

Meski Bekasi ikut mendukung GRADASI, Pemerintah Kabupaten Bekasi juga berkomitmen membangun tiga tempat pembuangan sementara terpadu (TPST) dan teknologi Refused Derived Fuel (RDF). Langkah ini tak hanya mengurangi permasalahan sampah, tapi menuntaskan kelebihan kapasitas atau overload di tempat pembuangan akhir (TPA) Burangkeng.

Saat ini timbulan sampah di TPA Burangkeng, Kabupaten Bekasi mencapai 2.800 ton/hari. Namun pemerintah daerah Kabupaten Bekasi hanya mampu mengangkut 800 ton/hari.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi Rahmat Atong menyatakan, saat ini Pemkab Bekasi akan membangun TPST dan RDF melalui kerja sama dengan KLHK. Saat ini, telah disiapkan tiga lokasi TPST, yakni di Desa Kertamukti Kecamatan Cibitung, Desa Kebalen Kecamatan Babelan dan Kecamatan Kedungwaringin.

“Kita siapkan lokasinya dulu. Karena ini merupakan langkah jangka panjang untuk menyelesaikan permasalahan sampah di Bekasi,” ucapnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/100-masjid-di-indonesia-dukung-sekedah-sampah-gradasi/feed/ 0
Yuk Kurangi! Makanan dalam Kemasan Bisa Sumbang Food Waste https://www.greeners.co/aksi/yuk-kurangi-makanan-dalam-kemasan-bisa-sumbang-food-waste/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=yuk-kurangi-makanan-dalam-kemasan-bisa-sumbang-food-waste https://www.greeners.co/aksi/yuk-kurangi-makanan-dalam-kemasan-bisa-sumbang-food-waste/#respond Sat, 20 Aug 2022 05:03:30 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=37089 Jakarta (Greeners) – Sampah makanan (food waste) masih menjadi tantangan terbesar bagi Indonesia. Menurut The Economist Intelegent Unit pada tahun 2018, Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara pembuang makanan terbesar […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sampah makanan (food waste) masih menjadi tantangan terbesar bagi Indonesia. Menurut The Economist Intelegent Unit pada tahun 2018, Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara pembuang makanan terbesar secara global.

Guna mengurangi sampah makanan, kali ini komunitas Surplus Indonesia mengadakan Flash Food Sale produk-produk overstock yang hampir expired dengan potongan 50 %. Bagian program “Sarinah Bebas Food Waste” ini bertujuan untuk mengurangi sampah makanan dari produk makanan dalam kemasan.

Community Manager Komunitas Surplus Alya Fatina Diandari menyatakan, permasalahan utama food waste tak hanya berasal dari makanan sisa dari piring. Namun, juga dari makanan dalam kemasan.

Permasalahan tersebut para produsen makanan kemasan alami. Mereka terpaksa harus menerima kembali sisa produk yang tak habis dari retail. Terutama produk yang melebihi acuan kurang dari tiga bulan expired date dan kembali ke produsen.

“Inilah yang kemudian produsen terima lagi dan akan dihancurkan sehingga memicu food waste,” katanya kepada Greeners, Jumat (19/8).

Mengusung tagline, “Harga Beda, Rasa Tetap Sama”, Alya memastikan jaminan keamanan dan rasa produk. Yang pasti, sambung dia bagaimana caranya untuk memastikan tak ada makanan yang terbuang.

“Itulah movement dari Surplus yaitu menyelamatkan makanan overstock supaya tidak menjadi food waste. Produk penjual makanan kemasan pasti punya expired date,” ungkapnya.

Membeli dengan Diskon 50 % Untuk Kurangi Food Waste

Ia juga menyebut antusiasme pengunjung sangat tinggi. Utamanya bagi mereka yang memanfaatkan momen ini untuk mencoba produk baru. “Kebanyakan mereka ingin mencoba-coba produk baru, terlebih dengan diskon 50 % tentu lebih hemat. Dan kalau memang mereka cocok maka bisa membeli dengan harga normal di supermarket,” paparnya.

Adapun untuk jenis makanan kemasan yang mereka jual yaitu berupa makanan ringan seperti keripik dalam skala kecil. Alya menyebut, produk-produk seperti ini berpotensi sangat cepat untuk habis. Itu artinya juga turut mengurangi potensi adanya sampah makanan.

Sebelumnya, peluncuran program “Sarinah Bebas Food Waste” dilakukan melalui penandatanganan MoU antara Surplus Indonesia (platform penggiat food waste) dengan Mal Sarinah (BUMN) dan peresmian booth sebagai simbolisnya, baru-baru ini.

Program tersebut juga dapat dukungan dari Badan Pangan Nasional, Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) dan Yayasan Surplus Peduli Pangan (YSPP).

Dalam waktu dekat, program ini akan teraplikasi pada seluruh mal di Indonesia sebagai bentuk komitmen dalam memberantas kemubaziran dan permasalahan besar masyarakat Indonesia.

Pengunjung mengamati program bebas food waste Sarinah dengan diskon 50 %. Foto: Greeners/Ramadani Wahyu

Dorong Aktivitas Bisnis dan Sosial

Aktivitas pada program “Sarinah Bebas Food Waste” terbagi menjadi dua, yaitu aktivitas bisnis dan sosial. Aktivitas bisnis melibatkan tenant food and beverage (F&B) di Sarinah seperti Rumah Atsiri, Nastar by Ritz, Paviliun, Sari Ratu, HAUS!, Es Teler 77 dan Sari Delicatissen.

Pengguna aplikasi Surplus dapat membeli makanan pada tenant tersebut dengan harga diskon 50 %. Hal ini dapat membantu pengurangan food waste bagi pelaku usaha F&B. Sedangkan untuk aktivitas sosialnya, tim relawan Yayasan Surplus Peduli Pangan akan membantu menyalurkan produk berlebih dari tenant F&B kepada masyarakat di sekitar kawasan Sarinah sebagai upaya menyelamatkan makanan berlebih sekaligus membantu sesama.

Harapannya, di akhir tahun 2022, program “Sarinah Bebas Food Waste” dapat mencegah lebih dari 10 ton makanan yang dapat berpotensi menjadi sampah makanan dan berhasil mencegah kerugian finansial hingga mencapai Rp 500 juta bagi para tenant di Mal Sarinah.

Selain itu program ini dapat mencegah potensi munculnya lebih dari 100 ton CO2 dari total makanan yang terselamatkan melalui aplikasi Surplus dan kegiatan Yayasan Surplus Peduli Pangan.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/yuk-kurangi-makanan-dalam-kemasan-bisa-sumbang-food-waste/feed/ 0
Cermati, Barang Sehari-harimu Bisa Jadi Mengandung Sampah B3! https://www.greeners.co/aksi/cermati-barang-sehari-harimu-bisa-jadi-mengandung-sampah-b3/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cermati-barang-sehari-harimu-bisa-jadi-mengandung-sampah-b3 https://www.greeners.co/aksi/cermati-barang-sehari-harimu-bisa-jadi-mengandung-sampah-b3/#respond Thu, 28 Jul 2022 04:49:40 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=36868 Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendorong masyarakat berinisiatif mengganti barang-barang berpotensi menghasilkan sampah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Tanpa masyarakat sadari, sampah B3 yang memenuhi lingkungan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendorong masyarakat berinisiatif mengganti barang-barang berpotensi menghasilkan sampah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Tanpa masyarakat sadari, sampah B3 yang memenuhi lingkungan sekitar membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia.

Barang-barang sehari-hari yang biasa masyarakat gunakan seperti lampu, baterai, penyemprot nyamuk, pengharum ruangan hingga penggorengan atau wajan berpotensi menghasilkan sampah berbahaya dan beracun ini.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah dan B3 KLHK Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, sampah B3 tergolong permasalahan krusial dan menjadi perhatian pemerintah. Saat ini ada sejumlah aturan terkait sampah B3. Di antaranya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Selain itu Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan B3.

Berbeda dengan limbah B3 yang industri hasilkan, sampah B3 sangat dekat dengan lingkungan sekitar. “Berbeda dengan limbah B3 yang memang berasal dari limbah industri yang memang toksik. Kalau sampah B3 toksiknya sedikit tapi jumlahnya banyak dan bersifat akumulatif. Sehingga ini menimbulkan bahaya bagi lingkungan dan manusia,” katanya dalam talkshow B3 dalam Kehidupan Kita, Selasa (26/7).

Vivien menyatakan, pentingnya sosialisasi dan edukasi lebih lanjut kepada masyarakat agar mengetahui tentang bahaya dan ancaman sampah ini. Termasuk, mendorong masyarakat agar selektif dalam memilih produk yang tak mengandung B3 dengan membaca label kemasan.

Selain itu, ia juga mendorong agar masyarakat tak membuang sampah B3 sembarangan, termasuk ke lingkungan. Kerja sama yang solid antara masyarakat dan pemerintah daerah sangat krusial untuk menangani sampah ini.

“Kita dorong pemda menyiapkan drop box-drop box agar masyarakat bisa mengumpulkan sampah B3nya lalu baru dibawa ke pengolah B3,” ucap Vivien.

Bahan dan Sampah B3 Ada Dalam Kehidupan Sehari-hari

Pakar Ekotoksikologi Institut Pertanian Bogor (IPB) Etty Riani mengungkapkan, bahan dan sampah B3 ada dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya penggunaan obat nyamuk bakar yang mengandung dichlorovynil dimethyl phosfat (DDVP), prpooxur (karbamat) dan diethyltoluamide. Adapun kandungan ini tak hanya dapat membunuh nyamuk, tapi bisa mencemari lingkungan.

“Obat nyamuk itu nanti kan asapnya ke udara, lalu terjadi deposisi kering sehingga akan ditarik oleh gravitasi bumi dan akan jatuh juga ke tanah,” imbuhnya.

Demikian pula pada penggunaan obat kutu yang mengandung Lindane. Kandungan ini tak sekadar mematikan kutu, tapi ketika setelah keramas Lindane terbawa air dan mencemari lingkungan.

Penggunaan pestisida pada sektor pertanian juga menimbulkan racun, baik racun kontak maupun yang bersifat sistemik. Etty menyebut risiko racun kontak lebih ringan daripada sistemik. Salah satunya masuk peredaran darah manusia dan mengancam organ-organ dalam tubuh, seperti kanker hingga penyakit degeneratif lainnya.

Bahkan, kandungan B3 bisa ada pada peralatan make up dan skincare mengandung merkuri. Dalam jangka pendek merkuri membuat kulit lebih bersih. Tapi dalam jangka waktu panjang dapat memicu kanker kulit.

Plt Deputi Fasilitasi Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi nasional (BRIN) Agus Haryono berpendapat, ada sejumlah aspek yang perlu jadi perhatian ketika ingin mengganti produk B3.

Misalnya saja, tingkat keterjangkauan harga, efektivitas manfaatnya, sosialisasi serta edukasi dalam masyarakat. “Misalnya pada penggunaan lampu LED pengganti lampu pijar yang mengandung merkuri.

