Kotak Geram dengan Perdagangan Satwa Liar

Reading time: 2 menit
Personel band KOTAK, Tantri Syalindri Ichlasari (vokal) dan Mario Marcella (gitar). Foto: greeners.co/Teuku Wildan

Jakarta (Greeners) – Membahas satwa liar, membutuhkan lebih dari sekadar perhatian untuk melindungi berbagai satwa ini dari kepunahan. Status “dilindungi” ternyata tidak serta merta membuat banyak pihak melindungi hewan-hewan ini. Dengan pesatnya perkembangan teknologi, perdagangan satwa liar justru semakin jamak dan terbuka.

Maraknya perdagangan satwa liar di media sosial juga menjadi perhatian para personel band rock Kotak. Ditemui Greeners di sela-sela acara sebuah stasiun televisi swasta, band yang digawangi oleh Tantri Syalindri Ichlasari (vokal), Swasti Sabdastantri (basis), dan Mario Marcella (gitar) sepakat bahwa perdagangan satwa liar dan dilindungi adalah hal yang tidak pantas dan menyalahi aturan.

Diwakili oleh Tantri, Kotak menyayangkan perkembangan teknologi yang disalahgunakan oleh beberapa pihak untuk memperdagangkan satwa-satwa liar yang seharusnya dilindungi. Tantri sendiri mengaku pernah melihat adanya postingan di media sosial yang menjual bayi harimau.

“Makin mudahnya orang-orang di media sosial untuk berinteraksi jadi membuat makin merajalela hal-hal seperti itu (perdagangan satwa liar), kan itu penyalahgunaan,” ucap Tantri kepada Greeners pada Sabtu (10/10) malam lalu di Jakarta.
Tantri juga bercerita bahwa dirinya pernah melihat langsung beberapa satwa dilindungi yang justru diperdagangkan di pinggiran jalan Jakarta. Tantri yang juga memelihara anjing di rumahnya ini pun mengaku geram dengan keadaan tersebut.

“Waktu itu pernah lihat kukang dijual, kesal saja kalau harusnya dilindungi tapi malah dijual,” ujar perempuan yang bergabung dengan Kotak sejak tahun 2008 ini.

Tantri pun berharap pada semua pihak untuk lebih memperhatikan masalah pelestarian satwa liar ini. Menurut Tantri, tidak sedikit hewan yang didatangkan ke Pulau Jawa harus dibius terlebih dulu sebelum proses pengiriman.

“Kayak burung cendrawasih dari timur. Dia (burung cendrawasih, Red.) katanya harus dibius selama berhari-hari waktu dikirim ke Jakarta. Itu kan kasihan burungnya,” ujarnya.

Tantri bersama rekan-rekannya di Kotak berharap pemerintah menunjukan perannya dalam menangani perdagangan satwa liar yang seharusnya dilindungi. Sebagai pecinta hewan, ia ingin pemerintah lebih fokus dan serius dalam menangani perdagangan satwa liar. “Pemerintah harusnya bentuk badan apa lah gitu untuk mengurus masalah ini,” tutupnya.

Penulis: TW/G37

Top
You cannot copy content of this page