Selain lampu LED lebih efisien dalam penggunaan listriknya juga lebih tahan lama. Artinya sudah memenuhi aspek, seperti lebih ekonomis dan efektif dibanding lampu pijar,” tuturnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/cermati-barang-sehari-harimu-bisa-jadi-mengandung-sampah-b3/feed/ 0
YPBB Latih Daerah Kelola Sampah Sesuai Karakter Wilayahnya https://www.greeners.co/aksi/ypbb-latih-daerah-kelola-sampah-sesuai-karakter-wilayahnya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ypbb-latih-daerah-kelola-sampah-sesuai-karakter-wilayahnya https://www.greeners.co/aksi/ypbb-latih-daerah-kelola-sampah-sesuai-karakter-wilayahnya/#respond Tue, 26 Jul 2022 04:57:03 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=36845 Jakarta (Greeners) – Organisasi non-profit Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan (YPBB) membimbing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mewujudkan kawasan bebas sampah. Setiap daerah harus memiliki rencana teknis pengelolaan sampah (RTPS). Pelatihan online […]]]>

Jakarta (Greeners) – Organisasi non-profit Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan (YPBB) membimbing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mewujudkan kawasan bebas sampah. Setiap daerah harus memiliki rencana teknis pengelolaan sampah (RTPS).

Pelatihan online RTPS (20-22 Juli 2022) ini bagian dari program zero waste cities. Harapannya program ini bisa membangun kapasitas stakeholder terkait tata kelola sampah di wilayahnya masing-masing.

Manajer Zero Waste Cities YPBB Kota Bandung Ismail Rayadi mengatakan, dokumen RTPS ini merupakan turunan dari Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga (Jakstranas).

Selain itu juga dari Kebijakan dan Strategi Daerah Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga (Jakstrada) serta masterplan nasional dan regional. Program yang mengerucut pada RTPS perlu daerah sesuaikan dengan eksisting masing-masing wilayah.

“Dalam hal ini, YPBB memfasilitasi para stakeholder OPD untuk memahami fungsi dokumen RTPS untuk mendukung kerja-kerja di tingkat daerah,” katanya dalam konferensi pers Pelatihan Online Rencana Teknis Pengelolaan Sampah (RTPS), baru-baru ini.

Tata Kelola Sampah Berbasis Karakter Daerah

Dalam kegiatan ini, YPBB juga membantu penyusunan modul pembuatan dan penerapan RTPS tata kelola persampahan setiap daerah.

“Terdapat 6 sesi yang dikonversi menjadi 15 jam pelajaran. Sesi-sesinya ada pengenalan mengenai RTPS, pembuatannya, bagian yang cukup penting yaitu ada kelembagaan, penerapan RTPS itu bagaimana dan yang terakhir monitoring dan evaluasi,” paparnya.

RTPS merupakan dokumen perencanaan yang muatannya berupa panduan sistem pengelolaan sampah di setiap tingkat kawasan. Tingkatan itu antara lain kecamatan, sub wilayah kota, kelurahan ataupun desa, dari hulu sampai ke hilir.

Dalam pelatihan ini hadir 56 peserta dari berbagai lembaga dan kedinasan serta LSM. Saat ini di Kota Bandung sudah ada 15 Kelurahan yang memiliki dokumen RTPS di wilayahnya.

Keikutsertaan para OPD ini harapannya dapat menguatkan dan memahamkan fungsi RTPS sehingga dapat lebih semangat untuk menerapkannya secara konsisten.

Terdapat dua poin penting dalam pelatihan ini. Pertama yaitu terkait dengan pembagian peran dalam pengelolaan sampah di wilayah. Terutama wilayah pemukiman, secara kelembagaan antara kewilayahan, masyarakat, pemerintah kota atau kabupaten.

Sistem pengelolaan sampah akan semakin mudah berjalan apabila sesuai dengan kondisi wilayah tersebut. Mulai dari jumlah penduduk, topografi, geografis hingga karakter masyarakat juga tertulis dalam dokumen RTPS.

Sejak berdiri tahun 1993, YPBB mendedikasikan diri untuk membantu masyarakat mencapai kualitas hidup yang tinggi dan berkelanjutan melalui gaya hidup selaras alam. Sejak tahun 2005 YPBB fokus dalam isu zero waste. Tahun 2017 mereka pun menjalankan program zero waste cities bekerja sama dengan GAIA, Mother Earth Foundation, didanai oleh Plastic Solutions Fund.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ypbb-latih-daerah-kelola-sampah-sesuai-karakter-wilayahnya/feed/ 0
Pulau Jawa Hasilkan 1,12 Juta Ton Sampah Elektronik https://www.greeners.co/berita/pulau-jawa-hasilkan-112-juta-ton-sampah-elektronik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pulau-jawa-hasilkan-112-juta-ton-sampah-elektronik https://www.greeners.co/berita/pulau-jawa-hasilkan-112-juta-ton-sampah-elektronik/#respond Thu, 16 Jun 2022 06:11:19 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36470 Jakarta (Greeners) – Hingga saat ini terdapat hampir 2 juta ton sampah elektronik di Indonesia. Dari jumlah itu, Pulau Jawa berkontribusi menghasilkan 56 persennya atau sekitar 1,12 juta ton. Namun […]]]>

Jakarta (Greeners) – Hingga saat ini terdapat hampir 2 juta ton sampah elektronik di Indonesia. Dari jumlah itu, Pulau Jawa berkontribusi menghasilkan 56 persennya atau sekitar 1,12 juta ton. Namun baru 17,4 persen saja sampah elektronik secara nasional yang sudah terkelola.

Dari kondisi itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memastikan akan mempercepat pengelolaan sampah elektronik dari sektor rumah tangga. Sampah elektronik punya dampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan. Dari tahun ke tahun timbulan sampah elektronik terus meningkat.

Direktur Pengelolaan Sampah KLHK Novrizal Tahar mengakui, pengaturan limbah elektronik di Indonesia merupakan hal baru. Artinya, sambung dia selama ini sampah elektronik yang bersumber dari rumah tangga itu tidak ada peraturannya. Sehingga tak ada aturan dalam pengelolaan sampah jenis ini.

“Ada yang (sampah elektroniknya) dicampur dan dibuang dengan sampah rumah tangga ke TPA. Ada yang dibakar dan pasti akan mengeluarkan logam berat. Kalau tidak dibuang mungkin kedaluwarsa dan disimpan di rumah sehingga akan mengeluarkan radiasi,” katanya dalam diskusi bertajuk Sampah Elektronik: Peluang, Tantangan dan Nilai Ekonomi di Jakarta Pusat, Rabu (15/6).

Padahal berdasarkan riset, Indonesia menghasilkan kurang lebih 2 juta ton sampah elektronik. Dari jumlah itu hanya 17,4 persen saja yang dikelola.

Tiga Sektor Harus Bertanggung Jawab

Peraturan Pemerintah No 27 Tahun 2020 Tentang Pengelolaan Sampah Spesifik mengacu pada Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 Tentang Pengeloaan Sampah. Selain itu juga mengacu dengan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Mengacu amanat di dalamnya, setidaknya terdapat tiga sektor yang harus bertanggung jawab atas sampah elektronik, yaitu produsen sebagai penghasil sampah limbah bahan berbahaya beracun (B3), pengelola kawasan serta pemerintah daerah terkait.

Khusus untuk produsen harus memiliki program take back. “Dan publik pun harus tahu kita beli produk-produk yang memang produsen yang punya program take back. Kalau tidak punya, kurangi konsumsi dengan pihak yang seperti itu,” imbuh Novrizal.

Produsen, dapat bekerja sama dengan komunitas atau social entrepreneur yang bergerak di bidang pengelolaan sampah. Saat ini ada sekitar 80 social entrepreneur yang aktif dalam pengelolaan sampah.

Kedua yaitu pengelola kawasan harus memastikan pentingnya tempat pengelolaan limbah B3 di sekitar kawasan tersebut.

Terakhir yaitu pemerintah daerah yang juga memiliki tanggung jawab untuk pengumpulan sampah elektronik ini. Pemerintah daerah, sambungnya bisa berkoordinasi bersama pengelola kawasan untuk penyiapan drop box sampah elektronik di tempat-tempat strategis.

Percepat Aturan Turunan Pengelolaan Sampah Spesifik Ini

Saat ini, pemerintah juga tengah mempercepat pengelolaan sampah elektronik ini dengan memastikan aturan turunan dari PP Nomor 27 Tahun 2020 ini.

KLHK juga menyiapkan pembangunan pilot project pengelolaan sampah elektronik di 20 kota di Indonesia untuk kemudian diikuti oleh wilayah-wilayah lain. “Pertama Jakarta dan kalau itu sudah berjalan kita bisa melakukannya secara nasional pada 514 kabupaten kota di Indonesia,” imbuhnya.

PhD Candidate for Recycling Electronic Waste Aulia Qisthi menyatakan, peningkatan sampah elektronik seiring dengan banyaknya pengguna gadget di Indonesia. Menurutnya, Indonesia masuk dalam tiga besar negara di Asia selain India dan China.

Bahkan timbulan sampah elektronik di Indonesia mencapai 3.200 kilo ton pada 2040 nanti. Artinya, setiap orang berkontribusi sebanyak 10 kilogram sampah elektronik dalam satu tahun.

Setiap Orang Rata-Rata Hasilkan 6,88 Kilogram Sampah Elektronik di Indonesia

Berdasarkan data impor barang elektronik di Indonesia, angka tersebut meningkat dibanding tahun 2020. Tahun 2020 timbulan sampah elektronik mencapai 1.862 kilo ton. Setiap orang rata-rata menghasilkan 6,88 kilogram sampah elektronik.

Sementara untuk distribusi limbah elektronik terbanyak ada di Jawa 56 %, Sumatra 22 %, Sulawesi 7 %, Kalimantan 6 %, Maluku 1 % dan Papua 2 %.

Aulia menyatakan, pentingnya percepatan penanganan sampah elektronik di Indonesia. Pasalnya, penanganan sampah elektronik juga berdampak positif terhadap pengurangan CO2.

“Setiap 1 ton sampah elektronik juga bisa mengurangi 1.400 ton CO2, sehingga dapat mengurangi reduksi karbon. Potensi-potensi ini sangat menarik sehingga kita harus secepatnya melakukan integrasi pengelolaan limbah elektronik,” kata dia.

Selain itu, sampah elektronik juga bisa menghasilkan keuntungan finansial. Berdasarkan perhitungan Aulia, daur ulang dari timbulan sampah elektronik di Indonesia tahun 2020 mampu memberikan keuntungan hingga US$ 1,8 miliar.

“Pada tahun 2020 setidaknya terdapat potensi daur ulang 12,5 ton tembaga, 119 ton perak, 21 ton emas, 54 ton paladium dan 10 ton platinum. Potensi ekonomi ini mencapai US$ 1,8 miliar ,” paparnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/pulau-jawa-hasilkan-112-juta-ton-sampah-elektronik/feed/ 0
Aksi Kresek Man, Pahlawan Sampah di Kota Blitar https://www.greeners.co/sosok-komunitas/aksi-kresek-man-pahlawan-sampah-di-kota-blitar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=aksi-kresek-man-pahlawan-sampah-di-kota-blitar https://www.greeners.co/sosok-komunitas/aksi-kresek-man-pahlawan-sampah-di-kota-blitar/#respond Fri, 06 May 2022 04:00:50 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=36090 Blitar (Greeners) – Berbagai cara dilakukan untuk mengkampanyekan aksi pengurangan sampah. Salah satunya melalui pembuatan tokoh Kresek Man sebagai ikon untuk memerangi sampah di Blitar, Jawa Timur. Kresek Man merupakan […]]]>

Blitar (Greeners) – Berbagai cara dilakukan untuk mengkampanyekan aksi pengurangan sampah. Salah satunya melalui pembuatan tokoh Kresek Man sebagai ikon untuk memerangi sampah di Blitar, Jawa Timur.

Kresek Man merupakan komunitas sekaligus tokoh yang concern pada isu-isu pengurangan sampah plastik di Blitar. Selain mengedukasi melalui aksi dan kampanye, hadirnya tokoh Kresek Man menjadi ikon perubahan perilaku masyarakat terhadap sampah.

Rekan Kresek Man, Uky Tantra menyatakan awalnya yakni tahun 2000-an, wadah ini lebih concern pada kegiatan pecinta alam dengan misi aksi mengurangi sampah plastik. Berbeda dengan kegiatan pecinta alam kekinian yang misi utamanya mencapai puncak atau sekadar berburu konten.

“Jadi di awal-awal, kami misalnya ke gunung bawa kantong untuk mengambil sampah. Kegiatan pecinta alam memang untuk menyelamatkan alam, bukan sekadar cari spot foto,” katanya kepada Greeners, baru-baru ini.

Selain beraksi mengurangi sampah di gunung, komunitas ini bergerak mengurangi sampah di sungai dan event-event keramaian yang berpotensi menghasilkan sampah. Seperti dalam agenda karnaval, bazaar yang ada di Blitar.

Akan tetapi, lambat laun aksi komunitas ini semakin menurun. Terutama banyaknya anggota komunitas yang tak lagi aktif. “Kita akhirnya merasa penting untuk melibatkan semua masyarakat sebagai bagian aksi Kresek Man, tak lagi terikat anggota secara resmi tapi kita bikin tokoh,” ucapnya.

Citra dan Aksi Kresek Man sebagai Pahlawan Sampah

Alhasil, Uky bersama dua kawannya membentuk tokoh Kresek Man yang dicitrakan sebagai pahlawan sampah yang anak-anak dan orang dewasa sukai. Di awal-awal kemunculannya, Kresek Man memakai make up hitam-hitam yang mencerminkan bahaya sampah bisa menimbulkan sesuatu yang kotor.

Tak hanya itu, aksi-aksi bersih-bersih Kresek Man baik di fasilitas umum seperti pasar, event yang berpotensi menghasilkan sampah, serta bersih sungai selalu meninggalkan jejak ke masyarakat. Uky menyatakan, setiap orang yang terlibat aktif dalam upaya pengurangan sampah bersama Kresek Man akan mendapat stiker aksi Kresek Man.

“Jadi kita tak perlu merekrut anggota Kresek Man. Mereka mau peduli dengan sampah, mau terlibat dengan kita, secara langsung mereka masuk menjadi bagian kami,” papar dia.

Langkah aksi Kresek Man selalu masyarakat tunggu-tunggu. Hingga puncaknya yakni pada tahun 2017-2018, Kresek Man viral. Saat itu, tepatnya dalam acara Blitar Jadoel, sambung Uky ada netizen yang merasa resah dengan banyaknya sampah dan ia mengharapkan hadirnya Kresek Man yang mampu melawan sampah. Akhirnya, di hari esoknya Kresek Man hadir beraksi memerangi sampah.

Aksi Kresek Man mengumpulkan sampah. Foto: Ramadani Wahyu/Greeners

Aksi Peduli Sampah Ini Raih Penghargaan Pemkot Blitar

Aksi-aksi Kresek Man selalu menjadi pusat perhatian masyarakat selalu luas. Tak ayal jika komunitas ini juga kerap mendapatkan banyak penghargaan, misalnya dari Pemerintah Kota Blitar.

Uky menyebut, alasan di balik penamaan Kresek Man lebih kepada fungsi kresek itu sendiri sebagai penyelamat lingkungan. Ia sepakat ancaman bahaya dari sampah plastik atau kresek yang ada di lingkungan. Akan tetapi, ia juga melihat fungsi utama kresek sebagai penyelamat lingkungan pengganti kertas.

“Banyak orang memakai paper bag, padahal dengan memakai kertas maka artinya kan merusak keberlanjutan pohon. Penebangan pohon di mana-mana. Itulah kenapa ada kresek, tapi kita harus bijak menggunakannya. Misal dengan mengurangi penggunaan kresek,” ungkapnya.

Beberapa program lain yang Kresek Man lakukan yaitu berkolaborasi dengan banyak komunitas untuk aksi pengurangan sampah. Selanjutnya bekerja sama dengan sekolah-sekolah untuk melakukan pemilahan sampah, hingga mengedukasi anak-anak terkait bahaya sampah.

Uky berharap, hadirnya tokoh Kresek Man mampu menyuarakan aksi pengurangan sampah. “Anak-anak tak bisa kita dekati dengan bahasa yang lugas, mereka perlu tokoh, perlu role model,” pungkasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/aksi-kresek-man-pahlawan-sampah-di-kota-blitar/feed/ 0
Kresek Man Kampanyekan Pengurangan Sampah dari Bungkus Rokok https://www.greeners.co/aksi/kresek-man-kampanyekan-pengurangan-sampah-dari-bungkus-rokok/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kresek-man-kampanyekan-pengurangan-sampah-dari-bungkus-rokok https://www.greeners.co/aksi/kresek-man-kampanyekan-pengurangan-sampah-dari-bungkus-rokok/#respond Thu, 05 May 2022 04:00:55 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=36081 Blitar (Greeners) – Di tangan Kresek Man, sampah yang tak berguna dan meresahkan dapat disulap menjadi karya seni lukisan yang indah. Hal ini menjadi pemandangan menarik dari peringatan 100 tahun […]]]>

Blitar (Greeners) – Di tangan Kresek Man, sampah yang tak berguna dan meresahkan dapat disulap menjadi karya seni lukisan yang indah. Hal ini menjadi pemandangan menarik dari peringatan 100 tahun Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Rayon Plosoarang, Kabupaten Blitar untuk mengampanyekan pengurangan sampah.

Sebuah baliho lukisan berukuran sekitar 250 meter x 360 meter terpampang memperlihatkan tujuh tokoh penting PSHT dalam balutan emas. Balutan emas tersebut adalah terbuat dari aluminium foil bungkus rokok. Sebanyak 1.500 aluminium foil bungkus rokok mampu membentuk tokoh-tokoh PSHT dan membentuk tulisan “Memayu Hayuning Bawono”.

Rekan Kresek Man, Uky Tantra menyatakan, selain menyuarakan peringatan hari ulang tahun ke 100 tahun, baliho tersebut menyuarakan kampanye aksi pengurangan sampah. Utamanya sampah aluminium foil bungkus rokok yang sulit didaur ulang.

“Kita sekaligus ingin mengkampanyekan melalui Memayu Hayuning Bawono ini agar kita harus berbuat baik pada semesta, Tuhan dan lingkungan,” katanya kepada Greeners, baru-baru ini.

Menurut Uky, tanggung jawab sampah tak hanya melekat pada pemerintah, tapi juga komunitas, seperti halnya PSHT. Ia melihat, bahwa permasalahan paling serius terkait sampah khususnya di daerah Plosoarang yakni terkait pemilahan sampah. Sejatinya dengan pemilahan yang tepat, tak ada sampah yang terbuang sia-sia, termasuk aluminium foil.

“Pemilahan itu penting. Kalau bungkus rokok bisa terpilah dari plastik, aluminium foil dan kertasnya maka itu akan memudahkan dalam daur ulang,” imbuhnya.

Baliho Ingatkan Masyarakat untuk Pilah Sampah

Baliho tersebut menjadi peringatan agar masyarakat semakin sadar akan sampah yang ada di lingkungan. Uky mengungkapkan, baliho tersebut harapannya mampu memacu masyarakat agar sadar untuk memilah sampah.

Untuk membuat lukisan tersebut, Uky dan kawan-kawan mengumpulkan sampah alumunium foil, setelah bersih, menempelkannya di atas papan dan menjadi media lukis. Tak hanya bergambarkan tujuh tokoh penting PSHT, tampak terlihat kegiatan silat di dalam lukisan tersebut.

Uky menyebut, butuh waktu kurang lebih satu hingga dua hari untuk mewujudkan lukisan tersebut. Sementara untuk pengumpulan aluminium foil bungkus rokok ia dan tim kumpulkan lebih dari dua minggu.

Melalui kegiatan ini masyarakat didorong untuk memilah sampah dan peduli lingkungan. Foto: Ramadani Wahyu/Greeners

Kresek Man Komunitas Peduli Pengurangan Sampah

Kresek Man merupakan komunitas sekaligus tokoh yang concern pada isu-isu pengurangan sampah plastik. Selain mengedukasi melalui aksi dan kampanye, hadirnya tokoh Kresek Man menjadi ikon perubahan perilaku masyarakat terhadap sampah, khususnya di wilayah Blitar.

Sementara itu Ketua Rayon PSHT Plosoarang Ahmad Rojali menyatakan, kegiatan ini merupakan bentuk pertanggungjawaban dan pengabdian PSHT, khususnya terhadap masyarakat dan lingkungan.

“Yang paling penting adalah bahwa PSHT itu tak sekadar latihan silat, tapi juga bertanggungjawab kepada lingkungan,” ucapnya.

Selain itu komunitas ini juga memiliki program terkait lingkungan yaitu aksi bersih-bersih di sekitar lingkungan rayon Plosoarang. Sebanyak sembilan desa tergabung dalam rayon ini, di antaranya daerah Kademangan dan Gedog. Hingga saat ini hampir 115 orang aktif dalam perguruan silat ini.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/kresek-man-kampanyekan-pengurangan-sampah-dari-bungkus-rokok/feed/ 0
Sampah, Amanah, Rupiah: Jatuh Bangun Bank Sampah di Indonesia https://www.greeners.co/gaya-hidup/sampah-amanah-rupiah-jatuh-bangun-bank-sampah-di-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sampah-amanah-rupiah-jatuh-bangun-bank-sampah-di-indonesia https://www.greeners.co/gaya-hidup/sampah-amanah-rupiah-jatuh-bangun-bank-sampah-di-indonesia/#respond Sun, 27 Feb 2022 04:00:11 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=35404 Judul: Sampah, Amanah, Rupiah Pengarang: Teguh Usis Tahun Terbit: 2021 Penerbit: Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Dan Investasi Tebal buku: 346 halaman “Bank adalah […]]]>

Judul: Sampah, Amanah, Rupiah

Pengarang: Teguh Usis

Tahun Terbit: 2021

Penerbit: Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Dan Investasi

Tebal buku: 346 halaman

Bank adalah tempat menabung uang. Itu bank konvensional. Nah, kalau bank sampah, adalah tempat menabung sampah. Pola kerjanya mirip dengan bank beneran. Di bank sampah, warga bisa mendapatkan uang dengan menjual sampah yang dihasilkan dari rumah tangga”.

Sobat Greeners, apakah kalian tahu bagaimana awal mula munculnya bank sampah di Indonesia? Bank sampah muncul akibat goncangan gempa yang melanda Yogyakarta pada tahun 2006 silam. Berawal dari fenomena sampah yang menggunung dan mengganasnya penyakit demam berdarah. Adalah Bambang Suwerda, penggagas pertama bank sampah di Indonesia. Sejarah inilah yang Teguh Usis ingin kenalkan kepada pembaca, “si pendekar sampah” yang menjadi acuan banyak pihak dalam urusan mengelola sampah.

Pada bukunya, Teguh Usis juga menuturkan perjuangan Bambang Suwerda membangun bank sampah. Berbagai julukan miring hingga “orang gila” yang tersemat padanya tidak membuat Bambang patah arang. Berkat kegigihannya membuat bank sampah, sampai saat ini bank sampah masih menjadi harapan banyak orang dan kian menyebar di seluruh Indonesia. Bank sampah menjadi tonggak penting kepedulian dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah.

Secarik Kisah Perjuangan Bank Sampah di Indonesia

Selain sejarah, penulis juga membawa sedikit cerita dari beberapa bank sampah yang tersebar di nusantara. Seperti Bank Sampah Malang, Bank Sampah Bersinar Bandung, Bank Sampah Bunga Tanjung Sijunjung, Bank Sampah Makassar, Bank Sampah Rumah Harum Depok. Serta Bank Sampah Induk Surabaya, Bank Sampah Induk Gesit Jakarta, Bank Sampah Nusantara dan Bank Sampah Barokah As-Salaam Padang.

Mari kita susuri secarik kisah Bank Sampah Malang, yang dua kali bobol, lalu bangkit. Pernah dua kali hampir gulung tikar, sang penggagas, Rahmat Hidayat tak kenal lelah untuk membangun Bank Sampah Malang dari keterpurukan. Bermula dari kegelisahannya menyaksikan masalah sampah yang menjadi persoalan pelik di kota Malang. Rahmat memanfaatkan bangunan bekas kamar mayat, yang ia ubah menjadi bank sampah pada tahun 2011.

Selain harapan agar lingkungan lebih bersih, bank sampah juga mengemban tugas untuk menjaga amanah pada masyarakat untuk mengelola sampah yang telah mereka berikan. Bukan kepedulian masyarakat yang masih rendah akan pentingnya bank sampah, namun Bank Sampah Malang menemukan kendala yang lebih miris. Rahmat dikhianati oleh teman dan karyawan yang seharusnya membantunya menjaga amanah masyarakat, mereka membuat kerugian pada bank sampah hingga ratusan juta rupiah.

Rahmat menyadari bahwa mengelola bank sampah harus bersih dari dalam, manajemen harus benar dan memiliki karyawan yang jujur. Dua kali kebobolan dan merugi menjadi pelajaran berharga bagi Bank Sampah Malang. Belajar dari hal tersebut, Bank Sampah Malang sudah jauh lebih baik dengan nasabah yang terus bertambah hingga saat ini.

Masih terdapat delapan kisah menarik dari perjuangan bank sampah lainnya pada buku ini. Kisah tentang “para pendekar sampah” yang tidak menyerah untuk menjaga lingkungannya dan mensejahterakan sesama manusia. Dalam perjalanannya, mereka juga menemukan “kerikil” hingga “batu besar”, namun tak juga sekalipun mematahkan semangatnya.

Bukan Hanya Sekadar Masalah Lingkungan

Pada ulasan buku kali ini, bank sampah menjadi topik utamanya. Hal ini menunjukkan, bank sampah merupakan salah satu bentuk konkret inovasi dan kontribusi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Kehadiran bank sampah menjadi bagian penting dalam implementasi ekonomi sirkular (circular economy). Bukan saja untuk lingkungan, kehadiran bank sampah juga memberikan dampak positif bagi sisi sosial, yakni edukasi dan ekonomi bagi masyarakat.

Semakin meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengelola sampah, membuat keberadaan bank sampah sebuah keniscayaan. Peran bank sampah begitu besar untuk menerima, mengolah dan menjual sampah yang tak lagi bisa masyarakat manfaatkan. Hingga waktu terus berjalan, teknologi juga terus berkembang, tak sedikit yang menawarkan berbagai inovasi dan terobosan. Bahkan saat ini, keberadaan bank sampah di Indonesia mudah masyarakat temukan pada berbagai aplikasi buatan anak negeri.

Penulis menuliskan, kenyataan ini tentu akan membawa kita kepada optimisme, tentang persoalan sampah di Indonesia yang dapat teratasi. Apabila masyarakat sudah memahami betapa pentingnya mengelola sampah, mereka akan dengan senang hati membatasi dan mengurangi sampah. Terlebih, jika masyarakat melakukannya dengan sepenuh cinta. Seperti kata Penyair sufi Jalaluddin Rumi: “dengan cinta, sampah menjadi jernih”.

Penulis : Zahra Shafira

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/sampah-amanah-rupiah-jatuh-bangun-bank-sampah-di-indonesia/feed/ 0
Gerakan Kolekte Sampah Wujud Pertobatan Ekologis https://www.greeners.co/berita/gerakan-kolekte-sampah-wujud-pertobatan-ekologis/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gerakan-kolekte-sampah-wujud-pertobatan-ekologis https://www.greeners.co/berita/gerakan-kolekte-sampah-wujud-pertobatan-ekologis/#respond Sat, 19 Feb 2022 06:58:45 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=35344 Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendorong peran aktif organisasi keagamaan dan Keuskupan Gereja di Bogor menjadi garda terdepan pengelolaan sampah di Indonesia. Salah satu bentuknya kolekte […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendorong peran aktif organisasi keagamaan dan Keuskupan Gereja di Bogor menjadi garda terdepan pengelolaan sampah di Indonesia. Salah satu bentuknya kolekte sampah di gereja sebagai wujud pertobatan ekologis.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, survei nasional literasi digital mengungkap keluarga dan tokoh agama merupakan sumber informasi yang banyak masyarakat percayai. Sebanyak 50,6 % responden memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap informasi yang mereka peroleh dari tokoh agama.

“KLHK sebelumnya telah bergerak bersama keluarga MUI. Kini kami mendorong Keuskupan Gereja Bogor untuk terlibat aktif, menyerap ilmu dari sini lalu menyebarkannya. Karena kita percaya kalau tokoh agama dilibatkan, umatnya juga akan ikut,” katanya dalam Webinar Mewujudkan Pertobatan Ekologis Melalui Gerakan Kolekte Sampah, Jumat (18/2).

Mengusung tema “Kelola Sampah, Turunkan Emisi dan Bangun Proklim”, Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tahun 2022 sambung Vivien lebih menekankan pada ketepatan pengelolaan sampah. Terutama sampah organik sehingga berpengaruh menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK). Sampah organik yang masyarakat buang ke tempat pembuangan akhir (TPA) akan menghasilkan gas metan dan menimbulkan GRK.

Oleh karena itu, Vivien mengingatkan masyarakat untuk memilah sampah terlebih dahulu sebelum akhirnya terkelola. Sampah yang masih memiliki nilai dan kegunaan sebaiknya masyarakat daur ulang. Konsep ekonomi sirkular ini akan memberi keuntungan. Misalnya, sampah organik yang dapat menjadi kompos.

“Kalau circular economy itu prinsipnya adalah sampah dikelola dan setelah itu berputar memberikan keuntungan finansial, baik itu melalui didaur ulang atau dipakai lagi. Jadi tidak ada sampah terbuang ke TPA,” ungkapnya.

Sementara itu sampah yang tak bisa terdaur ulang bisa terolah dengan pemanfaatan teknologi. Misalnya, pembangkit listrik tenaga sampah yang ada di Surabaya dan saat ini telah terimplementasi di TPA Solo.

Cegah Sampah dengan Pembatasan Plastik Sekali Pakai

Pendekatan lain yang pemerintah lakukan yaitu terkait pembatasan penggunaan plastik sekali pakai. Beberapa larangan pembatasan plastik sekali pakai yaitu kantong belanja plastik, hingga sedotan plastik.

Saat ini, tercatat dua provinsi, yakni Bali dan DKI Jakarta dan 71 kabupaten kota yang telah mengeluarkan kebijakan daerah terkait pelarangan penggunaan tas belanja sekali pakai sebagai upaya pengurangan sampah.

Jumlah sampah plastik yang Indonesia hasilkan sangat besar seiring dengan gaya hidup jual beli online yang marak di lingkungan masyarakat Indonesia. Mengacu pada Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), sebanyak 39,3 % komposisi sampah di Indonesia adalah sampah sisa makanan. Sedangkan 17 % lainnya plastik, selanjutnya 14 % yaitu kayu atau ranting.

“Sehingga isu sampah plastik ini juga menjadi pekerjaan rumah besar untuk kita. Bagaimana kita mau mengurangi plastik sedangkan kita inginnya serba praktis. Makanan dan beli online semuanya berbungkus sampah plastik,” paparnya.

Sementara itu Direktur Pengurangan Sampah KLHK Sinta Saptarina mengatakan, plastik bisa termanfaatkan sebagai circular economy. Misalnya botol plastik bekas dapat tereproduksi menjadi botol baru.

Hal paling penting dalam pengurangan sampah di antaranya dengan memastikan gaya hidup minim sampah. “Misalnya mengurangi penggunaan sampah, memastikan makanan selalu habis. Kalau tidak habis bisa untuk pupuk dan juga pilah sampah dari rumah atau komunitas gereja,” imbuh Sinta.

Menurutnya, kebutuhan daur ulang plastik di Indonesia masih terbilang tinggi, yaitu 7,6 juta ton per tahun. Indonesia bahkan harus mengimpor bahan baku karton dan plastik yang mencapai 3,43 juta ton. Sinta mengungkap, permasalahan utamanya terletak pada belum terpilahnya sampah plastik di Indonesia.

Seruan Kolekte Sampah

Terkait kolekte sampah, Uskup Keuskupan Bogor Paskalis Bruno Syukur menyatakan, dua hal krusial kegiatan kolekte sampah ini menyangkut pertobatan ekologis. Hal ini berhubungan dengan spirit roh bagi lingkungan hidup dan manusia.

Kedua, spirit roh gerakan untuk manusia memperbarui hidup dan relasinya. Baik itu relasinya dengan Allah, manusia dan semesta alam dengan sikap menghargai, melindungi dan merawat.

“Sehingga tidak menjadi manusia yang serakah, yang menghancurkan alam semesta ini. Tapi menjaga pemeliharaan dan melanggengkan keberadaan alam semesta ini,” katanya.

Senada dengan itu, Komisi Ekologi Keuskupan Bogor Yosef Irianto Segu mengungkapkan, tindakan itu merupakan cerminan dari iman spiritual umat. Sehingga apapun tindakan manusia, termasuk pada alam dan lingkungan bersumber dari tingkat spiritualnya.

“Bapak Paus Fransiskus pernah berkata bahwa membuang sampah plastik ke laut atau saluran air merupakan tindakan kriminal. Kita dapat membunuh keanekagaraman hayati dan membunuh segalanya. Tindakan kita merupakan cerminan dari iman masing-masing,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/gerakan-kolekte-sampah-wujud-pertobatan-ekologis/feed/ 0
HPSN 2022, Libatkan Kampung Iklim Kelola Sampah Turunkan Emisi https://www.greeners.co/berita/hpsn-2022-libatkan-kampung-iklim-kelola-sampah-turunkan-emisi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hpsn-2022-libatkan-kampung-iklim-kelola-sampah-turunkan-emisi https://www.greeners.co/berita/hpsn-2022-libatkan-kampung-iklim-kelola-sampah-turunkan-emisi/#respond Wed, 16 Feb 2022 10:17:57 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=35314 Jakarta (Greeners) – Dalam peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2022, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) membuat terobosan yakni memastikan program pengelolaan sampah di kampung iklim yang ada di […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dalam peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2022, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) membuat terobosan yakni memastikan program pengelolaan sampah di kampung iklim yang ada di seluruh Indonesia. HPSN ini Indonesia peringati setiap 21 Februari.

Mengusung tema “Kelola Sampah, Turunkan Emisi, Tingkatkan Kegiatan Proklim”, peringatan HPSN tahun ini akan KLHK fokuskan di daerah Bali sebagai tuan rumah KTT G20 nanti. Kendati demikian, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati memastikan program pengelolaan sampah ini juga akan berlangsung di semua kampung iklim seIndonesia.

“Meski demikian, kami tak berhenti di situ, kita akan bergerak untuk semua kampung iklim yang ada di daerah-daerah lain. Surat Edaran Ibu Menteri LHK juga mengimbau gubernur, walikota, bupati, kepala dinas LH, beserta kampung iklim untuk bisa bergerak dalam penanganan pengelolaan sampah,” kata Vivien dalam konferensi pers virtual HPSN, di Jakarta, Rabu (16/2).

Vivien mengatakan, pada peringatan HPSN tahun ini, KLHK telah mengawinkan satu program dari tiga ditjen berbeda, yakni Ditjen Pengelolaan Sampah, Limbah Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3), Ditjen Perhutanan Sosial, serta Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim dengan sasaran utama masyarakat tingkat tapak.

“Kami ingin melihat bagaimana kampung iklim yang sudah dibangun kurang lebih 3000an itu kemudian dapat melakukan pengelolaan sampah. Terutama organik bisa kita hitung kontribusinya dari penurunan emisi gas rumah kaca,” paparnya.

Adapun emisi gas rumah kaca tersebut menjadi salah satu indikator yang Nationally Determined Contribution (NDC) hitung targetnya. Target penurunan emisi gas rumah kaca dalam NDC tahun 2030, yakni sebesar 29 % dengan usaha sendiri dan 41 % dengan bantuan internasional.

Target Kampung Iklim di Bali Jelang HPSN 2022

Lebih lanjut Vivien menyebut, monitoring pelaksanaan pembangunan kampung iklim di Bali sebagai target HPSN tahun ini telah mencapai hasil yang baik. Terutama bagaimana pengelolaan sampah dari hulu ke hilir. Juga kepastian fasilitas seperti bank sampah, rumah kompos, serta pusat daur ulang. Tantangannya, sambung dia yaitu kelembagaan dan manajemen bank sampah yang kurang maksimal.

“Bagaimana manajemen, administrasi dan pengumpulan uang dan sampah ini masih kurang. Lalu di hilir bank sampah itu masih pasif karena tidak ada off taker-nya atau perusahaan daur ulang yang langsung dari bank sampah. Itu masih menjadi kendala,” imbuhnya.

Vivien menambahkan, pemerintah juga tidak menghilangkan ciri khas lokal dari masing-masing kampung dalam program kampung iklim ini. “Misalnya, kalau Bali pakai Banjar, ada Banjar dinas dan Banjar adat yang memang mengurusi upacara-upacara adat di sana. Kita tak mengubah, tapi memasukkan kampung iklim agar lebih konkret lagi pengelolaan sampah di dalamnya,” paparnya.

Sampah-sampah yang telah Bali kelola tersebut nantinya akan pemerintah hitung kontribusi penurunan gas rumah kacanya bersama dengan Menteri LHK pada acara puncak HPSN pada 21 Februari 2022 nanti.

Bali menjadi salah satu lokasi yang pemerintah ajak untuk masif mengelola sampah. Foto: Shutterstock

Harapan Kampung Iklim Kejar Target Penurunan Emisi

Direktur Penanganan Sampah KLHK Novrizal Tahar menyatakan apabila terlaksana secara konsekuen tiap kampung iklim mampu menurunkan emisi yang sangat signifikan. Misalnya 20.000 kampung iklim tiap harinya mampu mengelola sampah organik sebanyak 1-2 ton.

“Dalam setahun mereka bisa menurunkan 15-16 juta ton CO2. Artinya gerakan masyarakat ini sangat masif dalam menurunkan gas rumah kaca sebagaimana komitmen kita dalam NDC,” katanya.

Novrizal mengharapkan, melalui program ini pengelolaan sampah sebagaimana target untuk menurunkan emisi gas rumah kaca bisa tercapai. Ia menyebut, sebelumnya dengan seiring banyaknya TPA yang open dumping justru menambah beban emisi gas rumah kaca.

Adapun saat ini terdapat sebanyak kurang lebih 500 tempat pemrosesan akhir (TPA) yang ada di Indonesia. “Kita ingin memastikan pengelolaan sampah memang menuju pengurangan emisi gas rumah kaca yang ditargetkan dalam NDC,” ungkapnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/hpsn-2022-libatkan-kampung-iklim-kelola-sampah-turunkan-emisi/feed/ 0
Majelis Taklim Harus Jadi Pionir Pengelolaan Sampah di Indonesia https://www.greeners.co/berita/majelis-taklim-harus-jadi-pionir-pengelolaan-sampah-di-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=majelis-taklim-harus-jadi-pionir-pengelolaan-sampah-di-indonesia https://www.greeners.co/berita/majelis-taklim-harus-jadi-pionir-pengelolaan-sampah-di-indonesia/#respond Sat, 12 Feb 2022 04:30:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=35274 Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendorong peran lembaga sosial keagamaan nonformal, majelis taklim untuk terlibat aktif dalam pengelolaan sampah. Dorongan ini mengemuka jelang peringatan Hari Peduli […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendorong peran lembaga sosial keagamaan nonformal, majelis taklim untuk terlibat aktif dalam pengelolaan sampah. Dorongan ini mengemuka jelang peringatan Hari Peduli Sampah Nasional pada 21 Februari 2022.

Direktur Jendral Pengelolaan Sampah Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, peringatan Hari Peduli Sampah Nasional bukan berarti sebagai momentum perayaan akan sesuatu. Akan tetapi mengingatkan kembali akan tragedi longsoran sampah di TPA Leuwigajah, Cimahi pada 21 Februari 2005 silam yang menewaskan 150 orang.

Momentum Hari Peduli Sampah Nasional tahun ini, sambungnya merupakan kesempatan untuk menggandeng lembaga sosial keagamaan nonformal, yakni majelis taklim. Majelis taklim yang kebanyakan terdiri atas ibu-ibu memiliki peranan yang tinggi dalam pengelolaan sampah rumah tangga.

“Saya mengajak ibu-ibu majelis taklim supaya sampah tidak langsung dibuang ke TPA. Tapi kita kurangi, misal bawa tas belanja sendiri, bawa botol minum dan mengurangi pemakaian styrofoam,” kata Vivien dalam diskusi virtual Peran Majelis Taklim Indonesia untuk Mendorong Perubahan Perilaku Masyarakat dalam Mengelola Sampah di Jakarta, baru-baru ini.

Mengusung tema “Kelola Sampah, Turunkan Emisi, Tingkatkan Kegiatan Proklim”, Hari Peduli Sampah Nasional tahun 2022 menekankan pada Program Kampung Iklim atau Proklim. Adapun program ini menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca terkait dengan perubahan iklim.

Kontribusi Sampah Tak Lepas dari Isu Perubahan Iklim

Vivien mengungkapkan, kontribusi sampah tak terlepas dari isu perubahan iklim yang saat ini kian mengkhawatirkan. Dalam sehari, sampah yang rata-rata setiap orang hasilkan mencapai 0,7 kilogram. Pada tahun 2020, Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 68,7 juta ton. “Sampah kalau dibuang sembarangan atau di TPA dan tidak diolah itu akan keluar yang namanya gas emiten. Gas emiten itulah yang akan menimbulkan emisi dan emisi itulah yang akan menimbulkan perubahan iklim,” papar Vivien.

Menurutnya, permasalahan paling mendasar adalah kesadaran memilah sampah. Adapun jenis sampah yang paling banyak mengeluarkan gas emiten yaitu sampah organik yang bersumber dari rumah tangga. Sampah organik yang kebanyakan bersumber dari sektor rumah tangga, sambung Vivien sangat berpotensi menjadi kompos, pakan ikan hingga pakan ternak. “Oleh karenanya ibu-ibu kalau ada sisa makanan lebih baik kita manfaatkan,” imbuhnya.

Mengingat peranan para ibu sangat besar di majelis taklim, Vivien berharap lembaga sosial keagamaan ini menjadi garda dalam pengelolaan sampah. “Saya mau majelis taklim itu menjadi pionir untuk dalam pengelolaan sampah dari sumber dan membantu menurunkan emisi gas rumah kaca,” ucapnya.

Senada dengannya, Direktur Pengurangan Sampah KLHK Sinta Saptarina menyatakan, berdasarkan Sistem Informasi Persampahan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK, timbulan sampah nasional mencapai 65,7 juta ton per tahun atau setara dengan 13 juta gajah.

“Sisa makanan masih mendominasi yakni sebanyak 27,7 %. Sedangkan berdasarkan sumber sampah rumah tangga masih mendominasi yaitu 45,8 %,” kata Sinta.

Sampah yang tak terkelola dengan baik akan meningkatkan emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim. Foto: Shutterstock

Majelis Taklim Ubah Perilaku Pengelolaan Sampah

Sementara itu Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia Hayu Prabowo menyatakan, kata kunci peran majelis taklim dalam pengelolaan sampah berada dalam perubahan perilaku atau aklak.

Melalui program Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (Gradasi), majelis taklim dapat menanamkan perubahan perilaku sekaligus mengampanyekan pengelolaan sampah berbasis keagamaan. “Karena esensinya sampah itu adalah paling banyak dari sampah rumah tangga, di sini apalagi kebanyakan ibu-ibu rumah tangga,” paparnya.

Hayu berpandangan, seorang ibu merupakan madrasul ula atau madrasah pertama bagi anak. Seorang ibu dapat memberikan cerminan perilaku baik pada anaknya. “Saya harap gradasi dapat menjadi perubahan perilaku bagi masyarakat, tak hanya fisik tapi juga rohani,” ujarnya.

Gradasi yang mencakup 6 masjid penggerak telah menghasilkan 21 ton sampah. Jenis sampah yang paling mendominasi yaitu jenis sampah kertas dan kardus, yakni sebanyak 10.137,49 kilogram.

Enam masjid penggerak tersebut yaitu Masjid Raya Bintaro Raya Tangerang, Masjid An Nazhofah Jakarta, Masjid An-Nahlah Jakarta, Masjid Baitul Makmur Bekasi, Masjia Al-Muharram Yogyakarta, serta Masjid An-Zikra Bogor.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/majelis-taklim-harus-jadi-pionir-pengelolaan-sampah-di-indonesia/feed/ 0
UMKM Kuliner Jakarta Dilatih Kurangi Sampah Makanan https://www.greeners.co/aksi/umkm-kuliner-jakarta-dilatih-kurangi-sampah-makanan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=umkm-kuliner-jakarta-dilatih-kurangi-sampah-makanan https://www.greeners.co/aksi/umkm-kuliner-jakarta-dilatih-kurangi-sampah-makanan/#respond Wed, 09 Feb 2022 04:32:13 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=35240 Jakarta (Greeners) – Hampir 1.000 usaha mikro kecil menengah (UMKM) kuliner di Jakarta mendapat pelatihan manajemen pengurangan sampah makanan. Harapannya, sampah makanan di DKI Jakarta dapat turun sebesar 15-20 %. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Hampir 1.000 usaha mikro kecil menengah (UMKM) kuliner di Jakarta mendapat pelatihan manajemen pengurangan sampah makanan. Harapannya, sampah makanan di DKI Jakarta dapat turun sebesar 15-20 %.

Founder Surplus Indonesia Muh Agung Saputra mengungkapkan, dampak dari kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) tahun 2020 dan 2021 menyebabkan kantin, restoran, hotel, hingga kafe tutup lebih awal.

Sementara, makanan yang telah mereka siapkan waktu prime time dan masih layak terpaksa harus terbuang tak habis terjual. Selain itu, turunnya daya beli masyarakat turut memengaruhi penjualan, sehingga makanan mubazir.

Manajemen makanan melalui platform aplikasi Surplus merupakan salah satu kunci agar pelaku usaha bisa menjual secara lebih cepat dan tak mengalami kerugian karena makanan terbuang.

“Dari hal tersebut, kita dapat mencegah terjadinya timbulan sampah makanan dari hulunya dan menjadikan win-win solution terbaik antara penjual, pembeli dan lingkungan kita,” kata Agung dalam keterangan tertulisnya baru-baru ini.

Oleh sebab itu, Surplus Indonesia menginisiasi kegiatan pelatihan ini. Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Provinsi DKI Jakarta juga turut bekerja sama dalam program ini.

Agung menambahkan, melalui konsep clearance sale atau closing hour discount yang ada dalam aplikasi Surplus, para peserta mereka latih agar dapat melakukan manajemen makanan berlebih. Selain itu, pemanfaatan pengolahan makanan berlebih juga dilakukan. Misalnya memanfaatkan nasi berlebih menjadi olahan baru seperti cireng dan pangsit nasi.

Kolaborasi Mengurangi Sampah Makanan

Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM), Dhani Hendranala mengatakan, kolaborasi antar pihak perlu untuk menangani pengurangan sampah ini. “Untuk mengurangi sampah hingga tingkat kecamatan, maka perlu satu upaya untuk mengatasi hal ini,” ungkapnya.

Kepala Sudin PPKUKM Jakarta Timur, Olan Parulian menyatakan, kolaborasi kali pertama ini tak hanya mengurangi sampah pangan di DKI Jakarta, tapi sekaligus memberikan kontribusi positif bagi perkembangan perekonomian di Jakarta.

Ia juga menyebut, Surplus Indonesia telah meraih penghargaan ASEAN Social Enterprise. Hal ini membanggakan dan sangat perlu publik syukuri.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/umkm-kuliner-jakarta-dilatih-kurangi-sampah-makanan/feed/ 0
Sekolah Alternatif Anak Jalanan untuk Kelola Sampah https://www.greeners.co/aksi/sekolah-alternatif-anak-jalanan-untuk-kelola-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sekolah-alternatif-anak-jalanan-untuk-kelola-sampah https://www.greeners.co/aksi/sekolah-alternatif-anak-jalanan-untuk-kelola-sampah/#respond Mon, 10 Jan 2022 05:06:48 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=34953 Jakarta (Greeners) – Sampah merupakan problem utama di kota-kota besar, seperti Jakarta. Banyak faktor yang menyebabkan permasalahan sampah, antara lain rendahnya kesadaran masyarakat menangani permasalahan sampah. Selain itu, sistem kelola […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sampah merupakan problem utama di kota-kota besar, seperti Jakarta. Banyak faktor yang menyebabkan permasalahan sampah, antara lain rendahnya kesadaran masyarakat menangani permasalahan sampah. Selain itu, sistem kelola sampahnya juga belum maksimal.

Sayangnya, masyarakat khususnya anak-anak belum begitu memahami tentang pentingnya memilah dan mengelola sampah untuk mengurangi volume sampah yang semakin lama semakin menimbun.

Hal tersebut mendorong dosen dan mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jakarta (HMD Biologi FMIPA UI) melakukan program edukasi mengenai sampah kepada anak-anak.

Kegiatan bertema Anak Kreatif Kelola Sampah (Akrelosa) merupakan bagian dari pengabdian masyarakat. Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA) ini tim UI lakukan di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan.

Sebanyak 11 orang turun ke lapangan melakukan program Akrelosa. Direktorat Kemahasiswaan Universitas Jakarta dan Yayasan Pandu Cendekia membantu pendanaan kegiatan ini.

Anak Belajar Pilah dan Kelola Sampah

Akrelosa merupakan program edukasi anak-anak untuk melatih kepekaan terhadap lingkungan dan sampah di sekitarnya. Akrelosa fokus mengajarkan cara mengelola dan memilah sampah. Selain itu juga menanamkan pemahaman bahwa sampah dapat anak-anak berdayakan menjadi sesuatu yang bermanfaat, tidak hanya dibuang.

“Menurut saya acara yang mahasiswa UI selenggarakan ini bagus, karena dapat menambah wawasan anak-anak mengenai sampah,” kata Kepala Sekolah SAAJA Kristina Iin Dwiyanti lewat keterangan resmi FMIPA UI, baru-baru ini.

Ia berharap melalui program Akrelosa, anak-anak memiliki bekal dalam mengelola sampah. Lewat pelatihan yang tim berikan, anak-anak dapat mendaur ulang sampah sehingga membantu perekonomian keluarganya.

Dalam kegiatan tersebut, Tim FMIPA UI menyampaikan materi di hadapan 12 orang siswa SAAJA. Mereka mengajarkan tentang cara memilah sampah dan memanfaatkannya, mengelolanya, juga mengedukasi tentang dampak sampah terhadap makhluk hidup lainnya, seperti organisme yang ada di perairan sungai dan laut.

Kelola Barang Bekas Menjadi Bermanfaat

Selain itu, tim juga melakukan permainan edukatif yang dapat menguji pengetahuan anak-anak mengenai jenis sampah. Lalu ada pula praktik pengelolaan sampah plastik bekas yang mengubah plastik bekas menjadi barang yang bermanfaat.

Permainan terdiri atas ular tangga dengan kuis pengetahuan umum mengenai sampah untuk menguji pengetahuan anak-anak mengenai jenis sampah. Dalam permainan anak-anak juga dapat pengetahuan cara menyelamatkan hewan laut dari sampah dengan mengeluarkan sampah dari mulut hiu yang bertujuan untuk mengedukasi dampak sampah di laut.

Menariknya lagi ada kuis mengenai pemilahan sampah. Lalu membuat limbah plastik bekas menjadi barang yang memiliki nilai fungsi dan estetika seperti tempat pensil dan hiasan bunga.

Pada hari kedua, sejumlah 11 siswa tim ajak berkunjung ke bank sampah Gesit di Menteng Pulo, Kecamatan Setia Budi, Jakarta Selatan. Para siswa menuju bank sampah Gesit menggunakan angkutan umum bersama dengan tim pengabdian masyarakat UI.

“Harapannya kesadaran para siswa terhadap sampah dan lingkungan sekitar akan meningkat, sehingga membuat mereka lebih peka terhadap lingkungan di sekitar. Mereka akan memahami bahwa sampah dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” papar Kristina.

Penulis : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/sekolah-alternatif-anak-jalanan-untuk-kelola-sampah/feed/ 0
Eco School Nusantara : Kenali Alam Sejak Dini, Berdampak Besar https://www.greeners.co/sosok-komunitas/eco-school-nusantara-kenali-alam-sejak-dini-berdampak-besar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=eco-school-nusantara-kenali-alam-sejak-dini-berdampak-besar https://www.greeners.co/sosok-komunitas/eco-school-nusantara-kenali-alam-sejak-dini-berdampak-besar/#respond Sat, 13 Nov 2021 05:02:09 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=34388 Jakarta (Greeners) – Banyaknya sekolah yang hancur pascagempa bumi di Lombok tahun 2018, menggerakan komunitas Eco School Nusantara bergerak memberikan pendidikan alam dan lingkungan pada anak-anak di Lombok, Nusa Tenggara […]]]>

Jakarta (Greeners) – Banyaknya sekolah yang hancur pascagempa bumi di Lombok tahun 2018, menggerakan komunitas Eco School Nusantara bergerak memberikan pendidikan alam dan lingkungan pada anak-anak di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Eco School Nusantara merupakan pusat belajar bagi masyarakat khususnya untuk anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah terkait lingkungan. Saat ini komunitas ini baru aktif bergerak di wilayah Lombok.

Eco School Nusantara merupakan inisiasi dari Lombok Eco International Connection dan Nusa Genggara for Nusantara. Komunitas ini secara resmi berdiri sejak akhir tahun 2020.

Koordinator Program Eco School Nusantara Eliyan Umamy mengatakan, berdirinya komunitas ini bermula dari melihat banyaknya sekolah yang rusak dan hancur akibat terjadinya gempa bumi di Lombok pada tahun 2018 silam. Sehingga banyak sekolah darurat didirikan. Mereka pun menginisiasi ide mendirikan sekolah informal untuk kepedulian lingkungan.

“Awalnya, pasca gempa Lombok ada banyak sekolah yang roboh bahkan hancur hampir di semua bagian wilayah Lombok. Sehingga banyak didirikan sekolah darurat, sampai akhirnya berpikir bahwa ini menjadi momen untuk membuat sebuah tempat belajar yang menyenangkan bagi anak-anak maka lahirlah konsep eco school ini,” kata Eliyan dalam Kupas Komunitas virtual bersama Greeners, di Jakarta, Jumat (12/11).

Eliyan menyebut Lombok sebagai pulau kecil memiliki sensitivitas tinggi dan sangat bergantung pada alam. Oleh sebab itu, apabila terjadi gesekan akan memberikan dampak signifikan bagi Lombok itu sendiri. Eco School Nusantara hadir untuk mengajak generasi muda agar peduli dan berkeinginan untuk menjaga lingkungannya.

Eco School Ajak Anak Peduli Lingkungan Sejak Dini

Eliyan menambahkan, kegiatan Eco School Nusantara berlangsung sore hari. Peserta yang mengikuti kegiatan tersebut merupakan siswa dan siswi yang tinggal di sekitar desa Sengkol, Lombok Tengah.

“Di luar kelas yang biasa dilakukan setiap sore, kita juga ada kelas lingkungan yang memang khusus. Lihat kebunku, namanya. Kita punya kebun kecil di halaman, kita melibatkan adik-adik untuk membantu melakukan penyemaian, penanaman dan lain sebagainya. Termasuk sosialisasi tentang sampah agar membuang sampah pada tempatnya,” paparnya.

Eco School Nusantara telah sukses melaksanakan program tahap pertama pada Januari hingga Juli 2021. Pada tahap kedua ini berlangsung sejak September dan akan berakhir pada Desember 2021 dengan total 100 peserta dan 20 mentor.

Peserta yang hadir juga beragam mulai dari siswa Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan juga Sekolah Menengah Atas (SMA). Setelah peserta selesai mengikuti program di Eco School Nusantara ini, maka peserta akan memperoleh sertifikat.

“Pasti menarik apabila adik-adik dapat sesuatu. Maka kita buat sertifikat untuk peserta di akhir. Sebenarnya yang kita nilai kerajinan dan keseruan, bukan soal hasil. Tetapi peserta hadir setiap hari dan merasa senang itu yang kami apresiasi. Kami juga tidak mengukur dari segi kemampuan karena itu sangat beragam,” tutur Eliyan.

Generasi Muda Jadi Support System di Daerahnya

Usai mengikuti program di Eco School Nusantara ini, Eliyan melihat bahwa para peserta telah menunjukkan perubahan meskipun belum signifikan. Menurutnya, para peserta mulai saling mengingatkan satu sama lain untuk peduli terhadap lingkungan seperti membuang sampah pada tempat yang sudah tersedia.

“Perkembangan yang saya lihat adalah mereka sudah bisa mengingatkan satu sama lain seperti jangan membuang sampah yang bukan pada tempatnya. Mereka juga sudah tahu bahwa ada sampah organik dan anorganik yang harus dibuang terpisah, itu sudah menjadi hal yang luar biasa bagi kami,” ujar Eliyan.

Eliyan juga menegaskan bahwa apa yang Eco School Nusantara lakukan ini akan memberikan dampak positif ke depannya khususnya bagi generasi muda. Menurutnya generasi muda ini yang nanti akan support system bagi daerahnya masing-masing.

“Kita harus menjadi support system untuk daerah kita sendiri. Sekecil apapun yang kita tanam hari ini pasti akan ada dampaknya, kami percaya itu. Inilah saatnya untuk membangun support system tersebut. Sehingga nanti pada titik tertentu adik-adik ini yang akan menjadi pemimpin di daerahnya,” ungkapnya.

Penulis : Fitri Annisa

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/eco-school-nusantara-kenali-alam-sejak-dini-berdampak-besar/feed/ 0
Tasya Kamila: Tidak Ada Alasan untuk Bilang ‘Gak Tau’ https://www.greeners.co/gaya-hidup/tasya-kamila-tidak-ada-alasan-untuk-bilang-gak-tau/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tasya-kamila-tidak-ada-alasan-untuk-bilang-gak-tau https://www.greeners.co/gaya-hidup/tasya-kamila-tidak-ada-alasan-untuk-bilang-gak-tau/#respond Sat, 03 Oct 2020 12:16:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=29049 Sejak didaulat menjadi Duta Lingkungan Hidup oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2005, Tasya Kamila mengaku mendapat pengetahuan baru dalam mempelajari isu yang berhubungan dengan lingkungan. Dia pun dengan senang hati memanfaatkan platformnya untuk menyuarakan hal positif dan menyelamatkan lingkungan.]]>

Jakarta (Greeners) – Sejak didaulat menjadi Duta Lingkungan Hidup oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2005, Tasya Kamila mengaku mendapat pengetahuan baru dalam mempelajari isu yang berhubungan dengan lingkungan. Dia pun dengan senang hati memanfaatkan platformnya untuk menyuarakan hal positif dan menyelamatkan lingkungan.

“Itulah pertama kalinya saya terlibat dalam kegiatan yang terkait dengan lingkungan” ujarnya pada konferensi pers peluncuran Dropbox Sampah Kemasan untuk Mendukung Terwujudnya Indonesia Bebas Sampah (22/09/20).

Tasya juga mengingatkan betapa mudahnya menumbuhkan kebiasaan untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Dia menyebut praktik 3R, reuse, reduce, recycle, sebagai contoh.

“Jangan mubazir. Beli lah produk sesuai kebutuhan. Kemudian, beralih dari produk yang menggunakan packaging plastik. Hindari penggunaan plastik sekali pakai,” tutur Tasya.

Baca juga: Nadine Chandrawinata: Temukan Berbagai Cara Kurangi Jejak Karbon

Tasya Kamila: Berbelanja adalah Investasi

Tasya menyebut belanja produk sebagai investasi. Dia mengimbau masyarakat untuk membeli barang yang dapat digunakan ulang seperti botol minum, sedotan stainless steel, dan kotak makan.

Selain mengurangi penggunaan produk sekali pakai, Tasya pun mengingatkan betapa krusialnya memilah dan mengolah sampah organik dan anorganik. Selain membatasi pembelian produk anorganik, lakukan daur ulang sebisa mungkin. Sementara itu, lanjutnya, sampah organik dapat direduksi secara alami oleh tanah maupun dijadikan kompos.

“Jadi tidak ada alasan buat temen-temen untuk bilang ‘gak tau’. Teman-teman harus memulainya dari sekarang. Komitmen sesuai kemampuan diri masing-masing. Langkah kecil apa yang ingin dilakukan?” ujar Tasya.

Tasya Kamila: Tidak Ada Alasan untuk Bilang ‘Ga Tau’

Tasya Kamila: Semoga kita dapat mewariskan bumi kita dengan berbagai keindahan. (Foto: Instagram Tasya Kamila).

Baca juga: Nirina Zubir: Bersepeda Itu Sempurna

Memulai langkah kecil untuk peduli pada lingkungan, lanjutnya, bila dilakukan secara kolektif akan berdampak besar dalam mengurangi timbulan sampah di Indonesia.

“Sehingga dengan cara seperti itu, kita dapat mewariskan bumi kita ke anak cucu kita dengan berbagai keindahan serta kelestarian di dalamnya. Salah satu langkah yang bisa kita lakukan adalah dengan mengelola sampah kita,” lanjutnya.

Tasya berharap semakin banyak anak muda yang sadar akan pentingnya pengelolaan sampah. Dia mengimbau anak muda mengikuti program yang fokus terhadap isu lingkungan yang tengah berkembang di dunia.

Penulis : Ridho Pambudi

Editor: Ixora Devi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/tasya-kamila-tidak-ada-alasan-untuk-bilang-gak-tau/feed/ 0
Kampanye Ramadan Bersih Sampah, KLHK Edukasi Masyarakat di Rest Area Cibubur https://www.greeners.co/berita/kampanye-ramadan-bersih-sampah-klhk-edukasi-masyarakat-di-rest-area-cibubur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kampanye-ramadan-bersih-sampah-klhk-edukasi-masyarakat-di-rest-area-cibubur https://www.greeners.co/berita/kampanye-ramadan-bersih-sampah-klhk-edukasi-masyarakat-di-rest-area-cibubur/#respond Sat, 18 May 2019 12:37:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=23363 Untuk mendorong masyarakat mudik tanpa sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyelenggarakan kampanye Ramadan Bersih Sampah di beberapa lokasi, salah satunya di rest area tol Jagorawi KM 10, Cibubur.]]>

Jakarta (Greeners) – Untuk mendorong masyarakat mudik tanpa sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyelenggarakan kampanye Ramadan Bersih Sampah di beberapa lokasi, salah satunya di rest area tol Jagorawi KM 10, Cibubur. Pada kesempatan tersebut, dengan mengajak anak-anak sekolah, KLHK mengedukasi pengunjung rest area untuk mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai.

Direktur Pengelolaan Sampah KLHK, Novrizal Tahar mengatakan bahwa ada dua hal besar yang akan dilakukan KLHK pada kampanye Ramadan Bersih Sampah. Pertama, melakukan edukasi, sosialisasi, dan kampanye ke publik secara langsung. Kedua, melakukan rapat koordinasi dengan stakeholder dalam hal ini Jasa Marga dan Kementerian Perhubungan untuk merealisasikan kampanye Ramadan Bersih Sampah ini.

“Untuk edukasi, kemarin kami sudah meluncurkan film animasi, lalu kami juga melakukan sosialisasi ke Pasar Cibubur, Bendungan Hilir, dan pasar modern hingga terminal. Di rest area Cibubur ini kami juga melibatkan anak-anak sekolah untuk melakukan edukasi kepada pengunjung,” ujar Novrizal saat dihubungi Greeners melalui telepon, Sabtu (18/05/2019).

BACA JUGA: Edukasi Bersih Sampah, KLHK Luncurkan Film Animasi Pulau Akko 

Sebanyak 60 murid dan 15 guru dari 7 sekolah dengan predikat adiwiyata nasional melakukan kampanye di kawasan rest area Cibubur. Para pelajar berinteraksi dengan para pengunjung rest area, menukar kantong plastik yang masih digunakan masyarakat dan menggantinya dengan tas guna ulang ramah lingkungan serta membagikan tempat minum.

Dilansir dari siaran pers PPID KLHK, sejumlah pengunjung masih kedapatan menggunakan kantong plastik sekali pakai. “Saya sering lupa untuk membawa tas belanja sendiri dan menggunakan kantong plastik yang disediakan oleh supermarket karena praktis. Saya berterima kasih melalui kampanye KLHK ini apalagi ada anak-anak sekolah yang mengingatkan untuk membiasakan budaya ramah lingkungan,” ungkap salah satu pengunjung rest area.

Chelsea, salah satu murid kelas 5 SDN Ciracas 06, membagikan tips kepada para pengunjung rest area yang dijumpainya. “Dengan menggunakan tas guna ulang maupun menggunakan tumbler, kita bisa mengurangi sampah sehingga lingkungan semakin bersih,” ujarnya.

BACA JUGA: Jelang Ramadhan, Pemerintah Ajak Masyarakat “Mudik Tanpa Sampah” 

Novrizal kembali mengingatkan bahwa Ramadan Bersih Sampah bertujuan mendorong masyarakat untuk tidak menghasilkan sampah plastik.

“Kami juga sudah melakukan rapat koordinasi dengan Jasa Marga dan perhubungan darat dan laut untuk memperhatikan, menjaga, dan menjalankan mudik tanpa sampah plastik. Selain itu, nanti kami buat surat edaran secara struktural yang kita siapkan ke daerah-daerah untuk membantu bergerak menjalankan mudik tanpa sampah plastik,” ujarnya.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/kampanye-ramadan-bersih-sampah-klhk-edukasi-masyarakat-di-rest-area-cibubur/feed/ 0
Edukasi Bersih Sampah, KLHK Luncurkan Film Animasi Pulau Akko https://www.greeners.co/berita/edukasi-bersih-sampah-klhk-luncurkan-film-animasi-pulau-akko/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=edukasi-bersih-sampah-klhk-luncurkan-film-animasi-pulau-akko https://www.greeners.co/berita/edukasi-bersih-sampah-klhk-luncurkan-film-animasi-pulau-akko/#respond Sun, 12 May 2019 05:47:26 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=23307 Sebagai bagian dari Kampanye Ramadhan Bersih Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meluncurkan film animasi berjudul Pulau Akko. Film ini untuk mengedukasi dan mendorong kepedulian anak-anak terhadap sampah.]]>

Jakarta (Greeners) – Sebagai bagian dari Kampanye Ramadhan Bersih Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meluncurkan film animasi berjudul Pulau Akko. Film ini untuk mengedukasi dan mendorong kepedulian anak-anak terhadap sampah. Dalam setiap episodenya akan diceritakan bagaimana para maskot yakni Akko, Atlas, Lola, Qiyu, dan Monang berinteraksi dalam setiap perilaku kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan pola hidup bersih sampah.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya KLHK Rosa Vivien Ratnawati mengatakan kampanye ini menyasar anak-anak usia dini sebagai bagian dari aksi untuk menjaga pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan menjamin kehidupan di masa datang yang bersih dari sampah serta lingkungan yang sehat dan bernilai. Film animasi Pulau Akko diharapkan dapat memberikan edukasi dengan bahasa yang mudah dicerna kepada anak-anak tentang bahaya sampah plastik dan cara untuk menguranginya.

“Sebagai awal, pada hari ini memang yang kami ajak adalah komunitas anak-anak sekaligus hari ini peluncuran animasi Pulau Akko. Intinya adalah kita mau mengajak anak-anak untuk paham terhadap bagaimana mengolah sampah dengan baik,” ujar Vivien saat acara peluncuran yang berlangsung di Arboretum Lukito Daryadi Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Jumat (10/05/2019).

BACA JUGA: Gerakan Indonesia Bersih Diluncurkan, Luhut: Saatnya Kampanye Peduli Sampah! 

Peluncuran film Pulau Akko dihadiri ratusan anak-anak sekolah. Dalam acara ini, Vivien menyampaikan tentang bahaya sampah plastik bagi lingkungan serta mengajak untuk membawa tumbler ketika bersekolah.

“Ayo mengurangi timbulnya sampah. Lebih baik bawa piring dan botol minum sendiri, sebab yang namanya plastik tidak bisa terurai di alam dan butuh waktu ratusan tahun. Dari sedotan saja dalam sehari Indonesia menghasilkan 93 juta sampah sedotan plastik yang jika terbuang ke alam sangat membahayakan lingkungan,” katanya.

film animasi pulau akko

Lima maskot dalam film Pulau Akko yakni Akko, Atlas, Lola, Qiyu, dan Monang. Foto: greeners.co/Dewi Purningsih

Film animasi Pulau Akko menampilkan lima karakter berdasarkan hewan-hewan unik di Indonesia. Kelima karakter ini mempromosikan perilaku bersih sampah Indonesia dengan konsep visual paper folding atau biasa disebut Paper Toy. Film yang dibuat berseri ini akan ditayangkan melalui media daring mulai awal Juni 2019.

“Kami percaya bahwa pengelolaan sampah yang baik salah satunya adalah melalui aspek edukasi sehingga dalam acara-acara seperti ini kami memberikan edukasi dan wawasan kepada seluruh pihak agar mengelola sampah dengan baik,” ujar Vivien.

BACA JUGA: Jelang Ramadhan, Pemerintah Ajak Masyarakat “Mudik Tanpa Sampah” 

Vivien juga mengatakan bahwa saat ini KLHK terus mendorong asosiasi untuk kemasan dan daur ulang bagi lingkungan (PRAISE) dan pelaku industri makanan kemasan agar berkomitmen untuk mendesain ulang dan mengganti kemasan produk mereka agar tidak mencemari lingkungan.

Selain meluncurkan film animasi Pulau Akko, kampanye Ramadhan Bersih Sampah juga akan melakukan kegiatan lainnnya, seperti membagikan pesan di pasar modern agar pengunjung berbelanja menggunakan kantong belanja berulang, menempatkan drop box sampah terpilah di beberapa tempat, dan mengadakan program mudik tanpa sampah bekerjasama dengan Jasa Marga.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/edukasi-bersih-sampah-klhk-luncurkan-film-animasi-pulau-akko/feed/ 0
KLHK Patroli Sampah di Jalur Mudik https://www.greeners.co/berita/klhk-patroli-sampah-di-jalur-mudik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=klhk-patroli-sampah-di-jalur-mudik https://www.greeners.co/berita/klhk-patroli-sampah-di-jalur-mudik/#respond Tue, 19 Jun 2018 07:44:37 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=20746 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus berupaya melakukan edukasi agar pemudik bersikap ramah lingkungan terutama kepada pemudik yang menggunakan jalur darat.]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus berupaya melakukan edukasi agar pemudik bersikap ramah lingkungan terutama kepada pemudik yang menggunakan jalur darat. Edukasi tersebut melibatkan Pemda, Jasa Marga, dan Polres dengan melakukan patroli sampah di sepanjang jalur mudik.

“Tujuan edukasi mengajak masyarakat ikut mengelola sampah secara benar. Polanya tim KLHK bersama tim Jasa Marga/Jasa Marga properti, serta tim Dinas LH bersama-sama dalam patroli di jalur mudik,” ungkap Menteri LHK, Siti Nurbaya, Selasa (19/6/2018).

Ia telah menugaskan Direktur Jenderal Pengolahan Sampah Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK, Rosa Vivien Ratnawati, untuk mengawal langsung kegiatan ini di lapangan. Rapat dengan Polres, Dinas LH dan Jasa Marga juga dilaksanakan. Beberapa catatan telah diberikan setelah Menteri Siti langsung melakukan peninjauan ke beberapa rest area jalan tol Jakarta-Cikampek pada H-2 Idul Fitri lalu.

“Koordinasi terus dilakukan Dirjen dan Direktur. Patroli sampah bersama akan dilaksanakan pada tempat-tempat rest area dan juga sepanjang jalan tol pada lokasi-lokasi spontan tempat masyarakat berhenti dan istirahat,” kata Siti Nurbaya.

Pola ini nantinya akan dilakukan secara konsisten dengan harapan perlahan bisa membentuk budaya bersih di kalangan masyarakat. Terlebih lagi pemerintah butuh dukungan serius untuk mewujudkan target ambisius Indonesia Bebas Sampah 2020.

BACA JUGA: 25 Juta Pemudik akan Pulang ke Kampung Halaman

Siti juga menyatakan bahwa kesadaran dan upaya 3R (reduce, reuse, recycle atau pengurangan, guna ulang, dan daur ulang) patut ditingkatkan di masyarakat. Hal ini penting agar untuk merefleksikan bahwa masyarakat Indonesia bisa punya budaya yang lebih baik, budaya bersih dan sehat.

Di sisi lain, saat ini komposisi sampah plastik di Indonesia sekitar 16 persen dari total timbulan sampah secara nasional. Sementara komposisi sampah plastik di kota-kota besar seperti Jakarta sekitar 17 persen. Sumber utama sampah plastik berasal dari kemasan makanan dan minuman, kemasan consumer goods, kantong belanja, serta pembungkus barang lainnya.

“Pemerintah tidak bisa sendirian mengatasi sampah. Kita semua harus bergerak bersama. Saya sangat bersyukur sekarang sudah muncul banyak inisiatif dan kreatifitas Pemda serta komunitas masyarakat dalam mengatasi sampah,” ujar Siti.

BACA JUGA: KLHK Ajak Masyarakat ‘Mudik Asyik Tanpa Kantong Plastik’

Siti juga mengatakan bahwa ia telah meminta Kementerian Perhubungan, Kementerian PUPR dan Kementerian BUMN untuk memasukkan parameter pengendalian sampah di tempat-tempat tertentu. Datanya akan diambil dan dianalisis bersama untuk menetapkan kebijakan yang tepat agar masyarakat semakin mendukung perubahan perilaku mengurangi penggunaan plastik.

Sosialisasi juga terus dilakukan dengan cara mengajak masyarakat memakai peralatan makan dan minum yang dapat dipakai ulang, menghindari pemakaian wadah plastik sekali pakai seperti kantong plastik, juga membatasi mengonsumsi makanan dan minuman berkemasan plastik.

Siti Nurbaya menegaskan bahwa KLHK akan terus memperkuat regulasi terkait pengelolaan sampah plastik. Seperti pengurangan kantong belanja plastik di sektor ritel, Peta Jalan (Road Map) pengurangan sampah oleh produsen dan pelaku usaha, serta rencana aksi terpadu penanganan sampah plastik di laut.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/klhk-patroli-sampah-di-jalur-mudik/feed/ 0
2.000 Pelajar Kota Bandung Ikuti Edukasi Pengelolaan Sampah https://www.greeners.co/aksi/2-000-pelajar-kota-bandung-ikuti-edukasi-pengelolaan-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=2-000-pelajar-kota-bandung-ikuti-edukasi-pengelolaan-sampah https://www.greeners.co/aksi/2-000-pelajar-kota-bandung-ikuti-edukasi-pengelolaan-sampah/#respond Mon, 22 Jan 2018 05:52:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=19863 Dalam rangkaian peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2018 yang mengambil tema “Sayangi Bumi, Bersihkan dari Sampah,” KLHK memberikan edukasi pengelolaan sampah kepada sekitar 2.000 pelajar sekolah di kota Bandung. ]]>

Bandung (Greeners) – Dalam rangkaian peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2018 yang mengambil tema “Sayangi Bumi, Bersihkan dari Sampah,” Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memberikan edukasi pengelolaan sampah kepada sekitar 2.000 pelajar sekolah di kota Bandung. Kegiatan edukasi ini bekerjasama dengan Pemerintah Kota Bandung yang dilaksanakan pada Minggu (21/01), di Plaza Balaikota Bandung.

Kegiatan yang bertajuk “Gembira Bersama Kelola Sampah Menuju Hidup Bersih dan dan Sehat” ini dihadiri ribuan pelajar sekolah yang berasal dari 10 Sekolah Adiwiyata Nasional, perwakilan Pramuka dari 73 Gugus SD, 58 Gugus Pramuka SMP, dan berbagai komunitas pecinta lingkungan di wilayah Bandung Raya.

“Acara ini bertujuan untuk meningkatkan peran aktif anak-anak dan membangun peran generasi muda untuk lingkungan,” ungkap Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati. Rosa berharap dengan dilakukan edukasi yang intensif, kesadaran dalam diri anak-anak untuk bertanggung jawab terhadap sampah dapat ditumbuhkan sejak dini.

Selain edukasi pengelolaan sampah, acara ini diisi dengan kegiatan diskusi antara peserta acara dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya yang dilanjutkan dengan tanya jawab berhadiah sepeda listrik. Total enam buah sepeda listrik dihadiahkan kepada pelajar SD, SMP, dan SMA yang berhasil menjawab pertanyaan yang diajukan oleh KLHK dan Pemkot Bandung. Acara diakhiri dengan penandatanganan Deklarasi Anak Indonesia Bersih dan Sehat oleh KLHK, Pemerintah Kota Bandung, dan seluruh pelajar yang hadir dalam acara tersebut.

Peran serta masyarakat menjadi kunci

Sejalan dengan Kebijakan Strategis Nasional Pengelolaan Sampah (Jaksastranas Pengelolaan Sampah) yang ditetapkan melalui Perpres nomor 97 tahun 2017 dengan target pengurangan sampah hingga 30% pada tahun 2025, Siti menegaskan perlu sinergi dari seluruh pihak yang terkait.

Salah satu strategi yang dikembangkan adalah konversi sampah menjadi energi. Hal ini tertuang pada Perpres nomor 18 tahun 2016 dan sedang dibahas kembali setelah diusulkannya judicial review oleh Koalisi Nasional Tolak Bakar Sampah pada 16 Januari 2017 lalu.

“Pada judicial review yang dipersoalkan teknologi, maka nanti pada perbaikan akan diakomodasi teknologi ramah lingkungan sehingga (konversi sampah menjadi energi) tidak lagi dipersoalkan,” terang Siti.

Selain itu diperlukan penguatan kelembagaan melalui koordinasi lintas sektoral untuk bisa menjalankan pengelolaan persampahan yang lebih efektif. Direncanakan pada bulan Februari mendatang akan diadakan rapat koordinasi untuk membahas pembagian peran di internal pemerintah.

“Yang paling penting adalah sikap pemerintah untuk mendorong dinamika masyarakat sehingga ada perubahan perilaku terhadap sampah,” jelas Siti.

Ia juga optimis melihat perkembangan yang sangat baik dari peran serta masyarakat. Berdasarkan pantauannya, jumlah kolaborator yang tercatat pada tahun 2017 terkait persampahan meningkat hingga 9800 kolaborator. Jumlah ini jauh meningkat dari tahun 2015 yang hanya 65 kolaborator.

Siti mengakui bahwa penegakan hukum belum berjalan dengan baik. Oleh karena itu, fokus utama saat ini adalah mendorong untuk munculnya kesadaran sosial lewat gerakan-gerakan masyarakat sehingga timbul rasa malu ketika membuang sampah sembarangan.

Penulis: Gede Surya Marteda

]]>
https://www.greeners.co/aksi/2-000-pelajar-kota-bandung-ikuti-edukasi-pengelolaan-sampah/feed/ 0